Tour the Museum

19.23



Liburan habis lebaran bikin Jakarta sepi ga ada deh acara macet-macetan, kesempatan langka ini pun gue manfaatkan buat jalan-jalan. Kali ini perjalanan menuju utara Jakarta barengan sama Dinda dan Fitri temannya. Tujuan kita adalah Stasiun Tanjung Priok, Menara Syahbandar dan Museum Bahari.




Stasiun Tanjung Priok

Kami mulai perjalanan kami dengan naik busway dari PGC menuju Terminal Tanjung Priok. Jakarta Utara panas luar biasa, namun jalanan yang sepi dan ac di dalam busway cukup membuat nyaman. Begitu turun dan keluar halte busway, kami langsung menuju bangunan tua dan unik.

suasana di depan stasiun
Entah sedang tidak beroperasi atau bagaimana, yang jelas stasiun ini sangat sepi. Kami tidak diperbolehkan masuk, namun saya nekat menemui Kepala Stasiun dan menjelaskan tujuan saya datang dan akhirnya saya diperbolehkan masuk dengan gratis. Alasannya: saya bilang saya ini guru yang ingin mengajak murid-murid saya berkunjung dan menghargai bangunan-bangunan bersejarah. Yahh bisa dibilang salah satu benefit jadi guru deh hehehhehhe

Di dalam beberapa jalur lintasan kereta api, terparkir dua rangkaian kereta api baru. Sepertinya baru dibeli dari Jepang. Beberapa ornamen kereta ini masih berbalut plastik, benar-benar gress.

bergaya bareng kereta baru





Stasiun ini benar-benar megah pada zamannya. Saya menghimpun beberapa artikel yang menjelaskan sejarah Stasiun ini.

Stasiun ini dibangun tepatnya pada tahun 1914 pada masa Gubernur Jendral A.F.W. Idenburg (1909-1916). Untuk menyelesaikan stasiun ini, diperlukan sekitar 1.700 tenaga kerja dan 130 di antaranya adalah pekerja berbangsa Eropa.
Bahkan sejak diselesaikannya stasiun ini, telah timbul protes mengenai "pemborosan" yang dilakukan dalam pembangunan stasiun ini. Dengan 8 peron, stasiun ini amatlah besar, dan nyaris sebesar Stasiun Jakarta Kota yang pada masa itu bernama Batavia Centrum. Sementara, kereta api-kereta api kapal yang menghubungkan kota-kota seperti Bandung dengan kapal-kapal Stoomvaart Maatschappij Nederland dan Koninklijke Rotterdamsche Lloyd langsung menuju ke dermaga pelabuhan dan tidak menggunakan stasiun ini. Stasiun ini terutama hanya digunakan untuk kereta rel listrik yang mulai digunakan di sekitar Batavia pada tahun 1925.

sumber dari sini

Uniknya, di stasiun ini terdapat sejenis bunker dan terowongan yang katanya bisa tembus ke Pelabuhan Tanjung Priok. Selain itu, stasiun ini sebenarnya memiliki fasilitas yang cukup memadai saaat itu. Mulai dari sebuah restoran yang sangat keren dengan lift yang digunakan untuk mengantar makanan ke pengunjung yang menginap di sana.
Menginap? Ya, dulu di lantai dua Stasiun Tanjung Priok ini terdapat penginapan yang banyak di gunakan oleh penumpang yang datang dari luar negeri. Kebanyakan dari mereka sedang menunggu jadwal keberangkatan kereta, semacam transit.

sumber dari sini

loket tanpa petugas
dinding yang kuno nan antik

Menara Syahbandar

Perjalanan kami lanjutkan menuju kawasan Pasar Ikan dengan naik mikrolet. Bau air laut dan amisnya ikan mulai tercium, kami menikmati perjalanan berteman hembusan angin laut sambil minum air dingin dan nyemil kue-kue lebaran.

pintu masuk Menara Syahbandar
Mikrolet pun memasuki kawasan Kota tua kemudian memutarinya menuju Menara Syahbandar. Kami turun dan melihat ada beberapa keluarga yang sedang berkunjung ke tempat yang kami datangi. Saya suka sekali keluarga yang mengajarkan anak-anaknya pergi ke museum dan menghargai sejarah.

siap-sia[ menapaki tangga
Tiket masuk hanya dua ribu rupiah dan kami mulai menapaki tangga-tangga menuju puncak dimana sang Syahbandar dapat mengamati kesibukan pelabuhan Sunda Kelapa dan juga kesibukan di Gudang VOC. Duh entah kenapa saya suka sekali dengan yang jadul-jadul, apalagi bangunan art deco khas Belanda.

masih lantai bawah, masih semangat naik tangga

ngaso dulu, cape
sedikit lagi sampai puncak, berhenti foto dulu
Pemandangan dari atas menara cukup menarik, seperti wisata ke masa lalu ketika saya menatap gedung gidang VOC dan kapal-kapal yang berlabuh di Pelabuhan Sunda Kelapa.





Museum Bahari

Keluar dari Menara Syahbandar kami berjalan kaki menuju Museum Bahari yang memang tidak jauh. Jalanannya kurang rapi, agak becek dan sedikit bau amis tidak menyurutkan langkah kaki kami.

Dengan membayar tiket masuk sebesar lima ribu rupiah, kami dapat menyaksikan kehebatan dunia maritim tempo dulu. Berbagai kapal dan aksesorisnya diperlihatkan di museum ini. Hasil-hasil palawija dan barang-barang dari kapal karam, semisal guci ataupun piring keramik pun ada.

kapal oleng kapten ...




Arsitek kolonial Belanda betul-betul mempersiapkan bangunan berlantai tiga itu secara matang. Agar dapat bertahan lama terhadap gempuran badai laut tropis yang mengandung garam. Tembok sekeliling gudang sangat tebal, tiang-tiang penyangga langit-langitnya pun kokoh. Menggunakan kayu ulin (kayu besi) berukuran besar sehingga tak gampang keropos dari gangguan cuaca mau pun rayap. Tiang-tiang penyangga itu berjajar ditiap lantai ruangan yang luas lagi lebar. Bayangkan, sejak gudang itu dibangun hingga sekarang, tiang penyangganya masih kokoh. Udara ruangan pun tetap terjaga. Dengan demikian rempah-rempah yang tersimpan disitu bisa bertahan lama tak gampang membusuk. Rancangan teknis pengaturan sirkulasi udara menjadikan seluruh ruangan terasa sejuk. Sehingga rempah-rempah itu tetap segar sebelum dikirim keberbagai tempat nan jauh. Pengaturan sirkulasi udara itu diupayakan dengan menempatkan puluhan jendela berukuran besar pada tiap ruangan. Bahkan jendela-jendela lebar itu selalu terbuka siang -malam sepanjang masa.

Sumber dari sini





Sayang sekali lagi sayang, nampak sekali bangunan ini kurang dirawat. Beberapa sudut bangunan telah rusak dan lapuk, padahal dari literature di atas dijelaskan bahwa para arsitek Belanda telah membuat gudang (yang sekarang menjadi Museum Bahari) dengan penuh perhitungan. Kalau Negara-Negara Eropa bisa mengembangkan bangunan tua nya, saya pikir sudah saatnya deh Indonesia khususnya Jakarta merawat juga mempromosikan “wisata kota tua”, bagus koq, peminatnya juga pasti banyak.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images