Jogja-Solo Trip: Solo Day 1

19.27


15 Agustus 2013

Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, kami pun keluar dari Hotel Nuwun Sewu ehh Hotel Dewi Rahayu. Sebagai memorabilia bahwa kami pernah dibohongi oleh konspirasi satpam dan tukang becak, maka kami pun berfoto dengan hotel yang dipoyok dilebok itu. Kenapa saya bilang dipoyok dilebok? Karena kedua teman saya ini terus-terusan menghina kondisi hotel tapi tiap diajak pindah engga pernah mau. Mungkin persis juga dengan istilah benci tapi rindu.



Kami akan ke Solo naik Prambanan Ekspress. Karena jarak tempuh yang hanya 1 jam, kami memilih kereta Sriwedari yang murah meriah tanpa ac dan hanya 10 ribu rupiah saja harga tiketnya saudara-saudara. Di stasiun Tugu kami membeli tiket untuk keberangkatan pukul 8 pagi. Karena masih ada waktu sekitar 45 menit, kami sarapan dulu. Kami memilih sarapan gudeg, dari kemarin kami belum makan gudeg padahal kami sedang di kota gudeg. Sarapan yang lumayan enak dan tak mahal.


nasi gudeg kumplit ini hanya 12.000 sajah

Pukul 8 kurang 15, kami melihat rangkaian kereta berwarna ungu terparkir manis. Selidik punya selidik ternyata kereta ungu itulah kereta Sriwedari yang akan kami naiki nanti. Woow kami tak mau dong melewatkan untuk berfoto dengan kereta super unyu itu. Jadilah kami model dadakan dengan berbagai pose. Sampai akhirnya satu persatu penumpang berdatangan hingga gerbong terisi penuh dan kereta pun diberangkatkan.

Hayoo naekk keretaa ... 

tariik mang ...
SOLO

Neng Stasiun Balapan  Kota Solo sing dadi kenangan kowe karo aku …
dah … dadah sayang … dah .. selamat jalan …


Tibalah kami di Stasiun Balapan yang populer karena Mas Didi Kempot membuat lagu tentangnya. Nurlinda menghubungi teman sekantornya yang sedang mudik di kota ini untuk membantu mencarikan hotel dan mengantar. Saya pun juga bersiap untuk cari via internet. Karena Mas Edi inilah, kami bisa dapat kamar hotel untuk bertiga hanya 90 ribu rupiah dengan letak yang super duper strategis, persis di depan terminal bus Tirtonadi. Setelah check in beres, kami bersiap jalan-jalan keliling Solo.


Jakarta 372 KM, Surabaya 252 Km.
lalu berapa kilometer jarak menuju hatimu?
eeeaaa ...

Keraton Surakarta
Bangunan cantik berwarna biru aqua ini menjadi tempat tujuan pertama kami. Siapa tau pangeran Poundra sedang di rumahnya kan hehehhehe. Cuaca sedang panas luar biasa, supir angkotnya pun berbaik hati mengantarkan kami sampai depan keraton. Kini pemandangan istana unik ini nyata di depan kami. Saat itu kami melihat dua prajurit keraton bertugas dan kami meminta foto bareng yang ternyata ada ongkosnya hehhehe.



diapit prajurit keraton

Kami berjalan masuk ke area museum Keraton Surakarta. Tiketnya 10 ribu rupiah, dua kali lipat tiket keraton Jogja. Namun apa yang tersaji di depan mata sungguh menyedihkan. Koleksi museum yang tak terawat membuat suasana suram, muram dan seram. Padahal seni ukir-ukiran Solo ini lebih berwarna-warni dibandingkan Jogja. Beberapa koleksi yang sudah rusak dibiarkan tergeletak begitu saja di luar, salah satunya adalah kereta kuda. Pasti dahulunya kereta kuda itu cantik sekali, ada ukir-ukiran Malaikat dan dewa-dewa Yunani di badan kereta tersebut.


salah satu diorama yang kusam

Selesai berfoto dan berkeliling, kami boleh masuk ke area tempat tinggal Sultan. Karena saya pakai sendal, saya diharuskan nyeker ke dalam, sementara dua teman saya boleh masuk lengkap dengan sepatu. Jalanan menuju bangunan kediaman Sultan terbuat dari pasir dan dipenuhi pepohonan. Susah payah saya berjalan diantara pasir dengan telanjang kaki. Disini saya tergumun-gumun (pinjam istilah Jawa), koq istana Sultan Surakarta ini agak nyentrik. Bangunan Jawa yang berhiaskan patung-patung Yunani. Ada Athena, Aphriodete dan lainnya. Apa patung ini hadiah jaman Belanda dulu atau bagaimana. Perut sudah lapar, kami pun keluar dari Keraton Kasunanan Surakarta menuju Pasar Klewer.





Pasar Klewer
Pasar yang tenar dengan batik murah ini pun sedang sibuk-sibuknya. Sebentar-sebentar kuli panggul lewat dengan membawa karung-karung berisi baju batik. Memang benar sih harga baju batik disini murah membuat kami nyaris kalap. Kita borong daster yang harganya hanya 17 ribu, kalau di Jakarta daster itu bisa 40 – 50 ribuan. Acara belanja pun kami lanjutkan ke BTC, panjangnya Beteng Trade Center dengan naik becak.

