SEMARANG Wo Ai Ni .. iie

11.10


Februari 2015, liburan imlek mengilhami saya mengajak Ms. Maryati dan Bernica untukk pergi ke Semarang. Saya memilih Semarang karena ibukota Jawa tengah ini masih memiliki kawasan Pecinan yang unik dan tradisi Tiongkok yang kental.


Seperti biasa, urusan persiapan perjalanan menjadi tanggung jawab saya. Dari beli tiket kereta, booking hotel sampai susunan itinerary. Demi tema imlek, sengaja saya memilih menginap di Tjiang Residence yang kental dengan nuansa Chinesse. Tak hanya itu, saya mewajibkan Ms. Maryati dan Bernica untuk berkostum merah selama trip berlangsung, minimal nuansa merah supaya tema imleknya terasa.

Akhirnya tibalah saat berangkat. Kereta pagi dari stasiun Senen pun melaju membawa kami menuju Ibukota Jawa Tengah. Perjalanan ini akan memakan waktu 6 jam, kami pun melengkapi dengan “amunisi” yang cukup lengkap. Kami duduk satu bangku bertiga, maklum lah kereta ekonomi, walau berdekatan tapi tetap adem karena keretanya ada ac nya.


biar dempet yang penting senang

akhirnya sampai juga di Semarang
Jam 1 siang kami tiba di Stasiun Semarang Poncol. Lapar? tentu saja, persis di depan stasiun ada sebuah resto yang tampak ramai, karena sudah lapar rasanya kami malas antri lagi di resto tersebut. Setelah tanya pada satpam, kami diarahkan untuk makan di Bantuman, Warung Mbah Jingkrak yang tak jauh dari jalan besar.

Warung Mbah Jingkrak itu tak sulit ditemukan. Kebetulan modelnya pun prasmanan, tanpa menunggu lama kami pun sibuk menyendok lauk pauk ke dalam piring kami. Perut kenyang, kami pun foto-foto di beberapa spot lucu di Mbah Jingkrak. Perjalanan pun kami lanjutkan dengan naik taksi menuju Tjiang Mai.


dipilihh .. dipilihhh ...

dua es dedemit pengusir haus

niru-niru gaya si Mbah



tak sampai 15 menit, kami pun tiba di sebuah penginapan yang berornamen ala Tiongkok dan serba merah meriah. Setelah urusan check in beres kami pun istirahat di kamar. Penginapan ini benar-benar sesuai dengan tema liburan kami kali ini yaitu imlek oriental. Lucunya lagi, kami dapat welcome drink berupa air mineral dengan aksara mandarin plus dodol khas imlekan.

dodol dan air mineral
pintu depan Tjiang Residence
Menjelang senja kami bertiga pergi ke Taman Tabanas. Kali ini lagi-lagi kami memilih naik taksi, maklum transportasi di Semarang belumlah banyak ragamnya. Taksi yang kami naiki pun membelah kota Semarang yang tak macet, melewati perumahan mewah dan terus berjalan mendaki perbukitan sampai kami tiba di Taman Tabanas.


Taman Tabanas 




salah satu restoran bertema oriental

Semarang malam hari

Yuk masak-masak

kopiiii ...


Dari ketinggian Taman Tabanas kami melihat pemandangan senja kota Semarang. Galau? Lah ya iya, kan saya ratu galau hahahhaha. Kami pun foto sana sini, dengan berlatarkan restoran yang mengusung tema oriental. Selesai foto kami pun memilih salah satu restoran yang punya pemandangan kota Semarang malam hari yang bagus banget. Di restoran itu kami makan satu set shabu-shabu yang harganya cuma 50 ribu something dan bisa untuk bertiga, coba kalau di Jakarta mana dapeeett. Sebagai peneman shabu-shabu kami bertiga memesan wedang jahe yang meredakan dinginnya Semarang.  Selesai makan, kami kembali ke Tjiang Residence dan main-main di sekitarnya.

lokasi Tjiang Residence dikelilingi beberapa klenteng yang luar biasa bagus, duuh rasanya kaya lagi di Tiongkok beneran deh bukan kaya di Semarang. Kami pun berfoto-foto cantik di tiap klenteng dari Klenteng Tong Pek Bio yang ada di pertigaan jalan hingga Klenteng Tay Kak Sie di gang Lombok. Semua gadget kami akhirnya mati total akibat terlalu diforsir untuk foto-foto dan kami kembali untuk beristirahat.


Klenteng Tong Pek Bio

Klenteng Tay Kek Sie

Laksamana Cheng Ho



You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images