Nengok Upin-Ipin Part 2 ...

22.42


Hari kedua di Malaysia, sama koq kaya pagi hari di Indonesia. Mataharinya masih terbit dari timur belum berubah hehehee.

Sekali lagi, saya ini adalah seorang Kormod alias Korban Mode. Setelah sukses dengan ikut-ikutan menjadi supporter Suzuki AFF cup, kali ini saya mau jadi penggila MotoGp. Sebenarnya saya ga paham-paham benar soal balap MotoGp, tapi tidak perlu menjadi seorang jenius untuk memahami lomba balap, aturannya kan simple, yang sampe duluan dia yang menang. Ya kan, ya kan?


Kebetulan penyelenggara balap MotoGP bekerjasama dengan AirAsia, nah kami pun dapat tiket dengan harga miring karena jatah milik Nyos. Sayang kalau tidak dipakai dan ini merupakan kesempatan langka untuk melihat kakang Palentino Rosih (euuh Please ini Italiano atau sundanesse siih?) secara Live

Kami naik sky bus menuju sirkuit Sepang, yang saya tak paham mengapa diberi nama Sky Bus, woong masih jalan di darat bukan di udara hahhahaa. Sampai di Sepang, matahari bersinar terik, duilee panas bin gersang daaan koq ya banyak berkeliaran orang-orang berbahasa Indonesia. Ada komunitas motor yang jelas-jelas dari plat nya adalah motor Indonesia.

Poto2 dulu di area depan circuit
Jalan kaki menuju gerbang utama untuk menukarkan voucher kami dengan tiket asli plus merchandise berupa kaos dan topi dari AirAsia. Ketika keluar dari gedung penukaran tiket, beberapa turis Korea menatap kami yang melenggang kangkung sambil membawa tas merchandise dengan tatapan sirik dan rumpi.

Kami mendapat tempat duduk di tribun F, dan harus naik shuttle bus menuju kesana. Wuih jauh juga tribun F itu, kami pun berputar mengelilingi perkebunan Kelapa Sawit yang luas sekali. Yang bikin bête, kami se-bus dengan beberapa bule. Adoooh mereka semua show off kasih sayang, bener-bener ga penting deh, naik bus kudu ciuman dulu, selama di bus ciuman turun bus ciuman lagi .. haduuh ada apa sihh dengan mereka itu?

Pemeriksaan menuju tempat duduk pun berlapis, kami tak diizinkan membawa minuman atau makanan dari luar. Untungnya sahabat saya Vina pandai, sudah menyembunyikan amunisi anti lapar kami dibalik handuk dan kaos.

gaya di Tribun F
Setelah mendapat tempat duduk yang cukup strategis, kami pun mengeluarkan kamera untuk mengabadikan Valentino Rossi. Saat itu telah berlangsung balap motor 125 (apa ya nama satuannya? 125 cc, 125 liter apa 125 kilogram, pokoknya saya ga paham). Orang-orang Malaysia yang ada di tribun F seperti saya selalu jingkrak-jingkrakan menyemangati atlit andalannya.

Benar-benar butuh ekstra kesabaran untuk melihat aksi Valentino Rossi karena setelah lomba 125 itu masih ada lomba 250. Haduuh karena dibuai angin sepoy-sepoy yang bertiup di sela dedaunan kelapa sawit, saya pun dengan sukses tertidur. Mudah-mudahan sih engga ngorok ehhehee

Saat yang ditunggu pun tiba. Para pembalap MotoGp mulai bermunculan untuk menjajal lintasan. Saya yang buta MotoGp pun dijelaskan dengan sabar oleh sahabat saya. Dia nunjuk-nunjuk “yang itu Pedrosa, yang itu Simonceli” saya ngangguk-ngangguk aja deh.


suasana circuit Sepang

circuit Sepang cerah ceria


motor2 jadi segede kutu dari tempat duduk kami

Valentino Rossi in action (kalau ga salah)
Ketika saat Valentino Rossi menjajal track sirkuit kami pun segera mengeluarkan kamera. Dari kejauhan sudah siap-siap pencet tombol shutter, biar sang idola bisa terpotret. Tapi memang dasar pembalap, cepet bener jalannya eh motornya. Mau dari jauh-jauh udah ditekan tombol shutter, tetap aja yang kepotret cuma bagian depan ataupun ujung motornya aja. ga pernah utuh.

