Jogja-Solo Trip: Jogja Day 3

21.57


14 Agustus 2013

Walau kondisi hotel nuwun sewu eh Dewi Rahayu ini agak-agak jorse tempatnya, tapi dari letak sungguh sangat strategis. Di depan hotel ada Halte Trans Jogja , ada laundry (kami pun menyempatkan melaundry baju-baju kami di tempat ini), ada banyak angkringan dan juga mie godhog di malam hari. Pagi ini tujuan kami adalah candi Borobudur.



Halte Jlagran
Berdasarkan hasil browsing dan kemampuan baca peta yang pas-pasan, Candi Budha Terbesar ini letaknya sekitar 1 jam perjalanan dari Jogja Kota. Maka dari itu saya menempatkan wisata ke Borobudur ini di hari ketiga atau hari terakhir di Jogja. Keluar hotel, kami langsung masuk halte Trans Jogja jlagran. Petugas halte yang baik hati menjelaskan bahwa jika kami mau pergi ke Borobudur, maka naik Trans Jogja dari sini akan putar-putar kota dulu menuju terminal Jombor. Kami bisa berjalan kaki menuju halte terdekat yang langsung membawa kami ke Terminal.

Mengikuti saran petugas, kami berjalan menyusuri jalan Jlagran sampai ujungnya kemudian belok kanan. Inilah dia jebakan betmen lagi, “dekat” menurut simbak petugas boleh jadi jauh atau sangat jauh buat kami. Karena masih penasaran kami lanjutkan perjalanan, hampir 20 menit kami berjalan, saat ngos-ngosan dan keringat berceceran terlihatlah halte Trans Jogja yang kuning hijau cerah di depan SMPN 11 Jogja.  Terengah-engah kami membeli tiket, dan kebetulan saat itu sedang ada Trans jogja yang berhenti di halte, sehingga kami tak perlu lama menunggu.

Terminal Jombor pagi hari masih sejuk. Karena belum sarapan, kami membeli lontong dan gorengan sebelum naik bus menuju Borobudur. Bus itu mengenakan tarif sebesar 20 ribu rupiah, katanya karena masih libur lebaran seharusnya hanya 10 – 15 ribu. Bus membawa kami melintasi Magelang dan berakhir di terminal Borobudur. Untuk mencapai candi, dari terminal kami harus naik delman dari terminal.

Kawasan Candi Borobudur gersang dan panas. Tiket masuknya belum secanggih candi Prambanan, namun dengan membeli tiket sebesar 30 ribu rupiah, kami dapat 1 botol air mineral berlabel Borobudur secara gratis.

Sebelum masuk dan menapaki candi, kami memilih menonton audiovisual, film dokumenter tentang Candi Borobudur. Sambil meneduh, kami diminta mengisi kuisioner dari Dinas pariwisata setempat yang berhadiah pulpen dan sticker. Selesai menyaksikan film dokumenter, kami memilih naik kereta mini untuk mengelilingi luasnya kawasan candi.
Borobudur super panas


Menapaki tangga masuk, akhirnya sampailah kami di depan megahnya Candi Budha. Kondisi terik, panas luar biasa dan pengunjung yang memenuhi candi, tak menghalangi daya narsis kami. Bahkan kami mengembangkan payung sambil berkeliling candi. Tangga demi tangga pun kami lalui hingga sampai di puncak candi yang berisi banyak stupa. Dari ukuran kecil hingga ukuran yang sangat besar. Kami pun tak lama berada di puncak candi Borobudur dan segera turun kembali.







Pelataran Puncak Candi Borobudur

Di luar pelataran candi terdapat pasar oleh-oleh dan juga rumah makan. Kami makan siang di salah satu rumah makan yang menyediakan nasi rames dengan banyak pilihan lauk pauk, untuk membasuh kerongkongan akibat panasnya udara di sana, kami memesan es kelapa yang segar. Selesai makan kami kembali pulang ke Jogja. Perjalanan kembali menuju Jogja lancar jaya, namun sayangnya dari terminal Jombor, Trans Jogja sangat lama dan jarang datangnya sehingga antrian luar biasa mengular. Setelah setengah jam lebih menunggu Trans Jogja tibalah giliran kami masuk bus walaupun terjadi dorong-dorongan.

Kami turun di halte Malioboro, sore itu kami berniat berburu kaos sebagai oleh-oleh. Saya membeli beberapa kaos untuk Vina, Amin & Arman juga beberapa tote bag untuk teman-teman di kantor. Kami bertiga juga membeli kaus samaan plus satu lagi untuk Ria. Tak lupa kami mampir lagi ke Pasar Seni Nadzar.

Usai belanja dan bersih-bersih di Hotel, malam ini kami mau mencoba angkringan. Sayang keputusan kami memilih angkringan yang letaknya persis di seberang hotel tidaklah tepat. Nasi kucing yang dingin, gorengan juga dingin. Penjualnya tak mau menghangatkan hidangan di atas bara api. Waktu saya bilang angkringan yang berjualan dekat rumah saya hampir semuanya pasti menghangatkan lagi nasi kucing dan gorengannya di atas bara api, dengan judesnya bapak angkringan itu menjawab

“Itu angkringan di Jakarta, Mbak. Kalau di Jogja beda lagi.” walah dalahhh, saya terdiam malas memperpanjang, baru kali ini saya ketemu wong Jogja yang judes.

Hari makin malam, kami beristirahat karena besok kami akan bertualang ke kotanya Pak Jokowi sekaligus kota yang dikenal sebagai penghasil batik.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images