Bangkok Race: Day 3

19.48

Grand Palace
Pagi hari kami sudah memulai petualangan hari ketiga kami di negeri Gajah Putih. Dengan naik tuk tuk, kami berangkat menuju Istana Raja Thailand yaitu Grand Place. Meski masih pagi, matahari lumayan terik. Kami belum bisa langsung masuk ke dalam kawasan Grand Palace karena masih ada upacara kerajaan, sambil menunggu kami pun berfoto-foto dengan burung-burung merpati di Taman. Tak lama pasukan tentara kerajaan melewati kami dan pintu gerbang Grand Palace ini pun dibuka.


i'm like a bird i only fly away
pasukan kerajaan baris berbaris

birunya langit di Grand Pallace


Saat itu pengunjung luar biasa membludak, mereka pun berbaris dengan biro wisata masing-masing. Saya melihat rombongan nenek kakek Cina Muslim, para kakek memakai kopeah, dan para nenek mengenakan jilbab, persis seperti orang Indonesia. Harga tiket Grand Palace cukup mahal, 500 Baht, sekaligus dengan tiket masuk Vimanmek Museum yang ketaknya cukup jauh dan berlaku seminggu semenjak pembelian. Sayangnya berlaku aturan harus membeli tiket terusan tersebut, tidak boleh membeli hanya tiket masuk Grand Palace saja.

Memasuki Grand Palace haruslah berpakaian sopan, pengunjung tidak diperbolehkan memakai celana pendek. Tapi tidak usah khawatir, di sekitar area Grand Place banyak toko suvenir yang menjual kain lilit. Saya melihat seorang turis korea membeli kain bermotif pelangi, kenapa saya tahu dia orang Korea? Karena dia berulang kali berseru “Aegooo” persis seperti Running Man Cast yang suka bilang Aeegooo. Tampang turis korea itu pun mirip dengan PSY the Famous Gangnam Style.

Psy Look alike
menuju pintu masuk Grand Palace
Komplek yang merupakan tempat tinggal Raja Thailand ini sungguh luas. Ada bangunan yang bersepuh emas, ada bangunan yang didalamnya patung Budha. Cuaca di sana juga panas sekali dan sumpek karena banyak pengunjung. Ornamen bangunan Grand Place didominasi patung burung yang bersepuh emas. 
Sedikit melirik Wikipedia, saya baru tahu nama-nama bangunan di sana, maklum saja nama bangunannya sangat sulit diucapkan.

banyak betul petunjuk arahnya




Wat Phra Kaew, kuil tempat bersemayam arca Buddha Zamrud. Saya sempat masuk ke dalam dan melihat sendiri patung Budha yang dindingnya penuh emas, banyak yang berdoa disana, suasananya cukup khidmat walau di luar banyak orang lalu lalang.



Dusit Phra, mungkin sama dengan Phra si Rattana alias bangunan besar seperti kubah candi yang berwana keemasan. Saya juga foto-foto dengan patung – patung unik khas istana Thailand. Selain dengan patung, saya juga foto dengan siswa SMP Thailand, seragamnya putih biru persis seperti seragam SMP di Indonesia. tak lupa saya juga berfoto dengan tentara kerajaan yang berjaga di depan gedung yang menyimpan koleksi milik Raja.



halo pak tentara
Mendekati tengah hari, cuaca makin panas kami pun keluar dari komplek Grand Palace kemudian ngadem sebentar di taman yang banyak burung merpati. Kami juga bertanya pada mahasiwa yang lewat, bagaimana cara menuju Watt Po. Beberapa referensi dari blog traveler lainnya, bahwa lokasi Watt Pho alias candi Budha tidur ini sangat dekat dengan Grand Palace dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Betul saja si mahasiswa itu berkata jarak Watt Pho bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Sambil menyusuri jalan besar, kami bertemu dengan seorang bapak. Bapak tersebut berdiri di perempatan jalan, membawa payung hitam. Ia berpakaian rapi, di saku kemejanya terselip sebuah pulpen. Dan saya bertanya cara menuju Watt Pho pada bapak ini. Kemudian bapak ini menjawab:
Watt Pho is close this time, it will open again by 3 p.m this afternoon. All monks are pray because today is holly day for budhis. You better go around or having short trip with boat, Canal tour and having lunch in a best restaurant. You can go by tuk tuk and its cheap.”