Daaan eng ing eng … perlombaan balap MotoGp dimulai. Wuih semua orang bersorak-sorak gembira dan bertingkah norak ahahha saya sebagai orang awam sih geleng-geleng aja. Seperti yang sudah diperkirakan, Rossi memimpin di depan. 1 lap terlampaui dengan manis, masuklah lap kedua, sementara itu 2 helikopter yang bertugas meliput juga mengomentari pertandingan nampak berputar-putar riang di arena sirkuit. Semua orang bersemangat termasuk para penonton di Tribun F.
evacuation system di circuit

Sekali lagi Rossi dan pembalap lainnya melintas di depan Tribun F, kembali semua orang bersorak dan bertepuk tangan deuuh bener-bener norak bukan buatan. Tak sampai 5 menit kemudian, di layar raksasa saya melihat banyak kembang api, koq kembang api?? Kan lombanya belum selesai pikir saya dengan polos.

Ternyata kembang api yang saya lihat barusan adalah percikan api dari motor Marco Simoncelli. Terjadi kecelakaan di dua tikungan setelah Tribun F, dimana Simoncelli menabrak pembalap lain dan berakhir terkapar dengan helm yang terlepas dari kepala. Dan bendera merah pun berkibar, semua pembalap diarahkan masuk ke dalam pitstop. Saya pun melihat ambulans memasuki area sirkuit, dari kejauhan petugas membawa tandu yang di atasnya telah berbaring Marco Simoncelli.

Kami masih menanti kelanjutan, apakah pertandingan akan diteruskan atau tidak. Nyatanya pihak panitia pun membatalkan pertandingan, disambut dengan ribuan gumam kecewa penonton plus lemparan botol air mineral ke tengah-tengah area sirkuit. Khawatir suasana makin memanas, kami pun memutuskan keluar area sirkuit.

Keadaan makin diperparah dengan langkanya bus umum untuk membawa kami keluar area tribun F menuju pintu masuk sirkuit Sepang. Dan para pengendara mobil pun tak peduli melihat kami yang teronggok lesu di pinggir jalan. Dalam hal ini saya merindukan negeri sendiri, Indonesia, walau bagaimanapun orang Indonesia banyak yang ramah, banyak yang masih mau menolong. Pastinya kalau di Indonesia kami sudah dapat tebengan untuk keluar area, namun di Malaysia ini bener-bener deh don’t know don’t care. Jangan pun kami yang memang bukan warga sana, bahkan sesama wong Malay pun tak ada yang menawari tebengan. Aiiihhh aku rindu negriku, nyiur melambai alam permai (lebaaayy).

Setelah menunggu lama, kami pun dapat bus menuju pintu masuk sirkuit. Di sana pun antrian sudah mengular untuk mendapatkan bus menuju KL Central ataupun pusat kota Malaysia. Sungguh rasis, orang-orang bule didahulukan, huuuh katanya saudara serumpun .. hiiikss … . di barisan kami berisi orang-orang Malaysia, orang Indonesia dan orang Singapura juga Filipina terpaksa jadi warga nomer 2 hanya untuk naik bus saja yang semestinya sudah menjadi hak kami karena sudah kami bayar.

Situasi makin chaos, semua orang mulai menggerutu, berteriak, memaki dan membentak dengan kasar. Belum lagi rasa haus yang luar biasa karena sekian jam mengantri. Ditambah lagi anak-anak 4L4Y yang berdandan ala Charlie ST12 yang sungguh bikin empet saya dan Vina. Anak-anak itu bukan hanya menyerobot antrian, juga duduk ga lihat-lihat ada kaki orang yang mereka duduki. Sambil mengantri, Vina pun browsing-browsing untuk mengetahui perkembangan mengenai balap motoGp selanjutnya. Ternyata Marco Simonceli dinyatakan meninggal dunia. Ironis, ini pertama kali saya menonton lomba balap MotoGp secara live dan saat itupun saya menjadi salah seorang dari ribuan saksi mata meninggalnya seorang pembalap.


Akhirnya kami dapat juga bus menuju KL sentral, itupun harus berdiri, yah ga apa-apalah daripada ga pulang ke My Hotel dan teronggok dengan tidak manis di sirkuit. Perjalanan memakan waktu hampir 1 jam, membuat perut makin keroncongan dan lutut lemas tak karuan. Sesampainya di KL Central kami pun langsung mencari makan agar tiba di hotel langsung istirahat. Dan malam itu kami makan Tom Yam sekali lagi …rasa asam pedas itu cukup mengguyur pengalaman asam hari ini. Kami pun beristirahat malam ini karena esok siang harus segera kembali ke Indonesia.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images