Singapore Part 3

13.57


Sabtu, 3 Maret 2012

Pagi hari di Singapore itu kondisinya masih gelap. Jam 7-an baru matahari menyembul malu-malu. Selesai mandi dan sarapan serta akrab-akrab dengan beberapa bule yang juga sarapan di ruang makan, kami pun memulai petualangan kami di negri Singa ini.


Merlion Statue ...

ini dia simbol Negara Singapore, ga afdol kalau ke Negara ini tapi ga foto sama si patung Singa berbadan ikan. Kami naik MRT dari Clarke Quay menuju Dhoby Ghaut untuk transit dan ganti MRT jalur merah menuju tempat si patung berada.

karena hari masih pagi, kami pun ingin jalan-jalan dulu makan kami turun 1 stasiun sebelumnya, kami turun di stasiun City Hall. Begitu keluar stasiun, kami pun terperangah dengan kebersihan dan kerapihan gedung-gedung di sana, ternyata jalur menuju patung Merlion sebenarnya tidak jauh dari Clarke Quay, tinggal menyusuri sungai.

gaya dulu sebelum masuk stasiun MRT

naik MRT dari stasiun yang ini lohh

kami pun berfoto-foto, dan sekali lagi bertemu sekelompok orang Indonesia, kali ini perempuan semua ada 4 orang. Kali ini kami yang diminta mengambil foto mereka, kami setuju, asal mereka mau gantian memfoto kami. Mereka dan kami juga berfoto di lokasi jembatan dan Fullerton Hotel yang bagus dan mewah.

Akhirnyaa .. ketemu juga dengan si patung, disana matahari mulai terik. Suasana crowded luar biasa, banyak turis yang berfoto di lokasi itu, belum lagi turis Cina yang tanpa permisi mendorong-dorong kita agar menjauh dan tidak terpotret oleh mereka. Idiiih siapa juga yang mau foto sama situ.

inilah dia si ikan berkepala singa ...

turis kehausan ...
Kami pun foto-foto dengan patung, dengan latar belakang Marina Baysand Hotel dan gedung-gedung lainnya. Tanpa bisa lama-lama, kami pun bergegas pergi menuju tempat selanjutnya.

Marina Baysands ... yang kaya perahu nyangsang ^_^

Bugis Street Market
Sebelum menuju Bugis, kami sempat turun di stasiun sebelumya, melihat pemandangan gedung-gedung kuno dan Vina menyempatkan diri ke Gereja Katolik St Andrew yang bergaya klasik putih dan bersih.

di pelataran Gereja
Bagian dalam Gereja

saya foto-foto di luarnya aja
Di Bugis, kami langsung menuju pasar tradisionalnya. Banyak orang bilang barang-barang di Bugis cukup murah dan bagus. benar saja kami pun disambut meriah oleh pedagang-pedagang suvenir, harga disana 10 SGD dapat 3 barang boleh dicampur. Kami belum tertarik untuk membeli souvenir sekarang. Lebih tertarik untuk beli makanan, disana kami mencoba popiah dan gorengan lainnya.

makan popiah, kaya lumpia gitu deh ...
Di Bugis Street itu juga ada toko yang bikin horrible tapi penasaran. Kami pun masuk, lihat-lihat, begitu keluar langsung pusing dan mual. Nyesel deh rasanya masuk ke toko itu (ga usah disebut deh toko apaan, yg jelas kudu udah punya KTP kalau mau masuk ke toko itu)

Little India
Dari stasiun MRT Bugis, kami melanjutkan perjalanan menuju Little India. Sebenarnya letak tempat-tempat tujuan kami berdekatan namun harus sering transit MRT. Menuju Little India kami naik MRT jalur hijau dari Bugis kemudian transit di City Hall. Di City Hall kami berganti jalur MRT merah menuju Dhoby Ghaut dan berganti MRT jalur ungu menuju Little India.

Setiap keluar dari stasiun MRT dan naik ke atas, saya selalu merasa ada di bagian Singapore yang berbeda. Nah di Little India ini begitu keluar, daerahnya gersang. Gedung-gedungnya pun kusam, kami menuju Mustafa departement store yang terkenal di sana.

Di Mustafa ini kami belanja coklat yang menurut teman-teman yang sudah ke Singapore katanya murah sekali. Yang mengagetkan, di Mustafa ini menjual tripod dengan harga yang murah. Ada yang seharga 10 SGD, kalau dikonversi ke rupiah kurs saat itu maka tripod itu hanya seharga 72 ribu. Beuh siapa yang ga ngiler. Untuk memastikan, saya tanya ke petugas terdekat apa benar tripod itu seharga 10 SGD dan ia mengiyakan. Tanpa ba bi bu lagi, saya masukkan tripod itu ke kantung belanjaan saya.

