TEATER PART 1

12.32


PENGGIAT

       Being lost in “Art of theater” Jungle itu judulnya. Benar-benar tersesat di jagad teater dan berakhir dengan mencintainya amat sangat. Sebenarnya awal mendaftar masuk teater hanya untuk mengantar kedua teman dari jurusan Teknik Mesin yang tiba-tiba ngebet masuk teater. Menjadi anggota LAKON Teater UPI Bandung bukanlah mudah dan cepat. Ada berbagai tahapan dan proses yang harus dilalui. Seluruh rangkaian proses ini berujung dengan pementasan yang disebut Resital. Dan inilah perjalanan berteater selama 3 tahun di Bandung.


Angkatan Resital 2002

Homo Homini Lupus

       Walau belum sah menjadi anggota tetap di LAKON saya bersama dua sahabat saya Choki dan Indro sudah diperbolehkan menjadi salah satu aktor di pementasan yang berkolaborasi dengan teater tarian Mahesa.

       Naskah Homo Homini Lupus ini adalah karya Gusjur Mahesa dan disutradarai langsung olehnya. Naskah ini cukup absurd, karena kami tidak berdialog layaknya naskah realis.
kami diharuskan memakai bahasa yang tidak dikenali. Beberapa fragmen seperti refleksi dari peristiwa tragis tahun 1998. Mungkin tepatnya rangkaian jalan cerita Homo Homini Lupus adalah kesederhanaan, kerja sama, permainan tradisional kemudian masuk modernisme klimaks kehancuran dan kelahiran kembali.

       Kostum pementasan ini pun cukup ajaib. Tiap aktor memakai pakaian kaos putih dan celana pendek jeans, ada beberapa yang memakai setelan putih-putih. Rompi dari kantong plastik kresek berwarna merah. Seluruh kepala berbalutkan jalinan tali raffia. Wajah dipulas dengan warna putih layaknya pemain Kabuki.

       Pementasan ini dibuka dengan lagu “Hura Hura Huru Hara” yang dibawakan oleh Yari KPIN yang memang bertugas sebagai penata musik, ketika lagu selesai dinyanyikan, lampu dipadamkan. Beberapa pemain merayap dari tempat duduk penonton sambil meneriakan kata kamu dengan aksen masing-masing sesuai arahan dari penata musik. Saya kebagian meneriakan “kamu” dengan bernyanyi, Desi dengan nada bingung, lucunya Yusak dengan nada marah membuat beberapa orang jadi takut.

       Enaknya menjadi aktor sebuah pementasan adalah adanya tiket gratis untuk 2 orang undangan. Tiket gratis saya waktu itu saya berikan ke gebetan (uhuuy) sebagai ucapan terima kasih karena awalnya saya malas untuk latihan pementasan ini, tapi pada saat itu sang gebetan menyemangati dan minta free ticket khusus undangan itu. Tentu saja latihan pun jadi semangat 45 hahhahaha.


Homo Homini Lupus, seusai pementasan

Barangsiapa Mau Mencium 

       Pementasan kedua kali ini adalah naskah resital saya. Naskah yang diadaptasi dari cerpen karya Yanusa Nugroho dengan judul yang sama berlatar di tanah Melayu. Mungkin karena sutradara kami berasal dari negeri Rencong Aceh, ia ingin mengangkat naskah seperti ini.

        Kisah yang menceritakan tentang gegernya sebuah kerajaan akibat sang Putri terkena penyakit kulit. Penyakit yang menghancurkan kecantikan sang Putri, penyakit yang tak ada obatnya meski semua dukun sakti telah didatangkan ke Istana. Raja Akhirnya membuat pengumuman, barangsiapa yang mampu menyembuhkan putrinya akan dinikahkan dan menjadi seorang raja.

       Sementara itu di sebuah desa, hiduplah dua pemuda yang bersahabat, Lebak dan Doon. Lebak adalah anak Emak satu-satunya, ia begitu menurut dan manja pada emaknya. Begitu mendengar sayembara menyembuhkan sang Putri, ia pun tertarik untuk mengikuti. Ternyata Doon sahabat Lebak tahu bahwa ada sebuah tumbuhan yang dapat menyembuhkan putri. Berbekal tumbuhan itulah, Lebak mencoba peruntungannya di Istana.

      Pada pementasan ini saya berperan sebagai Emak, sementara Lebak diperankan oleh sahabat saya Indro. Tantangan terbesar naskah ini adalah ketika saya harus mengunyah sirih dan memakannya tanpa ragu apalagi menampakan ekspresi ga enak. Seru bin ajaib deh rasanya.


Lewat Tengah Malam 

Naik panggung selanjutnya adalah pementasan Resital 2003 menjadi aktor tembak. Berbagi waktu latihan dengan satu naskah lagi adalah tantangannya. Belum lagi kesibukan sebagai panitia PAB LAKON dan penata di semua pementasan.

Lewat Tengah Malam adalah naskah adaptasi. Bersetting di Jerman, naskah ini bercerita tentang 3 orang pelacur yang sedang berbagi cerita tentang bagaimana mereka bisa terjerumus dalam dunia hitam.

