Tour the Java ( A Story from Malang To Jogja)

19.31


Penghujung tahun 2012, lingkungan RW saya ngadain acara tour keliling Jawa. Bapa sebagai ketua RT dari sekian banyak RT yang ada di RW pun terdaftar sebagai peserta. Karena banyak acara di sekolahnya, bapa ga bisa ikutan ngetrip tapi karena udah bayar jadi saya ditunjuk buat gantiin.


Kami semua kumpul di Hutan Kota. Setelah sarapan dan berdoa, bus Bluestar pun berangkat. Tujannya langsung ke Malang. Ga kebayang deh, ini pertama kalinya saya jalan jauh naik bus. Perjalanan terhitung lancar memasuki jalur Pantura.

Rombongan kami sampai di Kota Brebes pukul 4 sore. Di alun–alun kami istirahat dan sholat ashar. Lucunya kota Brebes punya tugu yang berbentuk irisan bawang, ya memang Brebes kan tenar bawang merahnya. Selepas sholat Ashar di masjid besar Brebes, pandangan saya menemukan makanan yang berbeda. Nama makanan ini pernah saya baca di buku Benny Rachmadi, kartunis yang beken dengan karya duetnya yaitu “Benny & Mice”.  Namanya Kupat Glabed. Yang saya baca, kupat glabed ini adalah ketupat yang dimakan bersama sate dari blengong. Blengong adalah anak dari itik dan entok yang katanya dagingnya jauh lebih enak dari bebek. Penasaran, saya pun membeli. Bener loh dagingnya empuk, bumbu satenya juga enak. Persis seperti di buku “ Tiga Manula keliling Pantura”.

Alun-alun dengan monumen "irisan bawang"

Masjid Agung Brebes

ini dia sate blengong dengan tusuk sepanjang sapu lidi
Pagi harinya kami memasuki perbatasan Jawa timur dan masuk tol Surabaya. Karena pergi bersama orang-orang tua, maka bus ini sering berhenti karena mereka ingin ke toilet jadi sampai Surabaya sudah agak siang. 

Keluar tol, kami disuguhi pemandangan Porong yang tenar akibat bencana lumpur Lapindo. Terbentang dinding yang tinggi, yang didalamnya katanya terdapat lumpur panas yang meletup-letup. Banyak bangunan di sekitar tembok tinggi itu kotor penuh debu jalanan. Di sana sini saya masih melihat beberapa spanduk yang meneriakan hak mereka yaitu ganti rugi yang kabarnya belum juga dilunasi. Ada juga informasi menarik mengenai wisata lumpur lapindo dengan biaya seikhlasnya. Kami tak mampir apalagi wisata melihat lumpur karena masih harus meneruskan perjalanan ke Malang.

MALANG

Sampai di Wisma DEPSOS, tepat waktu makan siang. Setelah makan siang kami masuk ke kamar masing-masing. Saat itu acaranya bebas. Ada yang menemui keluarganya, ada yang jalan-jalan. Akhirnya rombongan ibu-ibu memutuskan jalan-jalan ke pasar kota Malang. Dengan naik angkot hijau seperti di Bogor, kami berangkat menuju pasar. Awalnya jalan beramai-ramai sampai akhirnya terpisah karena kondisi lorong pasar yang sempit ditambah hujan deras pula di luar.

di seberang Wisma Depsos
Wisma Depsos
Rombongan kami tinggal berenam orang. Ada seorang ibu-ibu yang orang Malang dan diharapkan bisa membantu mengarahkan jalan. Namun … sungguh menggemaskan, ibu ini dengan cueknya masuk-masuk ke lorong-lorong pasar untuk beli ikan asin, terasi dan petis tanpa melihat teman-temannya sesama ibu tersesat atau tidak. Yang bikin tambah bête ibu ini dengan gaya kemayu mencolek semua terasi dan petis untuk mencobanya. Cukup sudah, saya langsung emosi jiwa. Beli kaya begitu di pasar Jakarta juga ada, bukannya ngajak rombongan ke tempat menarik atau landmark Malang malah belanja gituan. Saya ajak ibu saya keluar pasar, toh kami ga beli apa-apa di Pasar.

