Pelita dari Kaimana

19.52


Ini hasil karya kedua yang ditulis untuk berpartisipasi dalam lomba menulis berdasarkan lagu-lagu karya The Script. cerpen ini berlatar sebuah kota kecil di Papua yang pemandangan senjanya luar biasa indah, sampai ada lagunya.


Pelita dari Kaimana

            Dengan langkah semangat aku menuruni perbukitan menuju pelabuhan Kaimana. Perjalanan kali ini diikuti oleh tiga orang dewasa dan seorang anak-anak yaitu aku. Hari ini kami akan menjual lima keranjang penuh buah merah khas Papua yang baru saja dipanen. Aku berjalan membawa keranjang kecil penuh dengan buah merah, pikiranku pun melayang. Dalam khayalku uang penjualan buah akan kubelikan beberapa buku. Aku suka sekali membaca, walau Ayah sangat tak suka.

           Ayah adalah ketua suku Mairasi, suku asli yang tinggal di pedalaman hutan di Kaimana ini. Bagi ayahku, Mairasi adalah suku terkuat dan paling hebat di tanah Papua ini. Ayah ingin aku menjadi penerusnya. Jatebganua Jikwa namaku, Sembilan tahun usiaku, tak pernah ingin menjadi ketua suku sebab aku hanyalah bocah kecil yang haus ilmu.

            Pelabuhan Kaimana begitu ramai. Sepertinya akan ada pesta penyambutan, mungkin ada pejabat datang. Kulihat Dolly disana di barisan penari, ia begitu cantik dengan kipas bulu burung cenderawasih di tangannya. Dolly putri pemilik toko buku “Sinar Ilmu”. Dolly Pihahey seumuranku, ia sudah bersekolah di Sekolah Dasar Kaimana. Dolly yang mengajari aku membaca dan meminjamkan buku-buku dari toko ayahnya.
  
            “Jikwa … hai Jikwa” kulihat Dolly melambaikan tangan dan menghampiriku.

            “Ada sepuluh guru yang akan datang dari Jakarta mau mengajar di sekolah.” Dolly menjelaskan seolah mengetahui pertanyaan dalam hatiku.

            Rombongan dari Jakarta pun tiba, mereka didampingi oleh Bupati Kaimana. Guru-guru yang baru datang begitu bersemangat seolah tak lelah dengan perjalanan yang jauh. Dolly menari begitu gemulai dengan kipasnya, ia mengalungkan bunga-bunga kepada salah satu guru yang datang.

            Pesta penyambutan diakhiri dengan pidato bapak Bupati, bahwa anak-anak Papua harus bersekolah. Dengan ilmu anak-anak Papua tidak akan tertinggal dari putra putri daerah lain. Anak-anak Papua bisa menjadi guru, polisi, dokter bahkan presiden jika ia bersekolah. Ucapan bapak Bupati begitu mengena di hatiku, aku mau sekolah. Aku ingin diajari oleh guru-guru dari Jakarta yang nampak cerdas dan hebat itu.

            Ko mo sekola Jikwa?” tanya Ayah padaku. Aku hampir mengangguk, namun ucapan Ayah selanjutnya telah menjatuhkan harapanku.

            Laki Mairasi tak sekola, berburu dan bertani itu hebat” tegas Ayah sambil menatapku, anak laki-laki satu-satunya.

            Aku patah arang, namun rupanya Tuhan sayang padaku. Keajaiban datang menghampiri. Selesai berpidato pak Bupati mendekati Ayah dan menjabat tangannya seolah sudah lama bersahabat dengan ayah.

            “Mburinegga Pagawak, apa kabarmu? Bagaimana Mairasi? Hey kau bawa buah merah ya?” Bapak Bupati menyapa Ayah dengan berbagai pertanyaan seolah begitu akrab. Aku pun terperangah, tak pernah kutahu bahwa Ayah kenal dengan bapak Bupati.

            “Aku baik Bapak. Mairasi baru saja panen buah merah. Bapak tak kunjungan lagi ke Mairasi kah?” Ayah menjawab pertanyaan bapak Bupati dengan sopan. Jawaban Ayah membuatku paham mengapa kedua pemimpin ini saling mengenal.

            “Ini anak kau Mburinegga?” perhatian bapak Bupati beralih padaku.

            “Iya Bapak.” Jawab Ayah sambil meletakkan tanganya di kedua pundakku.

            “Aku ingin dia sekolah, ia kelihatan cerdas. Mairasi bisa menjadi lebih maju di tangannya nanti. Tak usah kau pikirkan biaya dan lainnya, semua urusanku. Cukup kau antar dia esok ke sekolah. Aku mau putra asli Kaimana ini diberi ilmu oleh orang-orang hebat dari Jakarta.” Kalimat bapak Bupati begitu jelas dan tegas membuat ayah tak bisa menolak. Kejadian hari ini kusimpan di dalam hati dan betapa aku berterima kasih pada bapak Palepaca Kalingga sang Bupati.

