CERITA HOROR PART 1

12.20


Masa muda saya (ceileh tuwe sekarang) pernah punya pengalaman misteri yang agak bikin merinding dan benar-benar teringat hingga sekarang. Saya menulis cerita ini malam jumat loh, dijamin merinding-merinding assoy di kamar sendirian


KERETA KUDA

Jaman kuliah di Bandung jadi anak kost itu harus irit dan bisa menyiasati uang kiriman ortu. Salah satu program irit adalah pergi ke warnet jam 12 malam soalnya cuma bayar seribu per jam. Kalau kata temen saya itu mah ngajak chatting kuntilanak kalau online di atas jam 12 malam. Ga tau dia kalau anak-anak ITB juga pada gentayangan jam segitu.

Suatu midnight yang cerah saya jalan bersama gebetan ke warnet  ehehehhehe. Jalan cukup jauh dari kosan di Cipaku ke Warnet yang di Geger Kalong. Tapi koq berani aja ya, mungkin akibat Faktor X yang disebut Serotonin? Hahahhahaa ….

Kami masuk warnet dan duduk di tempat masing-masing. Setelah hampir 2 jam kami berdua berniat pulang. Saat berjalan menyusuri jalan Geger Kalong, tiba-tiba saya melihat sebuah kereta kuda hitam lewat melintasi jalan Setiabudi, persis melewati rumah makan PLO (Penangkis Lapar Orang). Tak percaya dengan apa yang saya lihat, saya pun bertanya pada teman saya itu.

“lu liat kereta kuda ga barusan?” tanya saya.
“kereta kuda apa? Sekarang kan jam 2 dini hari mana ada kereta kuda” jawabnya meyakinkan.

tapi saya yakin betul saya melihat kereta kuda yang ditarik seekor kuda  berwarna hitam. Wallahu Alam Bishawab sih … tapi yang jelas sepanjang pulang saya pegangan terus ke teman saya itu (ehm mungkin itu sebenernya modus)

KEMASUKAN SETAN
Tahun kedua kuliah, 2002 saya bergabung di UKM Teater Mahasiswa. Biasanya kami mementaskan garapan kami di gedung kesenian Lembur Bitung. Gedung kesenian itu berada dalam lingkungan jurusan pendidikan seni. Rumors bahwa tempat tersebut angker memang sudah terdengar kemana-mana, bahkan dibumbui dengan cerita bahwa patung-patung karya mahasiswa seni rupa yang dipajang di Lembur Bitung itu bisa hidup di malam hari.

Ketika pementasan Homo Homini Lupus saya melihat teman saya Iis dan Dian kesurupan. Mereka tertawa melengking dan terus saja melakukan aktivitas yang tidak masuk akal. Iis yang sudah sadar duluan diamankan di kamar. Sementara Dian masih dibantu banyak anggota HI (saya lupa kepanjangannya apa, yang jelas ini UKM silat tapi bernafaskan islam) dan masih saja meronta-ronta. Dian sadar ketika azan subuh berkumandang. Sambil kelelahan Dian bercerita, kalau kesurupan itu sebenarnya dia tahu apa yang terjadi tapi dia ga bisa mengendalikan badannya. Cerita ini pun saya simpan baik-baik.

Setelah satu tahun berproses dan menjadi anggota teater, tibalah saatnya penerimaan anggota baru. Kali ini dari angkatan saya yang berjumlah 15 orang hanya tersisa 3 orang yang mau dan mampu bertahan di teater. Saya, Desi dan Ami adalah ketiga orang tahan banting itu, kami sering disebut Trio Wek Wek.

Selain mengurusi sesi latihan untuk calon anggota baru, kami juga harus menjadi penata untuk 5 naskah yang akan dipentaskan sebagai resital anggota baru. Di sela-sela waktu persiapan latihan menjadi penata lampu, penata make up dan penata kostum, kami juga menjadi aktor “tembak” bagi beberapa naskah. Aktor tembak adalah anggota teater yang bermain di naskah yang sama dengan calon anggota.

Jadi jadwal kami suangat padat, kira-kira bayangannya seperti ini:
1.     Naskah 1
             Penata lampu: Desi, Penata make up: Yunita, Penata kostum:  Ami
             Ami juga berperan sebagai pembantu

2.     Naskah 2
             Penata lampu: Desi, Penata make up: Ami, Penata kostum: Yunita
             sekaligus berperan sebagai Mami
3.     Naskah 3
             Penata lampu: Lizi, Penata make up:  Desi dan Ami, Penata kostum: Yunita
             sekaligus berperan sebagai ibu Warung

4.     Naskah 4
             Penata lampu: Desi, Penata make up: Ami, Penata kostum: Yunita
            
5.     Naskah 5
              Penata lampu: Desi, Penata make up: Ami, Penata kostum: Yunita
       
Bisa dibayangkan dong betapa sibuknya kami, belum lagi setelah selesai pementasan ada acara penjurian pemahaman karakter dan konsep garap oleh para senior. Dan kadang-kadang mulut para senior itu pedasnya ngalahin keripik mak Icih level terpedas.

Ketika pementasan ketiga saya sudah capek sekali, belum kata-kata senior di penjurian malam sebelumnya kurang enak didengar. Badan juga lelaah sekali karena kurang tidur, di tengah-tengah penjurian, tiba-tiba Ami keluar dari panggung berjalan ke ruang kecil di belakang dan mengunci pintu sambil menangis keras.

Melihat Ami yang seperti itu, saya langsung kasih tau Desi untuk membujuk Ami. Tapi bukannya tenang, Ami malah makin histeris, tangisannya makin keras. Langsung saya naik darah, emosi meledak luar biasa, dengan cueknya saya maki-maki senior

“Gara-gara elu semua, Ami jadi begini, gara-gara elu semua kita jadi kaya gini. Pikir dong pake otak, emang kita ga cape apa?”  maki saya sambil menunjuk beberapa senior.

Seolah menyadari ada yang aneh dengan saya, Kang Erwin maju dan berkata
“Nyit, istighfar … ayo istighfar ..”

dan dengan keras saya menyahut “ Engga … Engga!!”

Saat itu saya baru menyadari ada yang aneh dengan diri saya. Otak dan kesadaran saya bekerja dan bertanya “kenapa gue disuruh istighfar malah jawab engga?”
Saya pun lebih heran lagi dengan tingkah saya yang lari keluar dari gedung dan dikejar A Dedi Warsana, ia berusaha menenangkan saya, tapi jawaban saya hanyalah ketawa cekikikan yang melengking tinggi sekali. Saat itu saya sadar kalau saya sudah ditumpangi, semakin hati dan pikiran saya menjerit A Dedi toloong saya, makin keraslah lengkingan suara cekikikan itu. Gusti … tepok jidat dehhh hehhehehe

Untungnya saya berhasil diamankan di ruang kecil tempat Ami tadi menangis. Saya lihat dia sudah tenang  dan khawatir dengan kondisi saya yang diseret-seret dan terus menerus tertawa melengking. Seorang senior terus membaca ayat suci di telinga saya, senior yang lain berusaha memencet ibu jari kaki, saya terus meronta-ronta sampai hampir 15 menit akhirnya saya bisa menguasai kesadaran saya sendiri.

Akhirnya saya pun dibawa ke sekretariat, dan tidur kelelahan. Pagi harinya saya baru tahu kalau Desi juga kesurupan karena emosi melihat kondisi saya dan Ami. Benar-benar pengalaman aneh, intinya sih memang harus ingat tidak boleh berlebihan emosi kalau tidak mau ditumpangi.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images