Jogja-Solo Trip: Jogja Day 2

21.55


13 Agustus 2013

Selamat Pagi Jogja … ^_^
Selesai mandi dan bersih-bersih kami mulai petualangan di Kota tempat tinggal Sri Sultan Hamengkubuwono ini. Pertama kami menuju Keraton, transportasi pilihan kami adalah taksi. Kami turun di alun-alun dan membayar taksi sebesar 20 ribu saja. Sebelum masuk keraton kami sarapan dulu.






Keraton – Museum Kereta – Pusat Kaos

topi saya bundaaaarrr ...
Banyak sekali penjual yang sudah menjajakan dagangannya di depan pintu keraton, paling banyak adalah penjual topi, topi saya bundar. Saya jadi tertawa ngakak karena ulah teman saya Nurlinda yang rela susah-susah membawa topi cantik yang dibungkus plastik salah satu departemen store dari Jakarta.



bajunya kembaran
Membayar tiket sebesar lima ribu rupiah, kami pun lolos di gerbang masuk keraton. Kamera ungu kesayangan saya pun ternyata harus bayar tiket masuk sebesar seribu rupiah, untung aja tripodnya ga kena tiket masuk juga. Kondisi keraton saat itu agak berdebu, ada bagian-bagian yang lapuk dan rusak. Didominasi warna hijau gelap serupa green army Keraton tetap tegar meski berhadapan dengan arus modernisasi.




Kami pun berfoto-foto ceria di rumahnya Sri Sultan Hamengkubuwono ini. Berbagai sudut nampak budaya Jawa berasimilasi dengan kebudayaan islam dan Tiongkok. Begitu keluar dari area Keraton kami disambut gegap gempita abang-abang becak. Para abang becak ini menawarkan paket keliling berupa museum kereta, toko oleh-oleh dan kaos dagadu dengan harga 10 ribu saja. Too good to be true masa bisa keliling cuma 10 ribu, pasti ada jebakan betmen nih, mengingat kemarin sore kami dibohongi abang becak jadi kali ini kami lebih hati-hati. Kami memutuskan akan berjalan kaki, karena dengan bekal peta dengan ilustrasi kartun, objek-objek yang disebutkan abang becak tadi tidaklah terlalu jauh.



selfie menatap cermin di sudut Keraton


Matahari makin terik kami melangkah keluar area keraton dan masuk ke jalan Kampung Ngasem. Dan benar saja, tujuan pertama yaitu museum kereta terletak sekitar 10 meter dari terowongan jalan Ngasem. Untung ga naik becak, wong deket begini. Membayar tiket masuk sebesar 4 ribu rupiah dan seribu untuk kamera, kami pun mulai meresapi rasanya jadi putri keraton yang turun naik kereta kuda. Beberapa kereta kondisinnya sangat terawat namun ada sebagian yang kondisinya sudah tidak layak lagi. Ada kereta hadiah dari United Kingdom, ada dari Ratu Juliana Belanda. Seperti apa ya rasanya jadi puteri keraton?


pintu masuk Museum Kereta


ini kereta Putri Keraton yang digunakan saat menikah

Keluar dari Museum, kami lanjut lagi berjalan kaki. Tak sampai 5 menit kami sudah sampai di pusat oleh-oleh dan pusat kaos khas Jogja. Tidak ada satupun yang kami beli, disana kami hanya foto-foto saja. Selesai berfoto, kami lanjut menuju Taman Sari.




TAMAN SARI

Sungguh sedih rasanya melihat kondisi Taman Sari ini. Kalau melihat literatur sejarah yang bercerita betapa mahal dan hebatnya pembangunan kompleks pemandian Raja ini koq saya jadi merasa gemes ya sama orang-orang yang tak mampu melestarikannya. Betapa bangunan budaya ini terlihat kikuk menyembul megah diantara rumah-rumah penduduk. Belum lagi tembok-tembok yang dahulunya digarap penuh cita rasa seni sekarang dijadikan tempat menjemur baju dan pakaian dalam hingga berlumut, siapa yang tidak geram melihatnya.

ujung pasar sayur, lapangan dan tembok kuno
 Berdasarkan peta, pintu masuk Taman Sari terletak di seberang Pasar Burung.  Ketika sampai di Pasar Burung saya sampai bertanya berkali-kali untuk meyakinkan bahwa pasar sayur yang ada di seberang kami saat ini adalah pintu masuk menuju Taman Sari. Betul-betul tak terlihat layaknya pintu masuk sebuah objek wisata, apalagi wisata budaya yang merupakan peninggalan sultan sang penguasa Keraton.

Tepat di ujung akhir los-los pasar yang becek, akhirnya ada sebuah lapangan luas yang cukup teduh karena dinaungi tembok tinggi yang dipenuhi ukiran. Tanpa ada yang menuntun, kami hanya mencoba menyusuri jalan yang dipadati rumah penduduk. Dan benar saja, jalan makin menyempit hingga kami tiba di puing-puing reruntuhan yang penuh dengan bata-bata. Di gang sempit itu terparkir sebuah sepeda antik yang berisi beberapa termos, kami pun berfoto dengan sepeda itu.

sepeda dengan beberapa termos es


Yang menarik, ada seorang lelaki tua yang sedang berjualan es krim di dalam reruntuhan bangunan cagar budaya tersebut. Kami membeli 3 buah es krim yang seharga 7500 namun kami berikan simbah kembalinya. Kami salut melihat semangat hidup simbah, ahh jadi malu rasanya kalau banyak ngeluh lihat simbah. Kami teruskan lagi perjalanan, kali ini ada sebuah keluarga yang berjalan bersama seorang pemandu, diam-diam kami mengikuti dan menyimak penjelasan si pemandu. Lumayan gratisaann.



