Singapore Part 2 ...

11.03

Setelah mengudara kurang lebih 2 jam, kami pun mendarat mulus di Changi Airport. Ternyata Changi Airport itu luasnya luar biasa, petunjuk arahnya agak bikin keder, entah karena jetlag atau emang pengetahuan sign & symbols kita yang jelek. Kita agak-agak susah bedain harus naik ke atas atau jalan lurus karena tandanya koq sama.



Changi Airport ...
Setelah beres urusan imigrasi, kami berdua cepat jalan mengejar waktu untuk naik MRT, karena kalau kemalaman, kami harus naik taksi dan bisa dipastikan akan sangat mahal. Karena masih agak oon ditambah kondisi ngantuk, kami berdua ga lihat loket EZ Link yang kartunya bisa dipakai untuk berkali-kali perjalanan dan bisa diisi ulang.

kami pun menuju mesin penjualan tiket MRT single trip. Saking bingung sama petunjuknya saya pun mencet-mencet tombol dengan pelan (kata Vina, mencetnya malu-malu) daan terjadilah salah pencet. Harusnya beli tiket yang turun di Outram Park agar bisa lanjut MRT jalur ungu menuju Clarke Quay, malah belinya yang turun di Tanjong Pagar. Cakeeeppp …

dan ketika si kartu hijau itu keluar dari mesinnya, kami pun melihat loket EZ Link MRT Card. Gustiiii … bener-bener cakep kali ini. Tapi kami pun tetap beli EZ card itu seharga 12 SGD. Ketika akan naik MRT, saking ga mau rugi, kami pun menempelkan si kartu hijau di mesinnya, yang berarti seharusnya kami akan turun di Tanjong Pagar.

transit di stasiun ini dari Changi menuju pusat kota
MRT Singapore ini betul-betul bagus, jauh lebih bagus dari MRT yang di Malaysia.  kami transit di stasiun Tanah Merah, berganti kereta menuju Outram Park. Akhirnya tiba juga di stasiun Tanjong Pagar, seharusnya kami turun. Tapi sekali lagi kita adalah makhluk ogah rugi, kita cuek aja di kereta menuju stasiun Outram Park tanpa memikirkan konsekuensi yang menanti.

sampai di Outram Park kami langsung berdiri menanti MRT jalur ungu untuk menuju Clarke quay dimana kami akan menginap di Rucksack inn. Dan sampai juga di stasiun tujuan, kami pun senang bukan buatan, sambil melonggarkan otot tubuh yang kaku kami pun lenggang kangkung menuju pintu keluar yang tentunya ada Tap Machine. Ternyata .. Singapore ini bener-benar tertib, ga ada ketebelece di sini. Mesin sensor pun menolak kartu hijau kami (ya iyalah wong harusnya turun di stasiun yang beda) paniiikkk … dengan bodohnya kami meletakkan kartu EZ Link, ga guna juga .. wuih ga seru nih .. masa balik ke stasiun yang tadi lagi, masa iya harus bobo di stasiun .. O May God .. ayo mikiir .. cepetan mikir, saya nengok ke Vina yang menatap saya pasrah, saya makin merasa bersalah.

untungnya di tengah kepanikan yang menggila, kami melihat sign “information centre” dengan setengah berlari kami menuju pusat informasi itu, untungnya masih ada petugasnya yang berwujud bapak-bapak. Kami pun mengeluarkan jurus andalan, akting mengiba diperkuat dengan muka memelas “Uncle we can’t go out from this station. We’ve put our cards on that machine already, but it not works” kata saya sambil memperlihatkan kartu hijau dan EZ card (keciri banget bloonnya). Tanpa banyak cingcong si petugas pun membukakan pintu (mungkin sudah sering kasus begini), kami pun bisa bernafas lega keluar dari stasiun dan si kartu hijau itu bisa jadi cindera mata (ga diminta balik sama si uncle petugas, kebayang doong kalo kartunya diambil & dicek, ketauan lah bahwa kami seharusnya turun di Tanjong Pagar ehhehe). Keluar dari stasiun itu kami masih harus berjuang mencari Hongkong street dimana gedung Rucksack Inn itu bertempat.

