Membatik di Museum Tekstil

16.12


Senang rasanya mengetahui bahwa batik telah ditetapkan oleh Unesco sebagai warisan budaya  asli Indonesia. Indonesia loh .. bukan Negara lain. Bahkan beberapa instansi, lembaga maupun sekolah telah mewajibkan para pegawainya untuk mengenakan batik pada hari-hari tertentu. Rasanya bangga sekali melihat batik begitu membumi, batik juga hadir dalam bentuk lain, tak melulu berupa kain. Kini batik bisa hadir manis sebagai casing hp, taplak, seprai bahkan gerbong kereta api pun bermotif batik.


Tahun ajaran 2008-2009, saat itu saya mengajar di sekolah Victory Plus dan bertugas mengajar bahasa Indonesia kelas 3. Ada materi yang merupakan pembahasan mengenai Negara sendiri. Ms. Irma sebagai year leader Grade 3 saat itu memutuskan untuk mengadakan excursion atau bahasa bakunya adalah karya wisata ke Museum Tekstil.

Saya pun ditugaskan menemani kelas 3 Bahasa yang memang isinya anak-anak yang aktif luar biasa, sampai-sampai kalau mengajar mereka suara saya bisa 7 oktaf (beuuh udah kaya Whitney Houston aja deh). Akhirnya hari yang dinanti pun tiba.

Sesampainya di Museum Tekstil, kami berkeliling dan dikenalkan dengan koleksi kain yang dimiliki oleh museum tersebut. Bangga rasanya melihat anak-anak mau mengenal hasil karya negerinya sendiri. Saya pun menjadi maklum mengapa mereka bisa terpana takjub melihat mesin tenun ataupun manggut-manggut takzim mendengar proses menenun sebuah kain itu memerlukan waktu mingguan bahkan sampai bulanan. Sebagai anak-anak yang datang dari golongan ekonomi menengah keatas, tentu saja pergi ke museum ataupun melihat alat tenun adalah suatu hal yang baru bahkan asing bagi mereka.

Di pendopo kecil di samping bangunan utama Museum, kami diberi arahan tentang cara membatik. Kami pun dibuat menjadi beberapa kelompok. 1 kelompok beranggotakan 5 orang yang harus duduk di bangku kecil yang disusun mengitari sebuah tunggu kecil yang diatasnya teronggok sebuah wajan kecil berisi cairan lilin.

membatik sesuai pola 

Panitia sudah menyiapkan kain putih (sejenis tetoron atau katun, yang jelas bukan kain kafan lah nanti jadi horror hehehe) dan diberi motif yang digunakan untuk membatik. Khusus untuk murid-murid saya, mereka sudah disiapkan motif-motif kartun seperti gajah-gajahan dan sebagainya.

Yang harus kami lakukan sebenarnya cukup sederhana. Hanya mencelupkan canting (alat untuk membatik yang bentuknya seperti pipa rokok) ke dalam cairan lilin, kemudian dengan ujung canting tersebut kita mengikuti garis dari pola yang sudah ada. Terdengar sungguh mudah namun pada prakteknya tak semudah itu, beberapa murid yang petakilan justru malah terkena cairan lilin sebelum berhasil menggoreskan ujung canting pada pola batik. Jikapun berhasil menggoreskan ujung canting, kadang-kadang garis yang dibuat tak sesuai pola, cenderung mencong tak tentu arah.

sudah selesai mengikuti pola

Jika sudah selesai, maka tahap selanjutnya adalah mencelup kain tersebut ke dalam bak-bak yang sudah diberi pewarna tekstil. Kami pun mengumpulkan kain yang sudah berhasil dibuat coreng moreng (agak sedikit menyimpang dari pola yang sudah diberikan)

Lup lup dicelup, setelah selesai dicelup kain pun dikeringkan. Sambil menunggu kain kering, saya dan murid-murid makan siang bersama, kami memilih untuk duduk dekat pohon rindang. Selesai makan siang dan istirahat, kami diperbolehkan untuk mengambil kain batik karya kami.

Walaupun hasilnya tentu saja jauh dari sempurna, namun anak-anak senang bukan buatan menatap hasil karya mereka sendiri. Mungkin alangkah baiknya jika anak-anak tidak hanya diajak jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, mengunjungi museum juga bisa dijadikan hiburan alternatif untuk memperkaya wawasan anak-anak.


berfoto di halaman Museum Tekstil

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images