Saya berperan sebagai Mami di sini, induk semang dari ketiga pelacur tersebut. Ketika itu saya juga menjadi penata kostum. Dan pementasan itu saya banyak mendapat kritik karena kostumnya dinilai terlalu berani.

Jantera Bianglala

Buku terakhir dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari rupanya cukup menarik untuk dijadikan pementasan. Teh Rani selaku sutradara mengaaptasi novel yang dibumbui roman sejarah kelamnya tahun 1960an, zaman PKI dan periode penumpasannya menjadi naskah yang patut diacungi jempol.

Selain menjadi penata make up, saya juga menjadi salah seorang pemain dari naskah tersebut. Saya menjadi ibu pemilik warung yang sering disinggahi oleh laki-laki yang mencintai Srintil sang mantan ronggeng untuk memberikan cinta dan penghidupan yang lebih baik.


O Amuk Kapak

Kali ini Lakon Teater menggelar acara bertajuk Sepekan Pementasan Drama yang bertajuk SPERMA. Kali ini saya naik panggung lagi dengan naskah O Amuk Kapak yang disutradarai oleh Dian Nendi.

Naskahnya merupakan adaptasi dari antologi puisi dengan judul yang sama karya Sutardji Calzoum Bachri. Pementasan ini mungkin terbilang absurd bagi mereka yang tidak paham. Dengan kostum ala eksekutif muda, kami berenam memangul kapak dan duduk berkeliling sambil merapalkan dialog masing-masing.




Roti Buaya

Pengalaman dua tahun di Lakon Teater mengharuskan saya dan sahabat saya Desi untuk naik kelas menjadi seorang sutradara. Resital 2004, saya memilih naskah karya Arthur S Nalan yang berjudul Roti Buaya. Disengaja ataupun tidak, tema Resital tahun itu seperti pesta kebudayaan. Saya yang asal Jakarta, menampilakan naskah yang kental dengan nuansa budaya Betawi, Desi yang asli majalengka mementaskan drama karya N Riantiarno yang sudah diadaptasi ke dalam Bahasa Sunda dengan judul “Katumbiri Nutug Leuwi” dan Syukur menampilkan naskah dengan budaya Jawa. Resital tahun ini sungguh berbeda.

Naskah Roti Buaya saya temukan

Selama ini kami selalu pentas di gedung kesenian Lembur Bitung, namun kali ini kami pindah ke gedung kecil di depan Fakultas Ilmu Pendidikan. Naskah saya tampil di hari pertama. Agak grogi dan nervous, maklum lah pertama kali jadi sutradara. Pentas berakhir dengan baik diakhiri dengan sesi tanya jawab dengan penonton. Yang agak membuat was-was sebenarnya adalah sesi penjurian dengan senior. Apalagi dengan kejadian tahun kemarin, kita kemasukan setan. Penjurian tahun ini juga dibuat santai dn “bersahabat” juga waktunya tidak lama. Lega sudah perasaan, beban seketika terangkat selanjutnya tinggal menikmati dua pertunjukan lagi.



Harewos Goib

selepas menyutradari resital LAKON, entah bagaimana mulanya tiba-tiba saya terseret masuk ke dalam proses pementasan teater Sunda Kiwari. Lucunya saya sering ditegur kang Dadi P Danusubrata sang sutradara karena salah mengekspresikan kalimat-kalimat dalam dialog Nini Candoli sang Kepala Juru Masak yang saya perankan. Maklum dialog itu dalam bahasa sunda dan tidak semua saya paham maknanya. Lucu juga mementaskan sesuatu yang saya harus belajar lagi di lingkungan baru pula.

Harewos Goib adalah cerita dimana para Demang sedang was was dikarenakan adanya harewos goib dari batavia bahwa akan ada pergantian kekuasaan. Harewos goib atau bisikan gaib atau artinya kurang lebih adalah kabar burung. Para nyonya-nyonya demang pun sibuk bergosip antara mereka tentang kehebatan suami masing-masing dan siapa yang pantas tetap menjadi Demang ataupun tidak.

Harewos Gaib adalah pementasan terakhir saya karena setelah lulus kuliah, kembali ke Jakarta dan masuk ke dunia kerja, praktis saya tidak bergabung di teater manapun. Sering ada kerinduan untuk berproses lagi dan ingin terlibat dalam pementasan lagi.



You Might Also Like

3 comments

  1. Waah, ternyata jejak berteaternya banyak ya, nyit, jadi bekal untuk kita berkarier saat ini yaaa, bisa berkunjung juga ke www.raniyulianty.com

    BalasHapus
  2. ga banyak juga sih teh, kurang malahan. kadang masih suka kangen

    BalasHapus
  3. Ini yang bikin aku interest sama Nyit2 datanya lengkap, Nyit masih menyimpan poster, katalog, leaflet dari Sperma ampe HHL,bikin ngangenin, main ke https://idea-idea-online.blogspot.co.id/

    BalasHapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images