Usai belanja, kami pun makan di rumah makan terdekat untuk mencoba nasi briyani. Nasi briyani ini porsinya luar biasa, dihidangkan di atas nampan bukan piring lagi. Senampan nasi berbumbu kari, potongan ayam dengan bumbu kari sebesar alaihim gambreng, sebutir telur, acar dan kerupuk terhidang di hadapan kami. Dari antusias sampe pusing itu yang kami rasakan ketika makan nasi briyani. Lucunya di sana es kelapa itu mahal sekali, 1 batok es kelapa dibandrol dengan harga 5 SGD, kira-kira 35 ribu. Idiih mahal bener, di Jakarta 10 ribu juga sudah dapat es kelapa jeruk sebatok, tapi orang-orang Singapore itu bahagia aja minum es kelapa semahal itu, kebayang kalau ke Indonesia dan tau harganya murah pasti pada minum seember hehehhee.

senampan nasi briyani enak dan buanyaak ...
selesai makan, kami turun lagi menuju stasiun MRT dan naik MRT jalur ungu menuju Dhoby Ghaut untuk kemudian transit dan pindah jalur merah menuju Orchard Road.

Orchard ...
Ini dia kawasan paling happening di Singapore. Surga belanjanya kaum tajir. Orchard Road ini penuh dengan Mall berjejer, kami sudah diwanti-wanti untuk belanja di Lucky Plaza saja karena katanya sih lebih murah dari jejeran mall yang ada di sepanjang Orchard Road.

Keluar dari stasiun MRT Orchard kami muncul dari balik terowongan yang bagus dan terpampanglah ION Mall yang megah. Kami duduk-duduk di kursi berupa sofa empuk memanjang berwarna merah.

keluar dari terowongan MRT di Ion Mall yang futuristik 
Sambil duduk-duduk kami melihat jajaran sepeda motor yang menjual es krim, ini nih yang namanya es krim Uncle yang terkenal dengan harga 1 SGD itu. Dengan sukacita alias norak kami pun mendekati si Uncle untuk beli es krim. Saya memilih es krim mint berbalut roti, sementara Vina juga memilih es krim mint yang dibalut dengan wafer. Es krimnya enaak .. seger lumayan laah …

we scream for ice cream ...
Setelah duduk-duduk makan es krim, kami pun lanjut berjalan menuju Lucky Plaza, mana penyebrangannya jauh pula, di sini ga boleh nerobos nyebrang jalan, bisa-bisa kita kena denda.

Di Lucky Plaza kami beli oleh-oleh khas Singapore seperti gantungan kunci, kaos, tas dll yang harganya 10 SGD seraup hehhehee. Belanja oleh-oleh di beberapa toko di sekitaran Lucky Plaza bikin kita bener-bener cape.

iklan Singtel, bahasanya kaya bahasa sunda
Rencana semula kita mau langsung ke China Town dan mengakhiri petualangan hari ini di Sentosa Island. Tapi ini kaki udah ga bisa diajak kompromi, udah cape banget rasanya badan, lagipula China Town dan Clarke Quay itu satu jalur MRT dan cuma beda 1 stasiun aja. Kami pun memutuskan untuk pulang.

Sampai di kamar di Rucksack Inn kami pun langsung tiduran sambil bongkar-bongkar belanjaan. Setelah 1 jam beristirahat kami mandi dan melanjutkan jalan-jalan.

China Town 
Keluar dari stasiun MRT, kami melihat pertokoan ala Glodok, ditambah dengan apartemen yang terlihat agak kusam. Saat itu sudah jam 5 sore waktu setempat, tapi matahari masih terang benderang.

Keliling kompleks pertokoan buat nyari oleh-oleh plus foto-foto. Sama seperti di Lucky Plaza, oleh-oleh disini pun dibandrol 10 SGD bisa dapat 3 bahkan 5 benda dan boleh dicampur. Saya pun beli benda-benda yang sebenarnya ga penting tapi ga apa-apalah namanya juga oleh-oleh. Dari pajangan, gantungan kunci sampai jam tangan pun kami beli.

agak-agak kusam dibandingin sama area lainnya

rame beneer di sini
teteeup narsis di depan mobil orang

hasil potongnya ga jelas yang penting fast aje hehehe 
Selesai belanja-belanja, kami makan. Sayangnya beberapa warung makan sudah tutup karena memang sudah hampir jam 6 sore. Akhirnya kami memilih makan laksa. Pilihnya yang menu kombinasi yang murah meriah. Pas makan .. hmmm .. Not bad laah (mulai ngikutin dialeknya orang Singapore). Karena sudah hampir jam 7, dan kalau disini mah masih terang suasananya kaya masih senja gitu kaya pemandangan sekitar jam ½ 6-an lah.


nasi hainam .. biasa aja rasanya

laksa yang kurang bumbu ...

