Heyho Satrasia 2001

15.18

Menikmati jus buah sore-sore sambil menonton berita yang sedang hangat memberitakan tentang Pilkada di DKI Jakarta, tiba-tiba fokus saya beralih ke running text yang membahas tentang pengumuman SNMPTN.



SNMPTN adalah Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (itu bukan ya artinya?? Jaman saya dulu namanya UMPTN, ketauan kan angkatan Jadul). Ingatan saya melayang ke tahun 2001 (alamaaak sudah 11 tahun lalu) dimana saya juga sedang berdebar-debar menunggu pengumuman UMPTN, yang pada saat itu hanya dimuat di Koran, tidak di tv juga tidak di internet.

Saya sungguh-sungguh berharap bisa lulus UMPTN. Karena selain merupakan prestise, kelulusan tersebut merupakan penentu hidup saya, karena ibu saya sudah mengancam jauh-jauh hari “Kalau ga bisa lulus UMPTN, kamu ga kuliah ya, kita ga ada uang buat kuliahin kamu di swasta” hadoooh saya pun banting setir memilih jurusan yang tidak terlalu ramai peminatnya, tidak terbayang kalau saya tidak kuliah masa iya saya jadi pegawai pabrik? Jadi SPG ga ketampangan, mana ada SPG segendut saya.

Untungnyaa .. nama saya tercetak mungil, imut-imut di koran dengan kode jurusan 246046 .. yup Sastra Indonesia UPI Bandung, saya gagal masuk UI yang merupakan pilihan utama saya. Tapi ga apa-apa, justru di dalam hati yang paling dalam (ceiileehh ..) saya memang ingin kuliah di luar kota. Saya pun menyiapkan diri untuk daftar ulang ke Bandung

Singkat cerita, saya sudah mulai mengikuti kegiatan di kampus. Baik acara Ospek yang konyol dan agak horror karena saya masih merasakan beberapa “sentuhan” fisik dari senior. Dan pada 1 september 2001 perkuliahan pun dimulai.

Angkatan saya dibagi menjadi 2 kelas. Saya ditempatkan di kelas B, dan sungguh bersyukur bukan buatan karena kelas B isinya makhluk-makhluk geblek, edan, gendeng bin caur abis. Kocak aja gitu, koq ya jurusan bisa menempatkan kami yang sableng ini di satu kelas, sungguh berbeda dengan kelas A yang hampir separuh isinya mahasiswa serius, para pemuda dan pemudi harapan Bangsa yang digadang-gadang nantinya pas lulus bakal cum laude (yah walaupun ada beberapa gelintir yang caur, mungkin versi KW nya hehehee).

Entah bagaimana ceritanya, saya didaulat menjadi ketua kelas hahahaha makin caur saja kelas saya buat. Namun kami adalah 20-an manusia unik, hobi ngikik, suka dikelitik dan doyan piknik sambil duduk di atas dingklik ehhehehe. Acara pertama yang kami buat adalah babakaran (versi sunda dari kata barbeque-an) untuk merayakan terlewatinya UAS, padahal nilainya belum tentu bagus. Kami menunjuk Ivan Masdudin sebagai tuan rumah. Bakar-bakar ayam sambil ngerumpi, nyanyi dangdut, tebak-tebakan dan pijit-pijitan berlangsung sampai dini hari, wahh seruuu.

Semester selanjutnya kami pun jalan-jalan ke gunung Tangkuban Perahu, yang memang sekaligus dengan ujian mata kuliah Olah Raga. Kami pun berjalan dengan kompak sampai pos terakhir. Ketika kelas ataupun jurusan lainnya memutuskan untuk pulang naik mobil, kami memutuskan turun gunung menuju Lembang dengan berjalan. Menikmati pemandangan, sambil terus foto-foto, rumpi ternyata tak membuat kami lelah malah makin bersemangat. Wahhh asiik banget deh pokoknya.

Tangkuban Parahu, semester 3

Kami juga sukses mengadakan pementasan bertajuk “Budak-budak Waktu” mana waktu itu saya adalah ketua pelaksana. Kadang sebel, pengen teriak-teriak “curaaang koq gwe mulu siiih ..” tapi sudahlah dinikmati aja semua rasanya. Akhirnya nilai A pun terukir manis untuk kami yang usahanya pol-polan untuk pementasan tersebut.

Tak ada gading yang tak retak, begitupun pertemanan kami. Seiring bertambah semester, kami pun mulai sibuk dengan urusan dan kegiatan masing-masing. Belum lagi ada geng-gengan, well saya pun juga nge-geng. Ada masalah pribadi, cinta segitiga dan sebagainya makin memperkaya kondisi kejiwaan kami yang resah (pada saat itu belum ngetop kata galau).

Ajaibnya, di semester 8, saat sibuk ngurus skripsi masing-masing, Ivan “Kribo” Irianto memberi ide untuk ngadain acara nginep bareng. Karena mungkin itu adalah acara terakhir kami, karena belum tentu kami semua bisa lulus barengan. Acara pun disusun dengan rapih, tentunya ga ada yang mau jadi ketua, semua jadi pelaksana aja. Saya pun mulai mencari villa yang murah meriah, tanya sana tanya sini akhirnya dapat Villa di lembang dekat Sesko. Villa nya bagus ada di tengah-tengah kebun, lucunya lagi di villa ini bukan menghitung sewa bangunan namun hitungannya perkepala 5 ribu rupiah.

Berangkatlah saya dan Ivan untuk survey villa tersebut. Villa yang terletak di tengah kebun tomat, cabe, bunga kol, terong dan sayuran lainnya itu nampak mentereng. Kami pun langsung setuju untuk mengadakan acara disana. Karena di tengah kebun sayuran, kami pun bisa tinggal petik kalau kelaparan dan mungkin besoknya digebukin petani yang kebunnya jadi botak hehhehee.
Villa Lembang, Semester 8

Sayangnya tidak semua bisa ikut. Namun pada hari itu kami semua makan bersama, berbagi cerita tentang masa depan bersama, curhat bersama. Lucunya pas sesi curhat, yang pernah jadian saling meminta maaf, saling jujur pernah naksir siapa di kelas dan semua obrolan itupun diakhiri dengan tawa bahagia kemudian kami pun tidur bahagia juga kayanya deh heehhehe.

Villa Lembang ..
Ahh .. kadang-kadang saya ingin sekali kembali ke masa itu, namun waktu tak bisa diputar ulang hanya kenangan yang sering menari dalam ingatan. Kapan ya bisa ketemu lagi ..?? reuni yuuk reuni … colek-colek Satrasia ’01 


Sastra Indonesia UPI Class Of 2001 (Yonas, 2003)

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images