DIENG CULTURE FEST

09.36



Tur kali ini adalah episode lanjutan dari ke Baduy. Masih mengekor pada Rahman sang ketua rombongan, karena ongkos share tripnya paling murah dan paling nyaman dibanding TS lain. Perjalanan kali ini makin istimewa karena saya mengajak sahabat saya Desi untuk ikut.


Perjalanan dimulai dari berkumpul di UKI. Peserta trip lumayan banyak, hingga panitia menyewa 2 mobil elf. Tepat pukul 9 malam kami berangkat meninggalkan Jakarta. Mulanya kami mengira perjalanan malam akan sangat lancar, tapi salah saudara-saudara. Jalur Pantura didera macet tak terkira, dua sampai tiga jam berlalu tak juga kami beranjak dari Indramayu. Mungkin karena libur panjang, mungkin juga karena acara cukur rambut gimbal di Dieng telah diblow up habis-habisan oleh National Geographic. Jujur saja, saya tahu ada acara Dieng Culture Festival atau acara cukur rambut gimbal anak-anak “turunan Dewa” di Dieng justru dari chanel TV Cable, National Geographic.

Pagi hari rombongan kami baru sampai di Cirebon. Sisa perjalanan sungguh berlalu cukup melelahkan walaupun sudah tidak macet lagi. Memasuki sore hari, perjalanan kami memasuki wilayah Wonosobo. Mata kami dimanjakan dengan jalan yang berhiaskan bukit-bukit indah nan menghijau.

Pukul 4 sore kami sampai di penginapan, Losmen Bu Djono namanya. Setelah menempati kamar masing-masing, saya sekamar bertiga dengan Desi dan Claudia (teman seperjalanan ke Baduy) dan makan nasi kotak kami pun segera bersiap. Kami akan pergi ke Telaga warna untuk menikmati senja di sana.

SUNSET TELAGA WARNA

Senja mulai memerah, langit sedikit berjelaga. Rombongan kami mulai mendaki jalur setapak menuju puncak bukit Telaga Warna dipimpin oleh mas Sugeng sang guide lokal. Jalur pendakian masih cukup nyaman lah dbandingkan track  Baduy.


Cuma bisa bilang Subhanallah … pas sampai puncak bukit. Telaga warna yang jernih dikelilingi perbukitan membentang di depan mata. Baguus banget, ditambah memerahnya langit senjakala bikin kita jeprat jepret mengabadikan momen cantik ini. Tak bisa lama-lama di puncak bukit karena malam akan segera turun, kami pun kembali ke bawah.

ngetrip bareng sahabat

beautiful sunset

Wisata berlanjut ke Dieng Plateau Theater. Sebuah gedung yang memutar film pendek, dokumenter tentang profil Dieng. Hawa Dieng makin malam makin dingin, saya merapatkan jaket begitu selesai menonton film dan kembali ke Losmen.

menunggu giliran menonton
Di Lapangan alun-alun tak jauh dari losmen ada pasar malam dan pertunjukan wayang golek. Saya dan Desi pun tak mau ketinggalan, kami pun jalan menuju alun-alun. Udara makin dingin mengigit, terpaksa kami pun membeli sarung tangan dan kupluk juga syal, penampilan kami tak ubah layaknya tukang villa di puncak.

gagal paham wayang kulit boso jowo
Sesampainya di alun-alun, kami sempat jajan-jajan minuman dan makanan ringan. Di panggung utama sedang ada pertunjukan wayang. Kami mencoba menikmati, namun apa daya ga paham bahasa jawa membuat kami akhirnya menyerah dan memilih makan carica pepaya khas dieng. Tak berapa lama kami kembali ke losmen untuk istirahat.

Sunrise Bukit Sikunir

Rombongan kami bangun pagi, selepas sholat subuh kami mulai perjalanan menuju Bukit Sikunir untuk menikmati sunrise di sana. Pengunjung Dieng kali ini luar biasa membludak, Bukit Sikunir dipenuhi oleh wisatawan. Kami merangsek maju dengan berjalan setapak demi setapak. Well kalaupun Bukit tak penuh dengan wisatawan pun pasti kemampuan mendaki saya tetep sama saja.