Sentosa Island 
Dari China Town kami naik MRT jalur ungu menuju Harbour Front, dari China Town hanya berjarak 2 stasiun aja. Keluar dari dari stasiun MRT kami berada dalam kemegahan Vivo City Mall. Mall yang mewah dan bersih, sekali lagi kami kepayahan mengikuti simbol yang menunjukan jalur untuk naik kereta monorail menuju Sentosa Island. Akhirnya kami mengikuti kerumunan orang berjalan. Untungnya gerombolan orang yang kami ikuti itu memang mau menuju Sentosa Island.

sebelum naik Monorail, kami membeli tiket pertunjukan Song of The Sea yang katanya (menurut beberapa blog yang kami jadikan acuan, dan semoga blog saya ini juga jadi acuan beberapa orang hehehe) merupakan best show disana. Tiket seharga 10 SGD pun kami genggam.

naik monorail hijau ini ke Sentosa Island,
bisa pake Ez link ga usah bayar lagi

Akhirnya dapat juga giliran naik Monorail menuju Sentosa Island.  Kami turun di stasiun Monorail yang pertama, Waterfront Station kami mau foto-foto dulu di tempat foto umat sedunia yang mampir ke Sentosa Island. Yup kami mau foto-foto sama bola dunia-nya Universal Studios. Saat itu suasana sudah gelap, sudah jam 8 malam, sementara kamera kami berdua agak kurang canggih di tempat gelap. Susah sekali untuk berfoto di bola dunia itu.


Sudah malam di sana jadi agak kurang bagus hasil fotonya

Kami berdua jalan-jalan berkeliling sambil foto-foto menuju tempat pertunjukan Song of The Sea . Akhirnya sampai juga di stasiun terakhirnya Monorail, dalam kondisi gelap aja tempatnya bagus apalagi kalau terang. Sambil jalan tadi kami sempat berfoto di The Merlion dan Merlion Walk

Pertunjukan yang kami tunggu pun dimulai. Panggungnya di atas pasir dan ada beberapa rumah panggung yang dibangun di atas air. Tempat duduk penontonnya hanya bangku sederhana dari kayu, mungkin memang sengaja dibuat dengan konsep sederhana. Diceritakan 4 orang generasi muda yang merupakan simbolisasi etnis penduduk di Singapura, ada Cina, Melayu, India dan lainnya, mereka bernyanyi-nyanyi di pinggir pantai, bermain di antara bebatuan karang. Giliran pemuda Melayu bernyanyi .. ternyata dia menyanyikan lagu anak kambing saya. Wuidiiihhh .. lagu Indonesia tuhh, asal jangan diaku-aku aja deh.

Pementasan Song of The Sea dikemas apik dengan teknologi yang baik, sebenarnya kalau meninjau sudut penceritaan, ceritanya biasa saja dan cenderung monoton. Yang paling menarik adalah ketika terjadi harmonisasi antara deburan air mancur, musik yang menghentak, tata lampu dan sinar laser.

pake kamera hp, segini doang bisa kefotonya

Begitu pertunjukan selesai, kami pun bergegas keluar untuk menuju stasiun MRT Beach Station yang akan membawa kami kembali ke Vivo City. Seperti yang sudah kami kira, stasiun tersebut penuh sekali, antrian sudah mengular sampai keluar gedung stasiun.  Akhirnya tiba juga giliran kami naik MRT, berdesak-desakan tanpa dapat tempat duduk, tak sampai 15 menit kami sudah sampai di Vivo City.

Dinner di Vivo City 
Begitu turun dari MRT, kami langsung menuju Food Republic untuk makan malam pertama kali sekaligus terakhir di Singapore. Seperti biasa, sebelum memilih makanan kami berkeliling dulu untuk melihat-lihat. Pilihan pun jatuh pada seporsi dimsum (tetep ga dimana-mana makannya dimsum, padahal enakan dimsum Kalibata apalagi kalau ditraktir hehhehee), semangkuk es campur Singapur dan Chicken Wings Barbeque.

chicken wings yang gede-gede banget ..

es campur segerr ...
dimsum ... padahal enakan dimsum Kalibata (teteeep)
Hari makin malam, kami pun harus segera kembali ke Rucksack Inn. Sesampainya disana, kami langsung packing karena esok hari harus berangkat pagi karena flight menuju Indonesia akan berangkat jam 9 pagi.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images