Setelah melewati terowongan yang katanya dahulu berfungsi sebagai masjid dan juga sisa-sisa bangunan water castle serta membayangkan keindahan di masa lalunya, akhirnya sampailah kami ke bagian Taman Sari yang masih sedikit terawat, karena adanya retribusi wisatawan sebesar 4 ribu rupiah untuk memasukinya. Cukup terkesiap ketika memasuki dalamnya. Kami disambut teduhnya taman dan berujung dengan tempat pemandian istri-istri raja.





Airnya biru bening, ada sebuah bangunan serupa menara di dekat kolam-kolam. Konon dari menara itulah Raja akan melemparkan sekuntum bunga pada wanita pilihannya, wanita yang nanti malam akan menemani raja. Enak bener ya jadi raja hehehhee …

dari menara itulah Raja melempar bunga



Kami masih melihat beberapa puing-puing bangunan di sekitar perumahan dan iseng kami pun menyusuri lagi. Sampailah kami di gerbang carik yang mengantar kami menuju dapur. Pikir-pikir luas sekali Taman Sari ini pada jaman dulunya. Di ujung dapur ada sebuah sumur yang masih sangat bening airnya, di dasar sumur itu banyak sekali uang logam bertebaran, seperti Trevi Fountain saja. Saya dan Dinda pun ikut-ikutan melempar uang logam ke dasar sumur tersebut. hasil bertanya pada beberapa orang, kami diarahkan menuju halte Trans Jogja. Dan betul saja, haltenya mudah ditemukan.




PRAMBANAN
Kami naik Trans Jogja dari halte MT Haryono 2. Sayangnya saya tak memotret tampak luar halte imut tersebut. Nama halte pun hasil googling, dan halte inilah yang dekat dengan toko Motor Pugeran. Tapi Nurlinda sempat minta difoto di dalam halte. Berdasarkan petunjuk petugas (bukan petunjuk presiden ya) kami akan transit di JEC dan naik Trans Jogja menuju Prambanan.


Jalanan Jogja yang tidak macet membuat kami sampai di terminal Prambanan dengan cepat. Kami bertiga diserbu abang becak dan abang delman. Kali ini kami naik delman yang kusirnya memakai baju beskap biru. Layaknya putri Keraton, kami pun melambai-lambaikan tangan sepanjang jalan menuju Prambanan. Saat itu kami melihat sepasang turis yang naik Trans Jogja bersama kami sedang asyik jalan kaki. Koq saya tiba-tiba merasa jangan-jangan kami tertipu lagi oleh delman kali ini. Dan benar saja, ternyata Prambanan sudah di depan mata, sungguh tak sesuai dengan ongkos yang kami bayar. Tapi sudahlah toh kami merasakan sensasi menjadi Putri Keraton walau hanya sejenak.

berasa jadi putri Keraton
Kami makan siang yang sudah sangat telat, sebelum masuk ke kompleks Candi Prambanan. Si ibu pemilik warung ayam goreng Kalasan ini ramah sekali, sambalnya pun maknyuss. Suaminya punya usaha rental mobil untuk wisatawan. Dan si ibu pun bertanya dimana kami menginap. Kami pun menjawab di Hotel Dewi Rahayu 2 di jalan Jlagran, reaksi selanjutnya dari si ibu sungguh mengejutkan dan sebenernya bikin kami ngenes. Sambil sedikit tertawa ngekek, si ibu berkata

“Nuwun sewu lho Mbak. Pasti Mbak dibohongi. Memang gitu kalau musim liburan. Tukang-tukang becak suka kerjasama sama Hotel terus bikin turis nyasar. Harga segitu kalau di daerah Prambanan sini bisa dapat hotel bagus Mbak.” Kami terdiam walau dalam hati mengiyakan kata-kata si Ibu. Selesai makan, kami masuk pelataran candi Prambanan. Tiket masuknya canggih serupa kartu atm yang diletakkan di atas tapping machine.

tiket masuk nan modern


Di gerbang masuk, ada petugas yang membagikan kain batik. Rupanya sekarang ada peraturan baru, untuk memasuki candi Prambanan para turis harus memakai batik. Bagus sih, sekaligus promosi batik yang memang sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia.







Senja di Prambanan sangat cantik. Merah matahari bersinar di sela-sela bebatuan candi. Kami pun bernarsis ria di setiap sudut. Tak hanya berfoto, kami juga menonton film dokumenter tentang candi Prambanan. Matahari makin turun, senja bertukar tangkap dengan malam. Kami masih sempat mengabadikan temaram Prambanan dengan pose ala-ala Korea yang diikuti beberapa turis bule.



the best picture ...


Kami keluar dari kompleks candi Prambanan dengan berjalan kaki. Sempat mampir di kedai wedang ronde dan mencobanya, lumayan hangat. Perjalanan menuju terminal pun tak jauh. Bus Trans Jogja juga cukup cepat datangnya, kami turun di halte Malioboro. Lagi-lagi kami mampir ke Pasar Seni nadzar. Selesai berbelanja kami pulang ke Hotel berjalan kaki. Di dekat hotel ada gerobak penjual mie godog yang harum baunya. Kami pun mencoba, tentunya setelah meletakan barang-barang di kamar hotel. Setelah kenyang kami kembali, mandi kemudian istirahat.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images