Apa? Tutup lagi? Holly day lagi? Banyak bener Holly Day di Thailand, pan kemaren menurut bapak-bapak di Siam Paragon juga Holly Day. Saya curiga, Bernica mulai terpengaruh

“Tuh Miss, tutup kuilnya, gimana dong” kata Bernica hampir merengek.

“Kaga ada, kita jalan aja.” Begitu putus saya, belum habis saya bicara, tau-tau dengan seenak udelnya bapak itu menyetop sebuah tuk tuk dan kami diminta naik.

Saya tegaskan lagi ke supir tuk tuk bahwa kami mau ke Watt Pho, ia pun mengangguk dan memberi tarif 20 baht. Tuk tuk yang kami naiki melewati jalan besar yang ternyata adalah pusat militer Thailand, ada meriam-meriam besar yang menghiasi kantor-kantor tersebut. Jalan pun makin mengecil, dan tuk tuk berhenti di sebuah dermaga kecil.

Kami turun diantar supir tuk tuk ke dermaga itu, saya makin bingung dan makin curiga. Benar saja dong, kami tidak diantar ke Watt Po, tapi ke biro penyedia canal tour. Wisata singkat di sungai kecil mengelilingi beberapa spot wisata dan restaurant yang dibanderol seharga 500 sampai dengan 1000 Baht. Sang marketing dengan semangat menjelaskan keuntungan dari canal tour dengan bahasa inggris yang susah payah, kemudian saya sambut dengan … dengan baik? Boro-boro. Yang ada saya sambut dengan rasa murka luar biasa. Udara gerah ditambah saya haus dan lapar plus lagi tingkah supir tuk tuk yang pura-pura bodoh dengan mengantar kami kesini bukan ke Watt Pho membuat saya benar-benar naik darah.

I don’t wanna go with your canal tour. I want to go to Watt Pho, I don’t want nothing else, got it?” bentak saya ke si marketing, ia harus tahu kalau sama saya ga bisa main-main. Biarpun di negeri orang, cengar cengir is a big NO, kita harus tegas.

But this tour its good and its cheap. Watt Pho is close right now.” Si Marketing masih nekat menjawab sambil mengangsurkan kertas yang dilaminating berisi rute tour dan harganya yang langsung saya tepis.

Oke, I say it one more time, I just wanna go to Watt Pho, the other I don’t care” saya pun berjalan meninggalkan dermaga dan mengajak Bernica segera pergi dari tempat menyebalkan itu. Supir tuk tuk yang pasrah menatap saya pun saya pelototin. Waktu saya membuka Hp dan mengaktifkan GPS, ternyata posisi kami sudah dekat dengan Watt Pho, tinggal mencari jalan yang tepat.

Untungnya trotoar yang kami susuri cukup teduh dengan banyaknya pohon besar. Di sisi kiri kanan trotoar banyak tenda-tenda yang berjualan makanan, persis seperti tenda pecel lele di Jakarta. Dan di perempatan jalan, kami melihat seorang bapak -bapak yang rapih. Ia mengenakan kemeja dan di sakunya terselip sebuah pulpen. Kami pun bertanya jalan menuju Watt Pho. Dan si Bapak menjawab bahwa Watt Po tuh jauh, sedang tutup karena direnovasi dan sebaiknya kita jalan-jalan naik tuk tuk aja keliling.

Cukup sudah, saya benar-benar dibuat murka oleh bapak-bapak di Bangkok ini. Saya pun menyimpulkan mereka ini adalah CALO TUK TUK. Berikut ciri-cirinya (setelah 3 kali bertemu dengan bapak-bapak model begini) berpakaian rapi, berdiri di perempatan jalan besar menuju lokasi wisata, membawa pulpen yang ditaro di saku kemeja juga membawa payung hitam. 

