Jogja-Solo Trip: Solo Day 2

21.40


16 Agustus 2013

Mentari pagi muncul di langit kota Solo tepat setelah kami selesai mandi dan berdandan. Pagi ini kami akan mengunjungi candi Sukuh di Lereng Gunung Lawu. Sudah lama sekali saya ingin ke Candi Sukuh.


Kami sarapan di sebuah warung nasi yang berada di seberang Hotel Tirtonadi tepat di persimpangan jalan. Warung nasi sederhana yang sudah sibuk melayani para pelanggan. Bapak ibu penjual sangat ramah menyuguhi kami panganan. Selesai makan kami langsung menuju terminal bus Tirtonadi.

Seperti inilah rute menuju Candi Sukuh dari Terminal Tirtonadi Solo kami naik bus menuju Tawang Mangu dengan tarif 10.000 (dengan alasan lebaran, biasanya 5 sampai 7 ribu saja). Turun di Terminal Karang Pandan naik bus ¾ jurusan Kemuning lalu turun di Pertigaan Nglorog, ongkosnya 5 ribu. Dari pertigaan harus naik ojeg, jalurnya dahsyat terjal dan menukik naik. Ojeknya minta dibayar 10.000 sampai di gapura candi Sukuh.

Suasana tenang, hawa sejuk cenderung mendung ketika kami menapakkan kaki di Candi yang terkenal dengan patung dan arca yang melambangkan kelamin manusia. Tiba-tiba dari dalam kantor penjualan tiket muncul seorang bapak menemui kami.

“Hello, I’m Kunto. I am an international Guide” si Bapak berkata dengan bahasa inggris yang berhiaskan aksen jawa medok sambil menjabat tangan kami bertiga.

“Where are you come from?” lanjutnya lagi yang saya jawab sekenanya. Bapak itu tak henti bicara masih dengan bahasa inggris yang jawa banget.

Kedua teman saya sibuk menyikut-nyikut saya ketika saya cuma manggut-manggut dengar si bapak ngomong.

“Madirodolek … suhartotom …, apaan itu Yunit?” reaksi Nurlinda dan Dinda saat si bapak international guide menyebutkan kawasan wisata yang ada di Kabupaten Karang Anyar ini.

“Maksudnya Madirodo Lake. Danau, danau. Soeharto Thomb, maksudnya makam Pak Harto” jawab saya menjelaskan yang langsung disambut seruan oalaa kompak dari Nur dan Dinda yang akhirnya membuat bapak International menyudahi ucapannya dan mempersilahkan kami masuk kawasan candi yang tiket masuknya hanya sebesar 3 ribu rupiah itu.




Candi Sukuh ini beda dari kedua candi tersohor yang ada di Jogja. Jika Prambanan stupanya berujung runcing perlambang candi Hindu dan Borobudur berbentuk bulat perlambang candi Budha, maka Candi Sukuh ini tak jelas perlambang apa. Beberapa pendapat pakar menganggap arca-arca di Candi Sukuh ini mirip dengan arca suku Aztec atau Inca Maya. Bahkan di Candi Sukuh ini pun terdapat Piramida kecil.


arca mirip kebudayaan Aztec


Pemandangan Candi Sukuh cukup spektakuler. Hening, sunyi, bening bersaput misteri begitu deh kira-kira. Sambil duduk-duduk saja pemandangan kota dapat terlihat jelas. Seperti biasa kami pasti berfoto-foto.



Di dekat Piramida terdapat arca lebar berbentuk kura-kura. Saya mencoba masuk ke dalam piramida. Tangganya sempit, licin, berlumut dan jarak peranak tangga cukup jauh. Sampai di atas Piramida saya melihat banyak sesajen. Tak lama disana, saya segera turun.






Kompleks Candi Sukuh ini terbilang kecil, memutarinya hanya menghabiskan waktu 15 menit. Tak lupa kami juga berfoto dengan arca yang terkenal di Candi Sukuh ini. Arca tanpa kepala ini serupa tubuh laki-laki kecil yang memegang alat kelaminnya.


Kami keluar dari kompleks Candi karena gerimis mulai turun. Untuk kembali ke pertigaan Nglorog kami naik ojeg lagi. Rupanya mas-mas ojeg tadi menunggu kami dengan setia ehehhehee. Jiak tadi perjalanan naik cukup mendebarkan akibat terlalu terjal kini saya dibuat galau karena jalur pulang benar-benar turunan tajam berkelok. Galau antara menutup mata atau tidak. Takut lihat jalannya, saya ingin menutup mata, namun pemandangan yang indah membuat saya juga urung menutup mata. Akhirnnya dinikmati sajalah keduanya, pemandangan dan juga seramnya jalur menurun yang berkelok.

Bus ¾ di pertigaan Nglorog muncul tepat ketika kami selesai membeli air minum di warung. Kami segera naik bus berteman dengan anak-anak Pramuka menuju Karang Pandan. Dari Karang Pandang kami lanjut naik bus menuju Tirtonadi, namun ketika melintasi kampus UNS, kami melihat Batik Trans Solo. Diskusi singkat segera dilakukan, karena sebenarnya setelah Candi Sukuh kami tak punya tempat tujuan lagi. Boleh dibilang Candi Sukuh adalah puncak tujuan dari trip ini.

Akhirnya kami minta diturunkan supir bus di halte BTS terdekat. Tujuan kami adalah mall, entah mall apa yang penting mall itu dilewati oleh BTS. Hampir 10 menit menunggu, lewatlah BTS, tepat setelah kami berhasil googling untuk menemukan mall yang dilewati oleh BTS ini yaitu Mall Solo Paragon.

Berbeda dengan Trans Jakarta atau Trans Jogja yang harus beli tiket dulu, Batik Trans Solo menempatkan petugas yang akan menarik ongkos penumpang. Tiketnya seharga 3500 rupiah, sama dengan di kota lainnya. Perjalanan cukup jauh, katanya menurut seorang mbak mahasiswa UNS yang saya tanya, BTS ini mutar-mutar dulu karena harusnya UNS dekat dengan Solo Paragon.

Sampailah kami di Mall Solo Paragon. Setelah dari kemarin kami sama sekali tidak menapakkan kaki di mall manapun. Kami memilih chinesse restaurant untuk makan siang yang telat. Kami memesan beberapa dimsum yang murah banget dan ternyata enak serta memesan beberapa lauk pauk. Setelah makan kami keliling mall dan berakhir duduk manis di Sour sally untuk makan yoghurt kemudian pulang ke Tirtonadi dengan naik taksi.

Malamnya kami pindah ke lantai 2. Kami segera mandi dan packing. Malam itu kami tak kemana-mana karena esok pagi sudah pulang ke Jakarta. Jam 8 malam, keluarga mas Edi temannya Nur datang membawakan surabi solo.

Kami menghabiskan malam di kamar hotel sambil ngobrol. Buat Nurlinda, liburan ini adalah pertama kalinya jalan-jalan selama 1 minggu keluar kota bukan dengan keluarga. Ketika saya tanya apa dia puas dengan acara jalan-jalan ini, jawaban dia “Puas Banget” sambil ketawa ngakak.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images