BTC juga pusat batik yang hadir dengan konsep modern layaknya PGC atau Pasar Tanah Abang. Keluarga Mas Edi, teman sekantor Nurlinda punya toko batik di BTC ini. Harganya juga cukup murah disertai kondisi belanja yang nyaman karena sejuk pake ac. Kita duduk lama di toko milik mas Edi, tak lupa kita juga beli kain batik tulis di toko itu.

Dari BTC kami lanjut membeli oleh-oleh khas Solo di toko Orion. Lagi-lagi naik becak, karena kalau naik angkot pasti lama dan muter-muter. Saya beli beberapa kripik dan cemilan khas Solo juga sambal-sambal botolan. 

Hari makin sore, perut makin kerucukan. Dari tadi kami hanya nyemil kue-kue atau gorengan sebab kami sudah berniat akan wisata kuliner habis-habisan di pusat kuliner malam hari di Solo yaitu Galabo. Dari Orion kami kembali ke area BTC naik angkot, kali ini itung-itung menunggu waktu Galabo buka.

Sampai Galabo, beberapa tenda sudah buka dan menyiapkan dagangannya. Harum bumbu masak sudah meruap kemana-mana. Kami membeli rujak dan es cincau dulu sambil menungu makanan siap dan ngetek tempat duduk.

Gladag Langen Bogan (Galabo)
Pusat Kuliner yang strategis ini terletak di dekat BTC dan Pusat Grosir Solo. Mulai ramai sejak sore hari pukul lima. Kami menyesap manisnya cendol dan segarnya rujak sambil melihat pedagang yang bersiap. Kami juga sudah mengantongi daftar menu yang akan dicoba malam ini. Diet? Lupakan dulu.

Kami duduk bertiga di meja kecil yang terletak di depan kios tengkleng, maka kami mencoba seporsi tengkleng. Tulang-tulang kambing yang diberi kuah asam-asam segar serta cabe rawit yang menyebar sporadis (hehhehee) lumayan membuka wisata kuliner kami dengan penuh kehangatan.

segar bin pedas tengkleng mbe
Hidangan kedua yang kami masukan ke dalam perut selanjutnya adalah sate buntal. Lagi-lagi daging kambing yang dicincang halus kemudian ditusuk seperti sate dan dibakar, disajikan dengan bumbu kecap. Enak seperti kebab, bumbu merica dan bawang putih sangat terasa di daging kambing yang dikepal seperti kebab.

sate buntal
Kami berhenti dulu makan, minum teh poci sambil mendengarkan live music di panggung kecil bertuliskan Galabo yang terletak di antara beberapa kios. Ronde kedua makan pun dimulai. Kali ini kami memlih garang asam. Dari namanya kami agak penasaran, ketika pesanan datang ternyata bentuknya seperti pepes dan botok. Ketika dibuka, voala … daging ayam yang dikukus bersama cabai, bawang dan belimbing wuluh pun muncul dengan harum dan kuah kaldu yang kental, tak menunggu lama langsung kami sikat.


panggung mini dan Live Music

Garang asam
Saya pun berjalan menyusuri deretan kios-kios dan berniat membeli makanan yang tak pernah kami coba atau lihat di Jakarta. Maka pilihan saya jatuh ke selat solo dan timlo. Lalu saya kembali duduk dan menunggu pesanan datang.

Timlo datang lebih dulu, ketika melihat bentuknya saya jadi teringat kimlo atau tekwan dari Palembang. Sup yang mengepul hangat berisi jamur kuping, soun, wortel dan suwiran ayam ini lumayan enak sih, walau dari segi bumbu masih kurang lekoh. Tak sampai selesai makan timlo, Selat solo kemudian menampakkan diri hehehehe.

nasi, kerupuk dan sup timlo

Selat solo adalah hidangan kreasi yang sepertinya terjemahan bebas dari steak dan salad namun disesuaikan dengan lidah jawa yang cenderung suka makanan manis. Sehingga yang tampil adalah sebuah rolade daging berteman dengan telur rebus, wortel, timun, buncis, tomat, selada yang kemudian diguyur semacam bumbu steak yang sedikit mirip semur kemudian dihias dengan sebuah cabe rawit merah. Apapun itu selama enak, pasti kami makan.

Selat Solo
Perut kenyang, malam kian larut. Kami terkaget ketika membayar semua hidangan tersebut hanya menghabiskan biaya 120 ribu sajaahh, haduuh kalau di Jakarta makan semodel tadi mungkin sudah habis 300 ribu lebih. Kami kembali ke hotel Tirtonadi dengan menggunakan taksi yang dibayar hanya 22 ribu padahal di jalan hampir setengah jam plus kena macet sedikit.

Goodnight Solo, terima kasih sudah membuat kami kenyang dan bahagia dengan harga yang bersahabat.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images