Jika bertemu orang seperti itu sebaiknya jangan ditanya, apalagi nanya lokasi wisata karena belum apa-apa sudah nyuruh atau bahkan berani nyetop tuk tuk. Bapak-bapak dengan ciri di atas itu akan bilang tempat yang dituju tutup, ia akan mencoret-coret peta yang kamu bawa lalu menyarankan tur naik tuk tuk. Saya pernah baca memang suka ada penipu model begini, tapi ga nyangka jumlahnya banyak dan seperti terorganisir.

Tak mendengarkan bapak itu, kami teruskan berjalan kaki dan bertemu sekelompok mahasiswa, dari mereka kami tahu bahwa kami on the right track menuju Watt Pho. Karena kami makin lelah berjalan, kami masuk ke sebuah coffeeshop kecil bernama The Gate. Kontras dengan suasana di luar, The Gate dingin dan sejuk. Hidangan yang disajikan juga ringan dengan harga terjangkau semisal gelato ice cream dan macam-macam cake, free wifi juga. Kami memesan gelato greentea dan vanilla blueberry, kuenya kami pesan orange dan chocolate cake. Selesai ngadem, kami jalan lagi dan banyak toko-toko oleh-oleh di dekat kafe tersebut. Kami beli sabun-sabun khas Thailand yang lucu dan wangi.


penyegar di saat cuaca panas di The Gate

Di ujung toko oleh-oleh kami menyeberangi jalan dan ternyata sampai di Watt Pho. Gusti … bener-bener pengen saya jitakin tuh calo tuk tuk, ternyata jaraknya sedekat ini. Dengan membayar tiket masuk sebesar 100 Baht kami mulai mengelilingi komplek candi Budha tidur berukuran raksasa ini.

Watt Pho

Mengusap keringat di pelipis, akhirnya kami sampai di tempat ini setelah melewati berbagai rintangan yang membuat emosi jiwa. Nyatanya, Watt Pho tidak tutup, dibuka selebar-lebarnya untuk para turis. Pintu masuknya kecil, karena bukan pintu masuk utama. Dengan tiket sebesar 100 Baht, kami juga dapat 1 botol air mineral gratis.

di pelataran Wat Po
ada yang lagi studi wisata
di suatu tiang yang berbunga

Kami berkeliling-keliling candi-candi kecil sebelum masuk ke bangunan utama. Banyak rombongan yang sedang berkeliling dan didampingi oleh biksu-biksu muda. Di beberapa tempat terpasang poster bertuliskan “BEWARE PICKPOCKET”. Ternyata banyak copet di kuil ini.


Memasuki bangunan utama, kami harus memakai kain panjang dan melepaskan alas kaki. Saya terpana dan terbengong-bengong, patung Budha tidur berlapis emas itu sangat besaarr. Kami pun berfoto-foto, bahkan tinggi kami tak sampai ujung kaki Sang Budha. Selain patung Budha, kami juga dapat beramal di dalam kuil ini. 




Terdapat beberapa (tepatnya 108 wishes coin pots, hasil googling) mangkuk besar terbuat dari tembaga. Pengunjung dapat membeli semangkuk kecil koin sebesar 20 baht kemudian memasukan koin-koin tersebut ke dalam mangkuknya sambil mengucapkan keinginan. Dengan semangat kami memasukan koin-koin layaknya main congklak, sambil mengucapkan keinginan dalam hati.

Selesai memasukan koin kami pun istirahat di luar dan foto-foto lagi sambil minum air mineral gratisan. Bahkan botol air mineral itupun berlogo Watt Pho. Matahari makin tinggi, kami keluar dari kawasan Watt Pho. Persis di pintu keluar, banyak penjual minuman, salah satunya kelapa muda dan kelapa Bangkok. Kelapa-kelapa itu direndam dalam box berisi es, segar dan dingin ga mungkin dong ga beli secara udara Bangkok makin panas menggila. Kami berdua beli kelapa Bangkok yang super segar dengan daging yang lembut.

beuh seger bangeed
Puas menikmati segarnya kelapa, kami lanjutkan perjalanan menuju Watt Arun yang lebih dikenal dengan julukan Temple of a Dawn. Cukup menyeberang jalan dan memasuki kawasan pasar dengan berbagai jenis ikan asin sebagai komoditi utama dan beberapa toko oleh-oleh, maka kami akan sampai di loket tiket perahu. Cukup membayar 3 baht di dermaga Than Thien (N8), kami akan diseberangkan menuju Watt Arun.