Sunrise Bukit Sikunir

Dan benar saja, pemandangan puncak bukit luar biasa cantik. Bias – bias sinar mentari terbit mengintip dari celah dedaunan. Ahhh speechless jadinya. Karena bukit makin penuh, mau tidak mau kami harus turun untuk berganti tempat dengan wisatawan lainnya.

cantiknya gunung Bromo dari puncak Bukit Sikunir

bermandikan sinar mentari pagi
Di bawah, menuju tempat parkir kami melihat banyak pedagang menjajakan makanan ringan yang cukup aneh. Loyang kecil berukuran bundar diisi campuran tepung dan kelapa, seperti adonan sagon kemudian dibakar di atas perapian. Harganya hanya Rp. 2500 saya pun membeli empat. Sagon khas Dieng itu pun kami nikmati panas-panas disajikan di atas piring seng jadul membuat kami tak tahan untuk tak mengabadikan.

bantuin kipas - kipas
mari makan sagon

Perjalanan kami lanjutkan lagi menuju tempat parkir mobil yang ternyata di depan telaga bersih dan jernih yang bernama telaga Cebong. Meski namanya Cebong alias anak kodok, telaga ini cukup indah dipandang mata. Sesi foto model pun dimulai lagi.


Playing around
Telaga cantik walau namanya Cebong

eksotika panorama Telaga Cebong

Candi Arjuna dan Kawah Sikidang

Kami kembali ke losmen untuk sarapan dan bersih-bersih sekembalinya dari Bukit Sikunir. Tujuan wisata kami selanjutnya adalah kompleks Candi Arjuna dan Kawah Sikidang.
Candi Arjuna ya selayaknya candi-candi pada umumnya. Berbeda dari Prambanan ataupun Borobudur yang besar dan megah, Candi Arjuna adalah candi-candi kecil, dilihat dari bentuk ujungnya yang lancip-lancip sepertinya adalah candi Hindu. Tak hanya foto-foto di sini kami malah asyik belanja oleh-oleh khas Dieng antara lain carica pepaya, kentang merah, kayu naga, opak dan sebagainya.

pepotoan di Candi, di samping saya itu Mas Sugeng

Lanjut menuju Kawah Sikidang yang penuh belerang dan sulfur. Karena gas belerang cukup berbahaya, Mas Sugeng sang guide meminta kami mengenakan masker. Uniknya di Kawah Sikidang ini terdapat studio foto dadakan yang menyediakan property berupa mountain motorbike dan kuda. Jadi pengunjung bisa berfoto ala coboy atau ala cross biker.

Masker is a must, kawahnya bau belerang


Dieng Culture Festival

Rombongan kami diberi nametag sebagai peserta pengunjung Dieng Culture Festival oleh Mas Sugeng, artinya kami diberi kebebasan untuk merangsek masuk ke area upacara pemotongan rambut gimbal. Cuaca cerah mendekati panas, perhelatan pun segera dimulai. Hari ini 5 orang anak berambut gimbal akan dipotong rambutnya. Mereka bebas meminta apapun dan harus diwujudkan oleh orang tuanya. Untungnya anak-anak ini masih polos dan jauh dari kesan matre, bayangkan saja ada peserta yang hanya minta agar-agar dan coklat, beuuh kalau dia anak Jakarta pasti sudah ada-ada saja permintaannya mulai dari playstation  sampai motor mungkin.

tempat upacara pencukuran rambut gimbal
keramaian pengunjung dan media peliput
yang mau dicukur rambutnya

Begitu perhelatan berakhir, kami bersiap kembali ke penginapan untuk check out dan kembali ke Jakarta. Perjalanan pulang terbilang cukup lancar namun tetap waspada jalur pantura, sayangnya kami tak jadi menikmati mie ongklok, kuliner khas Dieng. Jalur pulang kali ini lewat jalur tengah yaitu menuju Majalengka, Cileunyi Bandung. Karena kebetulan lewat Majalengka, Desi pun berpisah dengan rombongan. Lebih baik sih daripada ikut pulang ke Jakarta terus balik lagi ke Majalengka.

Perjalanan kali ini cukup seru dan punya nilai budaya. Alam Indonesia memang sungguh kaya, mungkin suatu saat saya bakal mampir-mampir lagi ke Dieng.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images