7 Kurcaci

09.44

Tulisan ini saya buat ketika saya sedang merindukan sahabat 7 Kurcaci saya. 

Good Friends are like stars. We can’t always see them, but it still there to brightened our sky.


Saya bertemu dengan para wanita edan yang nantinya akan menjadi personel 7 Kurcaci pada pertengahan tahun 2001. Yup mereka adalah teman-teman kuliah saya di jurusan Sastra Indonesia UPI Bandung.

Kami adalah 7 wanita perantau yang meninggalkan hangatnya tempat tidur di rumah, enaknya masakan mamah ataupun asiknya kucuran duit papah, itu semua semata-mata kami lakukan demi menuntut ilmu (ceileeeh ..) di Flower City Bandung tercinta. Sebagai sesama anak kos kami selalu berbagi. Berbagi kebahagiaan, berbagi kesedihan, berbagi makanan tapi tidak berbagi duit karena sama-sama minim hehhee.


Tanggal resmi 7 Kurcaci dibentuk, terus terang saya sendiri tidak tahu, yang jelas keakraban dan kegeloan kami makin menjadi semenjak kami berkelompok untuk mengerjakan tugas mata kuliah Apresiasi Sastra. Kami diminta untuk membuat pementasan. Akhirnya kami membuat drama komedi yang menurut penganut mazhab sastra serius pasti pementasan yang kami suguhkan tidak akan diakui sastra jenis ataupun genre apapun, namun bagi kami penganut sastra kontemporer yaa .. asyik-asyik aja.

Karena pementasan kami sukses (menurut kami sendiri ehhehe) kami pun berniat merayakannya dengan piknik-piknik. Akhirnya setelah banyak perundingan, kami memutuskan untuk pergi ke Maribaya yang memang tidak jauh dari kos kami semua.

Meeting point ditentukan di kosan saya yang letaknya terdekat dari teminal Ledeng. Akhirnya satu persatu berdatangan.  Pada waktu itu belum ada kamera digital, Hida pun mendonorkan diri untuk membawa kamera manual untuk dokumentasi. Untuk konsumsi, kami pun patungan. Uang patungan tersebut pun akan dipakai untuk ongkos dan tiket masuk. Maklum, sebagai anak kos, kami harus irit agar bisa hidup sampai akhir bulan, hidup anak kos!!

Kami pun berangkat menuju Obyek Wisata Maribaya dengan angkot St.Hall-Lembang. Sampai terminal Lembang, kami pun naik angkot serupa Bemo tapi lebih besar yang diberi nama odong-odong menuju Maribaya. Perhatian, sambil naik odong-odong kami pun disuguhi pemandangan indah. Bagaimana tidak, jalur odong-odong ini melewati Sesko AU, Secapa yang pastinya dipenuhi pria-pria berbadan tegap, berperut kotak-kotak dan bergigi rata plus menunggang kuda beuuuhhh sudah kaya pangeran dari negeri impian buat kami pemandangan ini lebih indah daripada landscape gunung Tangkuban Perahu (inilah definisi pemandangan indah dari sudut mata seorang jomblo hahahhahaa)

Sesampainya di Maribaya kami pun harus membeli tiket masuk, karena kami belum punya ilmu menghilang ataupun punya jubah invisible ala Harry Potter sehingga memungkinkan kami untuk bisa nyelonong masuk tanpa dilihat petugas hehhehehe. Begitu memasuki tempat tersebut, jiwa narsis kami bertujuh langsung kumat, memang ada beberapa spot foto disini yang cukup ciamik. Jeprat sana jepret sini, walaupun masih ingin bergaya, namun jeritan anak naga dalam perut tak bisa dikendalikan lagi. Kami pun mencari shelter untuk makan siang dengan bekal yang dibawa.
tiket masuk Maribaya

foto-foto di air terjun


Selesai makan siang, kami pun melanjutkan berkeliling dan foto-foto pastinya. Setelah tiba di bagian ujung, kami masuk area terlarang dan berubah menjadi batu ehhehehe bukan, kami masuk ke area selanjutnya yaitu track menuju Air terjun, Gua Belanda dan Gua Jepang (tapi ga ada Gua-Elu end, belom tenar waktu itu mah). Namun menuju obyek wisata yang tadi disebutkan di atas, kami harus membayar lagi. Untungnya hari itu Lia baru saja mendapat kiriman uang, jadi sebagai orang terkaya diantara kami bertujuh hari itu, Lia harus rela meminjamkan uangnya untuk membayar tiket masuk. Alhamdulillah perjalanan lanjut lagi.

Obyek yang pertama kami lihat adalah Air terjun Ciomas. Air terjun ini dapat dilihat jika kita berdiri di atas jembatan goyang. Arusnya deras, namun sayang banyak sampah dan airnya kotor. Sampai-sampai kami pun menciptakan tebak-tebakan “Mengapa air terjun yang di Maribaya ini diberi nama Ciomas?” (hayyyooo apa jawabannya???)

