Ramadhan Reminiscence in Bandung Chapter 1

08.35


Sembilan tahun sudah berlalu dari masa-masa terakhir tinggal di Bandung, namun kenangan dan kecintaan pada Kota Kembang itu tetap ada dan terus ada. Kali ini saya dan Dinda yang notabene adalah lulusan ITB ingin mengulang romansa Ramadhan di Kota Kembang, seperti ketika kami masih mahasiswa dulu.


Perjalanan kali ini spesial bagi saya, ini pertama kalinya saya naik kereta Argo menuju Bandung, selama ini ga pernah naik kereta, biasanya naik bus atau travel. Kami tiba di stasiun Gambir 1 jam lebih awal dari jadwal kereta, apalagi tujuannya kalau bukan foto-foto. Dan kereta tiba serta berangkat tepat waktu.
cetak tiket sebelum berangkat
stasiun Gambir
Kereta tiba pukul berapa?

Lokomotifnya

interior Argo Parahyangan

Perjalanan menuju Bandung ditempuh kurang lebih 3 jam melewati perbukitan dan Kebun Teh sepanjang kota Purwakarta. Pemandangannya bagus, apalagi ketika melewati jembatan-jembatan panjang. Sore hari, pukul 3 kami sudah tiba di Stasiun Bandung. Berfoto sebentar di dalam area Stasiun kemudian kami melangkah keluar dan menuju terminal Pasar Baru untuk naik angkot menuju jalan Setiabudi. Kali ini kami menginap di MQ Guest House kawasan DT.




Seperti biasa, jalan di Bandung selalu macet. Kami tiba di Panorama Gerlong sudah hampir pukul lima sore. Sepanjang jalan menuju MQ Guest House sudah dipenuhi pedagang ta’jil. Segala jajanan pasar, gorengan, rupa-rupa es, cilok, cimol aah semua pokoknya deh, sudah menggelar dagangannya dan mulai diserbu para mahasiswa dan mahasiswa UPI yang manis-manis, termasuk alumninya hehhehehehe.

Setelah urusan Check in di MQ Guest House beres, saya dan Dinda berjalan-jalan ngabuburit menuju Villa Isola untuk menjemput Desi. Yap sahabat mungil saya dari Majalengka ini pun ikutan dalam acara Ramadhan Reminiscence kita ini. Tak hanya Desi, saya pun mengajak Lizi untuk ikutan bernostalgila ria. Dari Villa Isola kita kembali ke MQ guest House tak lupa membeli rupa-rupa ta’jil, dan kerupuk mi sambel siram jadi favorit saya sore itu. Saat masuk guest house, Lizi sudah menunggu di pelataran.

Azan maghrib berkumandang dari pengeras suara masjid DT, membawa kerinduan dan kesyahduan yang saya sendiri ga bisa membahasakan dengan kata-kata apapun. Kami pun membuka semua jajanan yang baru kami beli tadi. Berbuka rasa nostalgia dengan bubur lemu, kerupuk banjur cikur, jiwel, putu mayang jeung sajabana.

Selesai maghrib, jam 7 kami pun jalan-jalan menuju Cihampelas liat-liat sekaligus belanja belanji.  Puas muter-muter Cihampelas, kami kembali ke area Setiabudi, ga langsung balik ke MQ Guest House tapi kami malah mampir ke Surabi imut, tanpa sadar kami sudah di sana hingga jam 11 malam. Karena malas naik angkot, kami pulang ke MQ jalan kaki, lumayan olahraga.

Kami ngobrol-ngobrol sampai mitnait dan harus segera tidur karena sebentar lagi waktu sahur. Saat sahur tiba, kami makan di teras depan MQ guest house sambil melihat mahasiswa-mahasiswi UPI yang sibuk mencari makan sahur. Waktu imsak yang dibunyikan dari masjid DT pun bunyinya seperti sirene gawat darurat. Kami kembali ke kamar dan menunggu waktu subuh sambil ngobrol dan selesai subuh kami tidur lagi.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images