Semarang Wo Ai Ni ... Err

14.29


Pagoda Watu Gong – Klenteng Sam Po Kong – Masjid Agung – Kota Tua

Sarapan pagi pun rampung, kami diantar mobil milik Tjiang Residence ke Pusat Kota Semarang, dari sana kami naik Trans Semarang (yang serupa dengan Trans Jakarta) menuju Pagoda Watu Gong. Ongkosnya pun sama, 3500 saja. Kembali kami memulai perjalanan menuju Pagoda sambil menikmati indahnya pagi di Semarang.






Kami turun di halte Jotun, awalnya saya pikir nama halte ini koq unik banget, ternyata di ambil dari nama produk cat rumah. Dari halte Jotun, kami jalan agak sedikit mendaki menuju Pagoda Watugong. Sepanjang jalan mendaki kami melihat banyak penjual ubi Cilembu, lah ini di Bandung apa lagi di Semarang sih?

5 menit berjalan kaki, sampailah kami di Pagoda. Masuknya gratis, asal kita berpakaian sopan dan menjaga bahasa selama berada di lingkungan Pagoda, mengingat itu adalah tempat ibadah. Dan mulailah semua kamera beraksi, jepret sana jepret sini.


billboard "unik" di jalan menuju pagoda Watugong

asal muasal nama Pagoda Watugong

pelataran Pagoda Watugong

Dalam Pagoda Watugong terdapat patung Budha yang besar, dan juga dindingnye berhiaskan relief Dewi Kwan Im. Patung Budha di sini agak berbeda sedikit dari yang di Thailand, wajah Budha lebih “Jawa” dibanding yang di Thailand.




sekeliling dinding Pagoda dipenuhi Patung Dewi Kwan Im



The Sleeping Budha


halte Trans Semarang yang minimalis

Selain Pagoda, juga terdapat dinding batu, patung Budha tidur dan kolam teratai. Cuaca yang cukup sejuk membuat kami betah berlama-lama di sana. Mengingat kami masih punya banyak tujuan, akhirnya kami melanjutan perjalanan. Kami naik Trans Semarang hingga halte RS. Dr. Karyadi. Lanjut naik angkot dan turun di persimpangan lanjut jalan kaki sedikit menuju Sam Poo Kong.

Saat itu siang makin terik, kami yang kelaparan memutuskan untuk makan dulu sebelum masuk ke dalam Klenteng. Banyak warung makan di sekitar pintu masuk klenteng. Kami melihat makanan unik dengan reklame besar yang cukup mengundang, namanya “SIHOT: Siomay Hot Plate”. Penasaran, kami pun masuk. Seporsi somay terhidang di atas hotplate, lembut dan enak banget, kami juga pesan lumpia khas semarang.

gerbang Sam Poo Kong

Perut sudah terisi, kami pun masuk ke kawasan Sam Poo Kong. Bangunan budaya yang didominasi warna merah ini memang keren untuk berfoto. Serasa lagi di Beijing. Patung Laksamana Cheng Ho berukuran raksasa pun menjadi mascot utama klenteng ini. Jeprat jepret dan gaya narsis pun mulai dilakukan. Tak terasa matahari main terik, kami berteduh di dekat pintu masuk sambil duduk-duduk kami pun beli es krim.




melihat masa depan



es kriiimmm ....

Perjalanan kami lanjutkan menuju masjid agung Semarang. Dari Sam Poo Kong kami naik taksi karena angkot menuju masjid agung harus turun naik dan berputar. Perjalanan memakan waktu 15 menit karena supir taksi memilih jalan pintas yang jalannya belum semua teraspal. Setelah gajrug gajrug di jalanan tibalah kami di masjid agung. Masjidnya luar biasa luas dan terdapat payung-payung besar yang katanya serupa dengan di Mekkah, sayangnya payung tersebut sedang tidak dibuka. Kami berfoto di kawasan masjid yang bernuansa warna ungu.

Di komplek masjid tersebut terdapat menara tinggi bernama Asmaul Husna, dengan membayar tiket masuk kami bisa ke puncak menara dan melihat komplek masjid plus pemandangan Kota Semarang. Angin bertiup cukup kencang saat kami sampai di puncak menara, setelah berfoto sebentar kami pun segera turun karena ga mau masuk angin.


pemandangan masjid agung dari puncak menara



Dari Masjid, sekali lagi kami naik taksi menuju kawasan Kota Tua Semarang yang terkenal dengan bangunan Gereja Blenduk. Ternyata kawasan Kota Tua tidak begitu luas. Beberapa bangunan kuno sudah disulap menjadi gedung kantor dan juga restoran. Sebagai penyuka gedung kuno, saya pun segera jeprat jepret mengabadikan. Sayangnya sebagian gedung di Kawasan Kota tua dalam kondisi yang memprihatinkan, tidak terawat dan bau pesing. Kesemerawutan dimana-mana, belum lagi penjual ayam dan ada beberapa yang menggelar permainan seperti judi membuat kawasan gedung kuno yang aslinya cantik ini jadi muram dan kusam. Semoga pemerintah setempat segera merestorasi kawasan yang sebenarnya cantik ini dan mungkin bisa dijadikan potensi wisata.


Gereja Blenduk

sekarang jadi gedung asuransi

jadi restoran

jadi terminal bayangan angkot (sayang banget kan ..)

ini gedung aslinya pasti cantik banget, eh ga terawat plus di bawahnya banyak tukang ayam 

Dari kota tua kami jalan kaki menuju Tjiang Residence karena saya lihat di google maps, lokasinya dekat. Kami beristirahat sebentar karena malamnya kami mau main-main di pasar malam Semawis yang letaknya persis di depan tempat kami menginap.

Pasar malam Semawis yang buka setiap weekend adalah tempat wisata Kulinernya orang Semarang. Tenda-tenda makanan berjajar sepanjang jalan. Lampu-lampu berkelip genit, suasana oriental makin kental dengan adanya pengamen yang menyanyikan lagu-lagu Mandarin. Kami bertiga pun mencoba makanan yang aneh dan belum pernah kami lihat sebelumnya.

suasana Pasar Semawis yang ramai

kakek nenek yang menyanyikan lagu-lagu Mandarin

salah satu tenda makanan yang ga sepi pengunjung
demam Korea pun sampai ke Semawis


Pisang Plenet yang tidak buka cabang karena ga mau ribet hahahaha

keuntungan menginap di Tjiang Residence adalah saat kekenyangan makan, kami bisa pulang sebentar trus bisa lanjut lagi berwisata kuliner. Malam itu kami bertiga tidur kekenyangan.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images