Selanjutnya kami pun berjalan di jalan setapak yang diberi paving block untuk menuju Gua Belanda. Sesampainya disana, kami pun harus memasuki gua tersebut, gua yang dilintasi oleh rel kereta api ini sungguh gelap, suasananya muram, kami pun tak betah berlama-lama disana.
Gua Belanda
Melanjutkan kembali perjalanan menyusuri jalan setapak menuju obyek selanjutnya yaitu Gua Jepang. Gua Jepang ini tidak berada di jalur jalan utama, jadi harus berjalan turun ke kanan. Gua ini lebih menyeramkan lagi dibanding Gua Belanda. Gelap luar biasa, ada beberapa orang yang stay mondar-mandir di depan Gua untuk menyewakan senter. Kami bertujuh berunding sejenak untuk memutuskan mau masuk atau tidak. Selagi kami masih berunding suara abang-abang penyewa senter makin merayu ga jelas, pake iming-iming mau mengantarkan ke dalam Gua, idiih bikin makin merinding. Kami semua sepakat untuk kabur secepatnya dari lokasi Gua Jepang tersebut sebelum abang-abang tersebut berubah menjadi tentara PETA jaman Jepang (Ga mungkin kalee hhhehehe)

Dan perjalanan kami pun berakhir di Dago Pakar. Dua jam lebih kami berjalan kaki menikmati pemandangan, dari excited sampai akhirnya kelelahan. Kami beristirahat sebentar di dekat patung bapak Djuanda yang merupakan pahlawan Nasional, bukan bapak kami bertujuh. Karena kaki sudah minta ampun, kami pun kembali pulang menuju kosan masing-masing

Perjalanan ke Maribaya itu pun akhirnya dicetak dokumentasinya. Wuihhh kami semua Nampak begitu fotogenic dan tentu saja si Edan cah Pekalongan paling juara kalo masalah fotogenic-fotogenican.  Petualangan geng kami pun makin berlanjut dengan hal-hal yang menarik untuk diingat namun sungguh malu-maluin jika dilakukan lagi hehehhee, namanya juga waktu itu kan masih muda. Kata Bang Haji Rhoma Irama juga “Masa muda masa yang berapi-api, yang maunya menang sendiri walau salah tak peduli .. darah muda” tariiikk Maaang …

Sambil mengenang dan menumpahkan rasa rindu di dada saya (ceileeh) saya mau memperkenalkan 7 wanita edan versi On D Spot yang dirangkum menjadi 7 Kurcaci, Cekidot:
7 Kurcaci edisi Ramadhan

1.     Nina Herlina alias JenonK
Dilahirkan persis pada saat pemberontakan G30SPKI mengalami ultah suit sepentin (taun berapa hayooo??) menjadikan si tinggi ini anak paling sulung diantara kami bertujuh. Cewek yang berdomisili di Lubang Buaya ini demen masak, paling oke kalo masak kancing lepis atau ati maung alias jengki ehhehe. Hobi lainnya adalah Fitnes di kamar mandi alias nyuci. Pecinta warna ungu ini sudah resmi menjadi seorang ibu dari seorang anak laki-laki kecil dan terdaftar menjadi anggota Persit kartika Chandra Kirana (untuk yang terakhir ini saya ngiri setengah mati, halaahh curcol).

2.     Yunita Tresnawati alias Nyit-nyit alias si Bongsor
Posisi kedua diduduki saya sendiri karena yah memang harus demikian berdasarkan urutan tanggal lahir. Wanita solehah idaman mertua ini (hohohoho promosi di Blog sendiri) berdomisili di area Halim karena masih nebeng di rumah Ortu dan masih menunggu diculik oleh pangeran berkuda putih hehehhee.

3.     Lufni Fitriyani alias si Cameuh
Jebolan Pesantren ini sedang memupuk bakat menjadi Karyawan multi talented. Jaman kuliah dulu, dia adalah penyanyi dangdut paling jempolan serta atlit voli dan tennis meja yang handal walaupun mainnya tabok sana tabok sini yang penting nyebrang net ahhahahaa

4.     Hidayati Utami alias Dayat
Wanita latah yang selalu bertanya pada orang yang ditemuinya “kamu lumba-lumba ya?” membuat geng kami ceria. Istilahnya ga ada elo ga rame. Obyek Bully yang selalu pasrah kecapean dilatahin ini sekarang juga sudah menjadi seorang ibu.

5.     Irma Rahmanti alias Maerot
Gadis Geulis ini selalu cekekekan kalau dibilang geulis karena geulis disini artinya geungguan listening alias rada bolot hahahhaa. Pernah kalang kabut karena ditanya seorang sastrawan yang menjadi dosen kami (bu Nenden Lilis) “apa kontribusi penelitian lenong anda terhadap dunia sastra?” malangnya tak ada yang bisa membantu menjawab ketika dia kelimpungan, sementara saya sedang berpikir apakah kontribusi itu yang untuk parkir yaa (setelah dipikir-pikir ternyata itu retribusi .. hoooo)

6.     Indri Kurniawati alias Ndro
Si Jutek yang punya banyak fans ini memang cuek dan cool banget. Saat kita sibuk ngeceng cowok-cowok teknik yang .. yaah ga ganteng sih apalagi kaya bosyband namun garang dan cowo banget, dia cuma berkomentar dingin, adeem aja gitu kaya es Goyobod .. tapiii .. malah dia yang laku duluan diantara kita bertujuh neng Indri wong Cilegon inilah yang menoreh prestasi pertama menjadi seorang ibu.

7.     Dian Herni Lidiasari alia Lia Edan
Cah Pekalongan nan gendeng ini paling keren kalo difoto, semua hasil fotonya adalah fitnah hahahhaa. Ni anak emang jadi cakep luar biasa kalo difoto. Paling jago dandan, semua anak 7 kurcaci belajar dandan dari dia. Sangat setia, terbukti dengan tidak pernah pindah kosan, bertahun-tahun ngedekem aja disitu ehhehhee

Cita-cita kami bertujuh suatu saat kami bisa berkumpul kembali, mungkin jadi ber-21 dengan anak dan suami kami atau bahkan lebih. Yang jelas doa kami agar persahabatan ini abadi, amiiin …

You Might Also Like

2 comments

  1. hahahahahha....masih inget aja..keren2 nyit...yang belom nikah tinggal gw doank ma lo...mudah2an qt cepet dapat jodoh...amieenn.

    BalasHapus
  2. hahahhaha aminn .. amiinn .. nantikan cerita selanjutnya

    BalasHapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images