Kota Tua

21.12


Kota Tua selalu punya daya tarik yang bikin kita selalu senang untuk datang kesana. Gedung-gedung peninggalan jaman Belanda itu seolah memiliki daya tarik magis buat selalu dilihat. Awal jalan-jalan kesana sama Ari dan Irma. Kita naik busway yang harus transit-transit menuju Kota Tua.


Keluar dari halte Busway terakhir, kita nyebrang dan masuk museum Bank mandiri. Lihat-lihat plus foto-foto lalu selanjutnya ke Museum bank Indonesia. Seperti biasa, lihat-lihat plus foto-foto. Selanjutnya nyebrang dan memasuki kawasan museum Fatahillah, sebelum masuk ke dalam museum Fatahillah yang jadi top of the spot, kami memilih masuk ke dalam museum Wayang dulu. Agak ngeri-ngeri seneng gitu masuk ke dalam museum wayang, koleksi wayang yang ga terawat terlihat seperti boneka yang ada di film-film horror, belum lagi ada koleksi nisan-nisan pejabat jaman Belanda. Akhirnya masuk juga kami ke Fatahillah, foto-foto. Ada bekas penjara plus dengan bola-bola besi yang dulunya diikatkan ke pergelangan kaki para napi.

Museum Fatahillah


begaya di bangku taman. adem bener
Kunjungan menyenangkan ke kota tua selanjutnya ketika kami rame-rame naik motor jalan-jalan habis lebaran. Kami disini maksudnya saya, Vina, Lisa, Nyos dan Fitri. Kami jalan membawa 3 motor. Nyos semotor sama Fitri yang emang pacarnya, Saya semotor sama Vina, dan Lisa sendiri soalnya si Bang Ben (pacarnya waktu itu) nunggu di tempat. Tujuan kami yang pertama adalah ke Bioskop Megaria yang udah berganti nama menjadi Metropole Cikini. Bioskop legendaris yang sudah jadi XXI ini tetap mempertahankan kejadulannya sehingga terlihat begitu retro. Seperti biasa, geng Narsis foto-foto dulu sebelum masuk ke dalam bioskop. Di sana kami nonton Get Married 2, film kocak yang bikin kami ngakak terkencing-kencing.

makan es potong, jajanan jaman SD
Dari Metropole kami lanjutkan jalan-jalan ke kota tua lewat jalur Senen-Gunung Sahari-Mangga Dua belok kiri langsung nongol di perempatan sebrangnya museum Bank Mandiri. Sayangnya Museum-museum waktu itu masih ditutup. Buat kami semua ga masalah ga bisa masuk museum, kami main-main aja di pelataran depan Museum Fatahillah yang memang luas. Banyak tukang jual makanan, minuman dan barang-barang lainnya. Karena lapar, kita semua pesen bakso. Yang unik, kalau ke kota tua itu bisa beli es potong dengan rasa yang macem-macem cuma 2000 perak. Makan es potong gitu kaya kembali ke masa SD hehhee.

Ga cuma main di lapangan depan museum, kita juga muter-muter, lihat-lihat dan ga lupa foto-foto di gedung-gedung kuno sekitarnya. Kebetulan warna langit senja di Kota Tua bagus banget, kita pun berhasil foto-foto ala meteor garden dengan background langit yang merah.
kaya meteor garden
senjanya bagus banget



Salah satu teman lama jaman kuliah dulu pengen main ke Jakarta, setelah gw jemput dia di Kampung Rambutan, akhirnya gue ajak lah dia main ke Kota tua. Seperti biasa, saya didaulat jadi tukang foto dadakan. Foto-foto di kawasan museum Fatahillah. Di gedung-gedung kuno yang ada di sekitar pelataran.

Dengan sedikit sogokan kami bisa masuk ke dalam museum Seni Rupa dan puas foto-foto di area Museum. Acara foto-foto lanjut ke Stasiun Kota baru akhirnya kami pulang.



Kunjungan selanjutnya ke kota tua berdua sama Dinda. Setelah muncul dari tangga akhir Halte Busway, kami langsung masuk ke Museum Bank Mandiri. Banyak yang berubah di Museum ini. Museum didandani jadi lebih cantik, akrab di mata dan jauh dari kesan menyeramkan seperti dulu (mengingat ketika jaman Belanda, gedung ini pernah digunakan sebagai Rumah Sakit)
Meneer and Mevrouw

Di dalam museum dibuat sebuah kafe plus band yang menyanyikan lagu-lagu jaman Kumpeni. Kami pun poto-poto di sana. Setelah selesai popotoan, kami jalan mengelilingi museum.

Cafe plus Band Jadul
Puas mengelilingi Museum Bank Mandiri, kami pun masuk ke Museum Bank Indonesia. Karena bawa tripod, di meja resepsionis, kami pun dikira awak media. Kebetulan memang sedang ada pemotretan di Museum BI itu. Puas keliling dan foto-foto, perjalanan kami lanjutkan ke Asemka plus berlanjut lagi ke Taman Prasasti.

Perjalanan ke kota tua yang selanjutnya biasanya sekalian ke Asemka. Paling pol itu sholat dan duduk-duduk di Masjid Museum Bank Indonesia karena adem dan lumayan buat istirahat abis berdesakan di Asemka.


Area masjid Museum Bank Indonesia
Intinya sih ke Kota tua sampe sekarang masih menyenangkan. Andai aja PemProv DKI Jakarta punya kesadaran untuk mengembangkan kawasan Kota tua jadi wisata andalan. Malaysia aja punya Georgetown yang jadi Heritage di Unesco masa kita ga bisa, toh sama-sama aja konsepnya Kota Tua. Yaah semoga aja Pak Jokowi bisa mewujudkan Kota Tua makin ciamik dan menarik wisatawan yang ga cuma Indonesia tapi juga mancanegara.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images