Jogja-Solo Trip: Jogja Day 1

22.06


“Tante Nul kalau cuti liburan kemana?”

Suatu hari saya bertanya pada Nurlinda teman saya yang biasa dipanggil Tante Nul oleh keponakannya. Jawabannya sungguh mengejutkan, kawan saya ini ga pernah kemana-mana kalaupun cuti ia hanya pergi ke Mall. Karena itu ketika iseng browsing website kereta api dan menemukan tiket kereta ke Jogja sebesar lima puluh ribu untuk keberangkatan tanggal 12 Agustus, tepatnya 4 hari setelah Idul Fitri tahun 2013. Nurlinda pun mengiyakan, Dinda juga mau turut serta. Kami akan berlibur ke Jogja bertiga.


Sayangnya tiket kembali ke Jakarta dari Jogja sudah penuh semua, mungkin karena arus balik. Saya pun putar otak untuk mencari tiket kembali dari kota lain dan menemukan kereta kosong dari Solo. Tiket ke Jakarta sebesar 100 ribu rupiah untuk tanggal 17 Agustus 2013. Tanpa buang waktu saya booking tiket tersebut. Seperti biasa, seluruh persiapan sebelum ngetrip adalah tanggung jawab saya, mulai dari booking tiket, menyusun itinerary sampai booking hotel.

Malam menjelang berangkat, Dinda menginap di rumah saya. Ia kami jemput di Tamini Square, sebelum pulang kami beli beberapa makanan untuk besok perjalanan selama 8 jam di kereta api.

12 Agustus 2013

Kami berangkat ke stasiun Pasar Senen diantar kedua orang tua saya. Nyaris saja Nurlinda tertinggal kereta. Karena sudah menit terakhir keberangkatan kami naik ke gerbong terdekat dan berjalan menyusuri gerbong demi gerbong menuju tempat duduk kami.



interiornya yang cangih 
Kereta Gajah Wong yang akan membawa kami ke kota istimewa Jogjakarta. Ini pertama kalinya saya naik kereta api lagi setelah hampir sepuluh tahun lebih. Keretanya baguus, tiap gerbong dilengkapi dengan pendingin besar dan toilet bersih di tiap ujungnya. Kursinya juga cukup besar untuk 2 penumpang dan bersih. Kami menikmati perjalanan kereta api yang kaau menurut lagu dangdut itu jug gijak gijuk. Kereta mulai meninggalkan perkotaan dan melewati pesawahan.

melintasi sawah
kereta ngetem sebentar, dan pemandangan ini terhampar


Memasuki waktu makan siang, kami berjalan dan tentunya sambil berfoto. Kami memilih makan siang di gerbong restorasi. Menu yang kami pesan ya nasi goreng karena memang cuma ada itu saja, itupun sudah tersedia, jadi tidak dimasak mendadak. Pengalaman pertama makan siang di kereta yang berjalan.


paket nasi goreng murmer

Jam 2 sore, kereta pun memasuki pelataran Stasiun Tugu Jogjakarta. Kali ini kami belum booking hotel sebelumnya karena beberapa penginapan yang kami hubungi tidak mau dipesan, mereka menyarankan go show aja, sedapatnya begitu.




Kami keluar stasiun dan bertanya pada satpam di depan Hotel Tugu yang menyarankan kami naik becak. Kami menyepakati membayar 15 ribu perbecak, kami menyewa dua becak: 1 becak untuk Dinda dan Nur, 1 becak lagi untuk saya dan barang-barang bawaan. Tak sampai 5 menit becak pun mengantar kami ke jalan Jlagran dimana ada beberapa hotel pilihan, dan kami memilih Hotel Dewi Rahayu karena paling cocok dengan kondisi keuangan kami. Walau jarak sebegitu dekat tapi karena sudah sepakat, dengan berat hati kami bayar abang-abang becak itu sesuai kesepakatan awal.

Kami masuk kamar yang gelap, menata barang bawaan kami dan mandi sore.  Senja turun merayap di Kota Istimewa ini saat kami melangkah keluar dari Hotel. Sambil berfoto-foto kami berjalan menuju Malioboro yang terkenal. Ketika berjalan barulah kami sadar bahwa telah terjadi konspirasi antara satpam Hotel Tugu dengan abang-abang becak untuk membohongi kami. Ternyata jalan Sosrowijayan itu dekat, bahkan gangnya terletak di sebelah Hotel Tugu. Di Jalan itu banyak sekali losmen dan hotel. Ya sudahlah ga apa-apa, kami ikhlas, semoga rezeki mereka berkah walau sudah membohongi tiga wanita metropolis ini.


jalan-jalan menuju Malioboro
Malioboro yang tenar ternyata tak secantik seperti dinyanyikan dalam lagu-lagu. Malam itu kami makan di salah satu lesehan di Malioboro yang sudah tampil modern tak sesederhana dan selugu yang kami bayangkan. Saya jadi ingat salah satu reality show asal negeri gingseng yang pernah shooting di kawasan Malioboro yaitu Barefoot Friends dimana para artis-artis Korea itu diberi misi untuk mencari makanan atau minuman di kawasan ini.

lesehan Malioboro yang mahal
Selesai makan kami menyusuri trotoar, melihat-lihat batik, gelang, kalung dan aneka kaos lucu khas Jogja. Kami membeli selusin kalung dari kayu yang bermotif sebagai oleh-oleh seharga seratus ribu rupiah. Tapi kegembiraan kami karena berhasil menawar langsung musnah ketika kami memasuki toko besar yang bertuliskan Pasar Seni Nadzar, di toko besar nan lengkap ini kalung-kalung dijual seharga 5 ribu rupiah, haduuh tepok jidat deh kita.




Selain murah dan lengkap, di toko Pasar Seni Nadzar ini juga terdapat patung yang mengenakan baju adat jawa. Patung ini begitu mirip dengan manusia asli sehingga kami pun berfoto-foto bareng patung-patung ini. Sehabis berbelanja dengan nyaris kalap tentu saja, kami pun kembali ke hotel.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images