ilmu pemetaan kami memang agak payah, makanya dulu jaman PDP PASMA kami sering digampar hehee. Kondisi malam, tubuh letih, penerangan remang-remang membuat kami makin keder membaca peta ataupun berlogika. Untung sebelum tersesat jauh, kami bisa menemukan jalan yang benar, dan sekali lagi duo pemalas ini ogah naek jembatan penyebrangan, lebih bahagia nyebrang jalan segede-gede gaban.

Finally ketemu juga itu Rucksack Inn, di lantai 3 pula .. kami saling menyemangati untuk menapaki satu demi satu anak tangga. Urusan check in pun beres dan kesabaran kami berbuah manis, karena Lisa batal ikut, sementara kami sudah membooking 3 mixed dormitory bed dan uangnya tidak bisa dikembalikan, oleh pemilik, kamar kami pun di upgrade jadi double room khusus untuk kami berdua ga nyampur sama yang lain. Beuuuhh bahagia lagiii. Dengan bahagia kami masuk kamar khusus kami, lenggang kangkung di depan bule-bule backpacker sekaligus pasang tampang sok borju karena kami di kamar khusus sementara mereka di kamar campur ehhehehe.

special room for duo sahabat

selesai beres-beres, kami pun jalan-jalan ke sekitaran Clarke Quay yang ternyata adalah daerah elitnya Singapore.

Midnight at Clarke Quay …

Walaupun malam menjelang midnight, kami tak gentar buat berkeliling area Clarke Quay, gini-gini kita dulunya anak gunung looh. Jalan-jalan dan foto-foto sepanjang jalan Hongkong, jalan menuju jembatan yang bagus banget.

sepanjang jalan Hongkong

Yang bikin terharu, ternyata sahabat saya sudah menyiapkan kejutan. Taraaa .. dari dalam tas yang dia pegang-pegang ada kue dari cheese cake factory yang sudah ada lilinnya untuk saya tiup karena kemarin adalah ulang tahun saya yang ke … (udah tua euy, malu nulisnya juga hehehe). Kami pun berjalan menyusuri terowongan untuk mencari pemandangan malam hari yang ada tulisan Clarke Quay yang indah, hasil browsing dari internet.

tiup lilin di atas sepotong kue
Setelah melewati terowongan, kami pun menemukan tempat yang kami cari-cari. Di sana masih ramai sekali. Ada permainan seperti Sling Shot yang masih terus ramai dengan jeritan orang-orang yang naik. Sayup-sayup koq ada suara orang ngobrol bahasa Indonesia, dan benar aja ternyata ada sekelompok anak-anak Indonesia yang lagi goleran menikmati sungai dan pemandangan Clarke Quay, tanpa basa basi kami pun minta tolong difoto.

Nampang di Clarke Quay
Sebenarnya masih ingin duduk dan menikmati suasana di Clarke Quay, tapi sudah jam 1 malam dan besok kami masih harus keliling Singapore, dengan berat hati kami pun kembali ke Rucksack Inn. Kami pun melewati tunnel di bawah jembatan bergaya british, di sana ada seorang pengamen yang suaranya bagus dan ia bertanya kami berasal dari mana, ketika tau kami orang Indonesia, dia pun menyanyikan lagu-lagu Indonesia. Foto-foto sebentar dan kami pun kembali ke penginapan.

You Might Also Like

2 comments

  1. Nice holiday mbak . Murah tapi acaranya padat

    BalasHapus
  2. hehehe iya. emang mepet, maklum deh namanya juga pergi pake tiket murah ya waktunya terbatas ..

    BalasHapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images