Pulau Tunda yang Tak Tertunda

14.09


Penghujung Oktober yang belum disapa hujan membuat saya dan Erika memberanikan diri ikut trip ke Pulau Tunda. Pulau Tunda terletak di Serang, Banten. Demi trip ini kami berdua jadi membeli sleeping bag itupun browsing dicari yang termurah. Penjualnya pun tinggal di Bekasi, kami meminta Eri untuk COD dengan yang jual sleeping Bag itu yang ternyata masih anak SMA.


persiapan berangkat
Perjalanan dimulai hari jumat malam. Sevel Pancoran dipilih sebagai tempat meeting point oleh Nikka Sasongko sang pemimpin rombongan. Saya datang paling dulu malam itu, duduk-duduk manis di luar sevel sambil menunggu kedatangan yang lain. Jam 12 malam kami berangkat menuju Serang dengan menggunakan bus. Boleh dibilang trip ini murah dan nyaman.

Jam 3 pagi, kami sudah memasuki Pelabuhan Karangantu. Bau amis ikan, debur ombak lautan sudah tercium. Suasana gelap gulita, hanya remang-remang lampu kapal yang menerangi kami. Kami akan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kapal selama 2 jam menuju Pulau Tunda.

Dinihari suara mesin kapal menderu melawan ombak yang cukup bersahabat. Angin laut berhembus sesekali, namun sebagian dari peserta tidur lelap di lantai kapal. Matahari pun muncul di ufuk timur saat kami masih di tengah lautan. Pukul 6 pagi, kapal merapat di dermaga Pulau Tunda.

Sayangnya dermaga Pulau Tunda agak kotor. Beberapa bagian kapal yang rusak tergeletak begitu saja. Kapal-kapal yang sudah tak berfungsi pun masih tertambat. Kami berjalan menuju homestay. Trip kali ini saya benar-benar mau menikmati, saya ga bawa kamera apalagi tripod. Setelah melewati gang demi gang, sekolah SD dan SMP sampailah kita di sebuah rumah berwarna pink cerah. Rumahnya Mas Anshor yang sering dijadikan homestay bagi wisatawan Pulau Tunda.
Sebagian anggota rombongan memilih melanjutkan tidur, mengingat snorkeling baru akan dimulai siang nanti. Alih-alih tidur, saya, Erika dan beberapa teman baru dari trip ini malah asyik ngobrol di teras rumah. Di Pulau Tunda sepertinya ada kewajiban untuk menikmati keeksotisannya karena semua hp dan gadget ga akan ada sinyalnya. So goodbye semua sosmed selama 2 hari. Kami semua asyik ngobrol sampai waktu sarapan tiba. Sarapan nasi uduk cukup memompa semangat dan juga tenaga kami untuk mulai kegiatan snorkeling.

Semua peserta sibuk membawa perlengkapan masing-masing. Bagi saya yang nubie dalam dunia snorkling, melihat perlengkapan mereka cukup bikin jiper, tapi cuek ajalah toh saya mau senang-senang.

berangkat snorkeling

diantara para bajak laut
Salah satu daya tarik Pulau Tunda adalah lintasan lumba-lumba. Jadi kalau sedang beruntung kita bisa melihat rombongan lumba-lumba melintas. Spot Snorkeling yang pertama adalah Karang baja. Karangnya bagus-bagus sebagian terlihat jelas sebagian engga. Kita pun berenang-renang ke tepian terus main pasir putih. Snorkeling tetap berlanjut ke spot kedua sampai jam 12 siang, karena memang dari pagi sampai siang itulah waktu terbaik untuk snorkeling.

Makan siang di rumah mas Anshor dengan sayur sop dan ikan-ikanan. Habis makan, sekali lagi kami bersantai-santai. Rencananya jam 2an kami akan turun ke laut untuk snorkeling lagi.  Walau agak ngaret sedikit, kami masuk laut lagi pukul 3 dan snorkeling sebentar.

Kali ini saya stay di kapal, karena beberapa alasan. Snorkel gear kali ini agak kurang nyaman, tangga ke kapal agak sulit dinaiki membuat saya cukup puas ngobrol-ngobrol di geladak kapal dengan mas Nikko, kakaknya Nikka sang komandan trip. Kebetulan mas Nikko dulu kuliah di Bandung, jadi aja kita ngobrolin Bandung jaman dulu. Ga sampai 1 jam peserta trip sudah naik ke kapal lagi, cape katanya. Akhirnya perjalanan lanjut ke sebuah pulau kecil yang memiliki menara tinggi.





Di pulau itu kami foto-foto dan main-main dengan penduduk. Sunset di sana cantik, saya yang tak bawa kamera dan hp yang mulai lowbat cukup puas dengan numpang gaya di kamera orang lain. Memang sesuai dengan tujuan awal saya ikut trip ini, mau menikmati tanpa terganggu harus foto dan begaya, biarlah mata saya ini yang menyimpan ke dalam memori otak yang entah berapa terabyte kapasitasnya dan pasti ga akan ngehang karena buatan Allah bukan buatan Cina.








Malamnya kami semua kumpul-kumpul ngobrol dan main kartu selepas kekenyangan makan malam. Lagi -lagi meleset dari bayangan saya yang sudah mengira bakal bakar ikan rame-rame. Karena ternyata semua sudah disediakan tinggal dilahap. Setelah puas main kami pun tidur. Sayang sleeping bag baru kami ga terpakai.

Pagi harinya kami semua diajak jalan-jalan mengelilingi pulau Tunda, melewati kebun-kebun kelapa kemudian berakhir di hutan bakau. Sejujurnya pantainya bagus, namun sayang seribu sayang sampah yang terdampar disana sungguh banyak. Masa iya ada beberapa kasur terdampar di pantai, koper-koper juga ada. Entah itu buangan dari kota atau penduduk Pulau yang membuang di sana. Keliling pulau cukup melelahkan dan seru. Tingkah 2 ponakan Nikka yaitu Nikolas dan Nikita juga menggemaskan.

Selesai keliling kami santai di homestay dan memesan kelapa muda, tak cuma kelapa kami pun jadi rujakan seadanya. Seru sambil tertawa-tawa. Pukul 12 siang kami harus bergegas meninggalkan Pulau Tunda untuk kembali ke Pelabuhan Karangantu dimana bus yang akan membawa kami kembali ke Jakarta sudah menunggu.




Perjalanan pulang cukup membuat ngantuk. Angin yang bertiup lembut, ombak yang sesekali menyembur pelan ke dalam kapal. Dari tidur, nyemil, ngobrol dan berakhir tidur lagi tanpa terasa kami sudah sampai di dermaga. Sepanjang perjalanan Banten-Jakarta pun saya lalui dengan tidur. Trip pun berakhir di Tebet dengan makan bakmi ayam Yunus nan tersohor itu. Setelah kenyang kami pun kembali ke rumah masing-masing.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images