Bertahun-tahun jadi traveler membuat saya selalu menghafal beberapa petanda lokasi. Wisma kami tepat di sebelah asrama tentara yang ada tulisan lapangan Rampal. Celakanya ketika memilih Angkot, banyak yang kami tanya menjawab tidak tahu lapangan rampal atau rumpal itu, entah saya salah menyebutkan atau memang yang saya tanya ga bisa bahasa Indonesia. Akhirnya saya mengajak ibu saya dan seorang ibu yang mengikuti kami, naik angkot menuju stasiun Malang. Saya memilih menuju stasiun Malang karena tadi ketika berangkat kami melewatinya dan jaraknya seperti tak begitu jauh dari penginapan.

Hujan rintik masih terus membasahi saat angkot menurunkan kami bertiga persis di sebarang stasiun Malang. Tawar menawar becak pun dimulai, kami menyewa dua becak. Saya berdua ibu saya dan si ibu itu sendiri. Dan benar saja tak sampai 5 menit naik becak, kami sudah sampai di Wisma Depsos di seberang lapangan Rampal. Tak lama kemudian si ibu yang beli terasi itu pun sampai juga di Wisma.

Stasiun Malang

hujan rintik terlihat dari dalam becak
Malamnya acara ramah tamah dan makan malam seperti biasa. Om saya, adik mama yang kebetulan dinas di Malang datang ke Wisma. Kami diajak jalan-jalan dan belanja di toko oleh-oleh. Sayang, sebenarnya saya ingin sekali kulineran di Kota Malang karena ini pertama kali kesini tapi ya sudah malam juga sih jadi ga sempat.

Pagi harinya, sudah menjadi kebiasaan jika acara dengan RW pasti ada senam dan games pagi hari. Senam pun dilakukan di halaman Wisma. Seusai senam, kami sarapan dan bersiap untuk meninggalkan Malang menuju Jogja.

grup senam

Saya sempatkan berkeliling dulu mencari objek foto. Setelah tas saya dan mama rapi dan saya bawa ke bus, saya keluyuran sendiri sambil membawa kamera dan tripod tentu saja untuk mengambil foto sekeliling Wisma Depsos.



pasti makanannya berwarna-warni

Perjalanan selanjutnya menuju kawasan wisata Batu. Jalanannya bagus dan berkelok-kelok dan sampailah kami di agrowisata Kusuma di daerah Batu. Entah belum survey sebelumnya atau bagaimana, ternyata tiket masuk agrowisata ini agak mahal sehingga panitia sepakat untuk pindah ke tempat lain.






Walau tidak masuk tapi kami sempat berfoto-foto di depan taman dan sebagian rombongan sepertinya membeli beberapa oleh-oleh dan buah strawberry. Perjalanan menuju Jogja pun lanjut lagi. Akhirnya kami beristirahat di Waduk Selorejo.

Waduk ini biasa saja. Namun punya kuliner khas. Di sekeliling pintu waduk banyak rumah makan yang berjualan ikan goreng, udang dan sebagainya yang ditumpuk banyak di atas nampan. Ikan wader menjadi sajian andalan tiap rumah makan tersebut. Sambil para panitia menyiapkan makan siang, kami pun jalan berkeliling naik perahu.

tumpukan lauk pauk

udang goreng yang enak banget keliatannya
Perahu mesin mengelilingi waduk dan berhenti di sebuah pulau kecil. Hampir sebagian besar pulau kecil ini ditanami jambu klutuk. Pengunjung boleh memetik sendiri dan menimbangnya di pintu keluar. Beberapa orang tampak heboh memetiki jambu yang jumlahnya tak begitu banyak dalam sebatang pohon. Mungkin sedang tidak musim. Saya pun mengeluarkan alat kebanggan, tripod dan pocketcam untuk sekedar mencari objek foto di pulau Jambu ini.

mengarungi danau Selorejo

pemandangan danau
baru saja sampai

bergaya di antara pepohonan jambu klutuk





Kami semua makan siang bersama selepas kembali dari pulau jambu. Seperti dugaan saya, makan siang ini di salah satu rumah makan yang menyediakan tumpukan goreng ikan dan sambal dadakan. Enak sih, apalagi sambil menyesap es kelapa dari batoknya. Di sini kami membeli apel Manalagi khas kota Malang. Apelnya enak dan renyah.