* * * * *

            Tiada terasa sepuluh tahun berlalu sudah dari kejadian di hari bapak Bupati memintaku bersekolah. Selama sepuluh tahun itu pun aku selalu menduduki peringkat pertama dari sekolah dasar hingga sekarang. Aku tak ingin mengecewakan bapak Bupati yang telah menyekolahkanku.

            Jika aku peringkat pertama maka Dolly meraih peringkat kedua, tidak pernah tergeser selama sepuluh tahun ini. Kami pun dikenal sebagai pemuda harapan Kaimana. Dolly Pihahey, orang yang pertama mengenalkanku pada aksara. Si hitam manis berambut ikal panjang serupa ombak laut Kaimana itu meraja di hatiku kini. Bersamanya semua menjadi indah. Sepuluh tahun bersama dengannya membuatku sadar bahwa dirinyalah cinta, cintaku yang pertama. Cinta yang kuutarakan saat senja yang terindah di Kaimana. Cinta yang hanya ia balas dengan senyuman yang mengukir lesung di pipinya.

            Senja di minggu ketiga setelah pengakuan cintaku itu, kami duduk berdua di pinggir pantai. Ia telihat begitu gundah, wajahnya yang manis tak dapat menyembunyikan kegelisahannya.

            “Berapa lama kau akan disana?” suaranya parau bertanya padaku.

            “Aku berangkat ke Jakarta minggu depan, selama tiga bulan aku akan masuk asrama untuk belajar dan pelatihan demi menghadapi Olimpiade Sains Internasional di London.” Aku menjelaskan sambil menggenggam tangannya.

            “Berangkatlah, aku tak mau jadi penghalangmu. Meski sungguh berat bagiku berpisah, ini pertama kalinya aku akan di Kaimana tanpamu. Berangkatlah Jikwa, aku tahu kau akan mengharumkan nama Indonesia dan membuat kami semua di Kaimana bangga” ia pun menangis setelah selesai berkata.

            Pagi hari ini Bandara Utarom begitu penuh sesak. Bapak Palepaca Kalingga yang sudah tak lagi menjadi Bupati kini sedang berpidato di hadapan orang-orang suku Mairasi dan penduduk Kaimana yang datang hendak melepas kepergianku ke Jakarta.

            “Hari ini Kaimana membuka sejarah yang baru. Seorang putra asli suku Mairasi akan membawa nama Indonesia untuk bertarung ilmu melawan negara-negara hebat lainnya. Selamat jalan anakku Jatebganua Jikwa, taklukan pemuda-pemuda barat. Kibarkan bendera merah putih di London, buat Indonesia bangga. Tuhan besertamu, doa kami mengiringi engkau.” Beliau menutup pidatonya dengan ucapan yang membuat jantungku berdetak kencang. Aku harus menang demi negaraku dan demi orang-orang yang kucintai.

            Ayah yang tak lagi mengenakan koteka dan Ibu yang memakai pakaian adat melepasku dengan rasa haru. Dolly, ia memelukku erat dan meletakkan sebuah MP3 player yang mungil ke tanganku.

            “Dengarlah seluruh perasaanku untukmu. Kemarin aku minta tolong Waoma untuk membeli di Merauke dan mengisinya dengan lagu-lagu pilihanku” bisiknya di telingaku, sekilas aku merasakan ia mengecup pipiku dan basah air matanya sempat terasa di kulitku.

            Persiapanku selama tiga bulan demi menghadapi Olimpiade Sains pun hampir rampung. Selama tinggal di Asrama, saat belajar selalu kudengarkan lagu-lagu pilihan Dolly sebagai penyemangat. Ada satu lagu yang begitu aku sukai, Dolly tahu betul bagaimana mengobarkan semangatku. Lirik lagu tersebut kutulis dan kutempel di dinding kamarku di asrama, aku bertekad 
untuk menang, aku harus bekerja keras dan belajar dengan giat.

You can be the greatest, 
You can be the best
You can beat the world …
Standing in the hall of fame, 
And the world's gonna know your name
You can be the hero, You can get the gold
Breaking all the records they thought never could be broke
Do it for your people, Do it for your pride
Do it for your country, Do it for your name

            Udara musim dingin di London begitu menggigit, cukup membuat pemuda dari negara yang bermandikan cahaya matahari sepertiku dibuat menggigil. Hari ini adalah pengumuman pemenang International Science Olympiads. Mitsuru Tsugihara peserta dari Jepang duduk di sampingku, ia terlihat begitu gugup, sementara itu Dennis Rodderick wakil dari Amerika tampil percaya diri, aku hanya berdoa saja di dalam hati.

            Trinity Hall University of Cambridge UK dipenuhi gema tepuk tangan saat nama pemenang disebutkan. Aku masih gemetar tak percaya jika Mitsuru tak menepuk pundak dan mempersilahkan aku melewatinya untuk maju ke depan. Aku merasa seluruh kembang api meledak bersamaan di kepala dan hatiku saat Adam Hunthly dan John Ryrneer menyebut namaku sebagai pemenang utama International Science Olympiads. John Ryrnerr mengucapkan selamat padaku sambil mengalungkan medali emas.

