Braga Vaganza

20.38


Madre, salah satu cerpen karya Dewi Dee Lestari yang telah diangkat ke layar lebar dan sukses seperti perahu kertas. Pengambilan gambar film Madre berlokasi di jalan Braga Bandung yang memang terkenal dengan bangunan art deco peninggalan Belanda. Dari sinilah saya, Erika dan Eri berniat pergi ke Bandung. Pilihan menginap di Fave Braga karena memang mau menikmati indahnya jalan yang pernah juga menjadi lokasi shooting video clip Gill yang berjudul Livin La Vida Carina.


Perjalanan dimulai dari kumpul pagi di Mall seberang MOI yang ada Hypermartnya. Kami naik Baraya Travel menuju Bandung. Perjalanan cukup lancar dan kami turun di Pool Dipati Ukur dekat Unikom. Kami berencana makan siang di Restoran Alas Daun, berdasarkan referensi temannya Erika.

Aneka tumisan dalam wajan kecil
alas makannya pakai daun pisang
Dengan naik angkot dua kali walaupun jaraknya pendek-pendek, sampailah kami di Restoran Alas Daun. Konsepnya unik, kami bebas mengambil masakan tumisan dengan menggunakan wajan-wajan kecil seperti yang untuk main masak-masakan. Kemudian petugas akan menggelar daun pisang di meja kami dan mencetak 1 batok nasi. Rasanya masakannya cukup enak dan tidak mahal.

nasi yang dicetak langsung oleh pelayan
marii makan ...



Di samping Resto Alas Daun terdapat bakso Mandeep yang saya sendiri sudah tau enaknya semenjak kuliah dulu dari jaman masih berjualan di tenda dekat Sultan Plaza. Berawal dari pengen icip-icip saja akhirnya jadi beli 1 porsi, Gustii benar-benar kita perut karet semua. Selesai makan perjalanan lanjut menuju Braga untuk check in di fave Braga.



Karena tak ada angkot yang melewati jalan Braga, kami turun di gedung Bank Indonesia kemudian berjalan melintasi rel kereta api, gedung Landmark (yang penuh kenangan ke pameran komputer, hiiiks) lalu menyeberang dan memasuki kawasan Braga. Hotel Fave sendiri berlokasi di dalam Braga City Walk. Setelah mendapat kamar dan beristirahat sebentar kami mulai tur jadul kami di kawasan ini,

petugas kasir nan jadul

Memulai dari memasuki toko buku jadul “Djawa” disini buku-buku langka pun masih dipajang, uniknya lagi yang menjadi kasir pun nini-nini sesuai dengan tema toko buku ini yang vintage benar. Saya menemukan buku tulis bersampul loreng, ya pasti dibeli dong. Perjalanan menyusuri jalan Braga berlanjut menuju alun-alun. Gedung Museum Konferensi Asia Afrika nampak cantik sore itu, pastinya tripod dan kamera segera dipasang dan foto session pun dimulai.







Puas berfoto-foto cantik di gedung art deco, kami kembali ke jalan Braga dan menyaksikan lapuknya Mall Sarinah yang sempat Berjaya jaman dulu kala. Kami juga mampir di Braga Huis, tempat lokasi shooting Madre dan menikmati snack disana. Resto yang berlokasi di gedung cantik ini menyediakan kudapan ala Belanda. Matahari terbenam, kami pun kembali ke hotel untuk mandi dan bersiap untuk makan malam.


sisa-sisa kejayaan Sarinah
Suatu sudut di perempatan Braga
Braga Huis


Kami memilih warung Misbar untuk tempat makan malam kami. Hasil googling, warung ini berlokasi di jalan RE Martadinata. Namun begitu di angkot, semua yang kami tanya malah mentertawakan, mereka belum pernah mendengar nama warung misbar ini. Saya minta turun di Rumah Sakit Halmahera, karena di petunjuknya tertulis keterangan lokasi warung misbar di samping RS dan benar saja kami melihat sebuah bangunan yang dulunya adalah Factory outlet disulap layaknya Gedung Bioskop dengan 3 layar besar, seolah layar film yang sedang diputar.

inilah dia Warung Misbar 
bukan pom bengsin yaa
Pintu masuknya pun dibuat layaknya antrian bioskop tahun 80an, dipenuhi poster film jadul yang sudah diadaptasi kata-katanya. Antrian ini berujung sebuah loket penjual karcis layaknya bioskop. Interiornya lucu, persis seperti bioskop pinggiran kota yang kursinya terbuat dari semen dan berbentuk setengah melingkari layar (amphi teater). Belum lagi karyawan restoran yang menjajakan dagangan layaknya pedagang asongan membuat suasana ala nonton layar tancap era 80an makin kental terasa.


pintu masuk ala bioskop 80an

bujubuneng nikmatnya
teko dan gelas jadul
Restoran ini menyajikan makanan sunda yang didominasi sayuran tumis, lauk goreng dan pepes-pepes juga sambal yang menambah selera. Pengunjung dapat mengambil sendiri makanan yang diinginkan dan di ujung terdapat kasir yang siap mengitung makanan yang sudah diambil. Minuman pun tersedia berbagai jenis, dari es jeruk, es teler hingga teh tawar hangat yang gratisan yang disajikan di dalam teko blurik nan jadul. Rasanya sangat menyenangkan makan di sana. Perut kenyang, kami pun kembali pulang ke Braga.


Pagi harinya, kami jalan-jalan di sekitar jalan Braga dan berfoto di depan gedung dijadikan toko roti Madre di film Madre. Dari kemarin ga bisa foto dengan bagus di tempat itu karena banyak mobil yang lewat. Selesai foto-foto kita jalan ke Gasibu, naik angkot yang muter-muter. Belanja-belanja di sana dan sarapan. Puas main di Gasibu lalu kita balik ke hotel, siap-siap check out dan kembali ke Jakarta naik Baraya Travel lagi.





You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images