Taman Prasasti

19.35



Masih inget ga sama video klip Base Jam (salah satu band papan atas tengah dan juga bawah saking ngehits nya) yang judulnya Bukan Pujangga atau video klip Chrisye yang berjudul Merpati Putih? Inget doong. Kedua video klip ini berlokasi di tempat yang sama yaitu di Taman Prasasti.


Suatu sabtu yang ceria, saya dan Dinda niat berkeliling museum perjalanan kita mulai dengan mengunjungi museum Bank Mandiri dan Bank Indonesia kemudian naik mikrolet ke Tanah Abang untuk menuju museum Taman Prasasti.

meneer und mevrouw van Bank Mandiri

suatu sudut di Museum Mandiri

Museum Bank Indonesia
Pada saat itu sudah pukul empat sore. Tidak ada tiket masuk resmi ke dalam museum ini, atau mungkin loketnya sudah tutup, namun seorang petugas kebersihan memperbolehkan kami berdua masuk, sebagai imbala kami berikan bapak itu “uang rokok”

Inilah dia … museum yang sebenarnya seram dong wong ini bekas kuburan Belanda, burung gagak juga ada yang terbang seliweran. Beberapa nisan dalam kondisi menyedihkan, patung – patung tak lengkap, kotor dan sebagian dicorat coret oleh tangan – tangan iseng yang kalau ketemu pasti mukanya bakal saya coret – coret juga. Heran koq ga bisa ya mengapresiasi sesuatu yang bagus gitu, dikira corat coret itu keren kali ya.

sediihhh ... huhuhuhu ...


Seperti biasa saya langsung memasang tripod dan kamera supaya bisa berfoto – foto cantik tanpa harus bergantian. Menilik sejarah Taman Prasasti juga cukup menarik untuk diceritakan.

Museum Taman Prasasti Jakarta mulanya kompleks kuburan Belanda, Kerkhof Laan, yang kemudian dikenal sebagai kuburan Kebon Jahe Kober. Kuburan seluas 5,5 ha di tanah hibah Van Riemsdijk itu dibangun tahun 1795 untuk menggantikan kuburan di samping gereja Nieuw Hollandsche Kerk, sekarang Museum Wayang, dan dari Gereja Sion Jakarta, akibat larangan Daendels untuk tidak mengubur mayat di sekitar gereja dan tanah pribadi.

Kuburan Kebon Jahe Kober itu ditutup pada 1975 karena tidak ada lagi ruang tersisa. Semua mayat di Pemakaman Kebon Jahe Kober kemudian dipindahkan ke pemakaman lain, seperti Menteng Pulo dan Tanah Kusir, dan dijadikan Museum Taman Prasasti yang secara resmi dibuka oleh waktu itu Gubernur DKI Ali Sadikin pada 7 Juli 1977 dengan koleksi prasasti, nisan, tugu, dan makam sebanyak 1.372. Saat ini luas museum ini tinggal 1,3 ha.

Museum ini menjadi semacam tempat pamer karya seni kubur masa lampau yang keindahannya melebihi seni kubur masyarakat umum sekarang ini, dan menjadi menarik dan informatif jika ada penjelasan di setiap prasasti. Penjelasan semacam itu membuat pengunjung memahami latar sejarah dan mendapat manfaat dari kunjungan mereka.

sumber dari sini

Setuju banget sama pendapat bahwa nisan di Taman prasasti adalah maha karya seni yang diukir di Batu pualam juga perunggu. Belum lagi tulisan – tulisan penuh cinta bagi almarhum yang dimakamkan yang terukir di batu nisannya. kami pun berfoto dengan beberapa nisan yang unik.


nisan yang berbentuk harpa

ada ukiran tirai dan buku tebal






Yang menarik lagi, menurut beberapa sumber di Taman Prasasti dapat ditemukan tulisan seperti ini “SOO GY NU SYT WAS IK VOOR DEESEN DAT JK NV BEN SVLT GY OOK WEESEN” yang berarti “Seperti Anda sekarang, demikianlah Aku sebelumnya. Seperti Aku sekarang, demikianlah juga Anda kelak”. Sayangnya saya belum berhasil menemukannya pada saat itu, sepertinya harus ke sana lagi, apalagi sekarang ini Museum Prasasti telah dipercantik dan ditata ulang, jadi ga sabar ingin ke sana.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images