            Congratulation for Jatebganua Jikwa, Congratulation and thank you for Indonesia for teaching us the best lesson through this young boy that no matter where you are coming from, your incredible personality and knowledge will lead you to be the winner.” Adam Hunthly sebagai ketua pelaksana Olimpiade berpidato mengucapkan selamat padaku.

            Aku dinobatkan sebagai An Absolute and Outstanding Winner karena meraih nilai tertinggi di semua cabang ilmu yang diperlombakan. Tak pernah ku menyangka bahwa aku mampu mempersembahkan emas untuk Indonesia, bisa menjadi finalis saja aku sudah bersyukur karena lima orang wakil Indonesia lainnya sudah berguguran di babak penyisihan.

            Untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya berkumandang di Trinity Hall University of Cambridge. Siapa yang akan mengira bahwa seorang putra asli Papua, seorang yang berasal dari suku di pedalaman Kaimana dapat mengibarkan merah putih dalam gedung di  salah satu univeristas tertua di dunia.

            Kabar gembira ini sampai ke Kaimana, Bapak Palepaca membawa Ayahku ke rumahnya untuk menonton televisi dan menyaksikan aku mendapat medali emas. Ayah, Ibu, Dolly dan Ayahnya yang ikut menonton di rumah mantan bupati itu menangis terharu.

            Kepulanganku ke Kaimana disambut dengan acara adat dan juga pesta syukuran yang diadakan oleh pemerintah Kabupaten Kaimana. Setelah beramah tamah dengan para pejabat Kabupaten aku pun mengundurkan diri. Aku mencari permata hatiku, Dolly Pihahey. Aku begitu merindukannya, lima bulan lamanya kami tak bertemu. Dan kudapati ia disana, di sudut aula dengan baju biru bermotifkan burung merak, begitu cantik serupa burung merak yang mengembangkan ekornya.

            “Selamat datang sayang, My Hero.” Senyumnya sempurna.
           
            Aku memeluknya erat seolah tak ingin berpisah lagi. Diam-diam kami menyelinap dari keramaian pesta, dan berjalan menuju dermaga. Kudengarkan lamat-lamat debur ombak Kaimana yang kurindukan. Kurebahkan kepalaku di pangkuan Dolly, ia mengusap rambutku.

            “Jikwa, kamu begitu hebat. Aku bangga.” Dolly terus berkata.

            “Tanpamu semua tidak akan terjadi. Terima kasih juga untuk lagunya.” Aku beringsut bangun dari posisi rebahku.

            “Lagu yang mana?” tanyanya sambil mengerlingkan mata.

            “The Script, Hall of Fame.” Kataku tersenyum juga.

            “Ah iya benar.” jawabnya sambil memelukku.

            Malam itu aku bercerita tiada henti tentang pengalamanku selama lima bulan jauh darinya. Ia kadang mengernyit lalu tertawa terbahak mendengar ceritaku. Aku bersumpah untuk terus membahagiakannya. Aku harus bekerja keras demi mewujudkan itu.

            Karena prestasiku, aku dipanggil ke Jakarta oleh Presiden Republik Indonesia. Oleh beliau aku dijuluki “Pelita dari Kaimana”. Julukan itu sebagai perlambang bahwa aku telah menerangi Kaimana, Papua dan juga Indonesia dengan prestasi yang kuraih di kancah Internasional. Bapak Presiden menawarkan beasiswa untuk kuliah di mana saja yang kuinginkan dengan biaya negara. Dengan kerendahan hati aku sampaikan pada Bapak Presiden bahwa aku ingin kuliah di Universitas Indonesia saja, karena Dolly juga memperoleh beasiswa untuk kuliah di jurusan ekonomi Universitas Indonesia.

15 tahun kemudian

            Pelabuhan Kaimana gegap gempita, perhelatan akbar segera dilaksanakan. Untuk pertama kalinya area pelabuhan akan dijadikan tempat pelantikan gubernur yang baru. Semua penduduk suku pedalaman seperti suku Irarutu, suku Kambarau, suku Koiwai dan tak ketingalan suku Mairasi turut hadir meramaikan.

            Penduduk dan pejabat pemerintah bahu membahu menyelenggarakan acara pelantikan Bupati, semua atas inisiatif tanpa ada permintaan dari siapapun. Gedung balai Pelabuhan pun telah disulap cantik.

            Saat ini semua hadirin terkesiap mendengar suara pembawa acara memberi pengumuman ke seantero gedung.

            “Bapak Gubernur terpilih beserta Ibu memasuki ruangan. Selamat datang di Kaimana Bapak Jatebganua Jikwa dan Ibu Dolly Pihahey.” Suara pembawa acara ditutup dengan tepuk tangan membahana dari hadirin.

            Hari ini seorang Gubernur termuda di Indonesia dilantik. Ia dilantik di kampung halamannya. Ia putra asli Papua, anak suku Mairasi yang pernah membawa nama Indonesia ke kancah Internasional. Di usia yang ke 30 ia menjadi Gubernur Papua terpilih yang memenangkan 80% suara. Tepuk tangan pun tak berhenti sampai bapak Gubernur melambaikan tangannya dan duduk kembali.

             
 Jakarta, 14 Maret 2015

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images