Watt Arun
Menyebrangi Chao Phraya tak sampai 5 menit, sampailah kami di dermaga tempat Watt Arun berada. Cuaca masih panas, dan suasana di sana tak begitu ramai. Di pelataran Watt Arun ada sebuah toko yangmenyediakan kostum nasional Thailand yang harga sewanya 100 – 500 Baht. Tapi kami berdua ga jadi berfoto-foto dengan kostum yang kukunya panjang-panjang itu.
menyebrangi Chao Praya
Pelataran Watt Arun

merah kuning hijau ...

Jalan mendaki yang curam
Watt Arun adalah candi yang paling cantik menurut saya dari 3 tempat yang kami kunjungi hari ini. Dinding-dindingnya berhiaskan keramik warna-warni. Tangga naiknya luar biasa curam. Tapi pemandangan di puncaknya itu boleh dibilang worth to fight for. Kelelahan mendaki puluhan anak tangga seolah terbayarkan saat menikmati pemandangan di puncak candi. Turunnya PR banget, karena harus hati-hati dengan tangga yang curam ditambah kain panjang yang cukup bikin ribet. Kami keluar komplek Watt Arun dan melanjutkan trip menuju Asiatique. Kami naik kapal lagi menyebrang kembali ke dermaga N8.




Asiatique
interior kapal

Peluit berbunyi di seantero dermaga Tha Tien, Chao Phraya Tourist Boat pun berangkat. Dengan tarif 40 Baht, kapal turis ini mengantar kami menuju Asiatique.  Melewati 4 dermaga, akhirnya kami sampai di Asiatique yang dikenal sebagai tempat belanja di Bangkok.

Matahari mulai terbenam, kami berfoto dulu di beberapa spot menarik. Asiatique ini sungguh surga belanja. Mulai dari toko merk ternama sampai toko yang murah meriah pun ada. Kami mulai kalap belanja sebab kemarin tak puas di Pratunam dan Platinum. Bernica mencari sepatu dan berhasil membelinya. Saya membeli dress lucu khas Thailand. Soal harga, Asiatique cukup logis tak kalah dengan toko-toko di Pratunam yang tersohor murahnya. Sayang trip kami kali ini bukan saat weekend sehingga tak bisa mampir dan berbelanja di Chatuchak, Gasibu-nya Bangkok.

selesai belanja


Usai belanja dan berfoto tentu saja di Asiatique, kami kembali naik perahu menuju Tha Thien. Saat perahu menepi di dermaga Tha Thien, suasana gelap dan sepi. Toko yang tadi siang ramai sudah tutup, padahal saat itu baru jam 8 malam. Yang bikin kami terpana adalah pemandangan Watt Arun yang super duper cantik di malam hari. Tentu momen ini tak kami lewatkan untuk diabadikan dalam beberapa jepretan.


Keluar dari dermaga kami kembali ke hotel di jalan Rambutri dengan menggunakan tuk tuk. dan sempat mampir membeli kaimamuang alias ketan dan mangga yang uenaak tenan. Ternyata waktu dan jarak tempuh tidaklah jauh. Sesampainya di hotel, kami langsung mandi. Kami melewatkan malam terakhir di Bangkok dengan berjalan-jalan, merasakan sensasi Thai Massage dan makan di kafe 24 jam yang terletak di samping hotel. Tak kami sadari malam telah menuju dini hari. Jam 1 malam kami kembali ke hotel, packing dan bersiap kembali ke Jakarta besok.



enaknyaa
last night at Cafe

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images