Perjalanan lanjut kembali menuju Jogja melewati Blitar. Tadinya saya pikir akan mampir ke makam Bung Karno ataupun singgah di kota kecil tempat Gusdur dimakamkan. Nyatanya karena hujan makin deras perjalanan terus berlanjut menuju rumah di kampung salah seorang panitia RW. Sampai di desa tersebut kami beristirahat, mandi juga makan malam sambil beramah tamah dengan keluarga yang rumahnya disinggahi.

Tepat pukul 9 malam kami melanjutkan lagi perjalanan. Keluarga itu membungkuskan kami nasi dan lauk pauk. Pukul 4 pagi bus kami sudah memasuki pinggiran Jogja. Supir yang lelah ingin istirahat dulu di sebuah Rest Area. Peserta juga istirahat di masjid merebahkan tubuh dan memanjangkan kaki yang terlalu lama duduk dan tertekuk.

JOGJAKARTA

Pukul 8 pagi kami sudah memasuki Wisma Depsos Jogja. Sayangnya kami belum bisa masuk kamar karena masih ditempati oleh yang lain. Seusai sarapan dan tas dikumpulkan, kami jalan lagi menuju pusat oleh-oleh dan pantai Parangtritis.

Kami membeli oleh-oleh di sebuah toko yang besar di dekat bandara. Bakpiannya macam –macam rasa. Supaya semua rasa dicoba, kami membeli beberapa boks bakpia dengan kombinasi rasa. Stelah oleh-oleh kami lanjut lagi menuju Parangtritis. Ternyata Jogja pun macet, menuju pantai jalan tersendat beberapa kali.

Pantai Parangtritis tak ubahnya Ancol di Jakarta, masih cakep Ancol deh sedikit. Hawanya panas dan gersang, pantainya kotor saya pun malas mengambil foto di sana. Saya dan mamam cuma beli-beli kaos dan baju batik di kios sepanjang pantai. Karena tak tahan hawa panas dan gersang di bibir pantai, kami duduk makan bakso dan es kelapa di tempat parkir yang sedikit lebih teduh dibandingkan di pantai.

Kembali ke Wisma sudah sore hari, kami mandi beres-beres dan bersih. Karena kondisi mama yang tidak memungkinkan, saya jalan sendirian di sekitar penginapan. Tapi objek foto yang menarik tidak dapat. Ya wis saya masuk circle K aja beli coklat monggo.

Malam berlalu cuma ngobrol-ngobrol aja di Wisma. Ada beberapa pedagang yang datang dan menggelar dagangannya di depan Wisma. Ada kaos, pulpen, keripik-keripik dan sebagainya.

Pagi hari kali ini tak ada acara olahraga. Mungkin karena sudah lelah di jalan. Seusai sarapan kami beres-beres dan siap-siap check out. Saya dan mama menyempatkan diri untuk mencoba salah satu makanan khas Jogja yang warungnya persis disamping Wisma, yaitu Kupat Tahu.

Kupat Tahu Kidul Pak Budi
es campur
seporsi kupat tahu
Perjalanan pulang pun dimulai. Kami meninggalkan Jogja. Pulangnya melewati Pekalongan, Sukaraja melalui jalur alternatif. Sampai di Jakarta malam hari. Capek luar biasa, dan ga terlalu puas eksplorasinya. Maklum deh namanya juga jalan sama orang tua. Dari situ saya bertekad harus ke Jogja dan Malang lagi sampai puas.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images