Teratai Jiwa

21.40

Semenjak follow akun twitter info lomba menulis, saya pun mulai bersemangat nulis cerpen lagi. beberapa cerpen saya tulis di tengah kesibukan ini itu, tapi saya tetap paksa diri saya untuk menulis

Cerpen ini berjudul Teratai Jiwa, dikirim untuk mengikuti lomba dengan tema kasih tak sampai yang diadakan oleh menulis buku.




TERATAI JIWA
:. Sebab kasih tak sampai bukan hanya soal asmara

Suasana riuh terdengar dari dalam di sebuah kelas, di salah satu sekolah SMP di bilangan Jakarta Utara. Bel pergantian jam pelajaran baru saja berbunyi. Suasana mendung, awan hitam menghias langit, gelap saja yang terlihat dari jendela kelas. Seorang guru berjalan masuk dan menutup pintu kelas.

“Bu, selamat ya sudah memenangkan Storyteller keempat kalinya. Kali ini kami mau dengar cerita Ibu” seru seorang murid tepat ketika Ibu guru memasuki ruangan kelasnya

“Usul yang menarik, cerita apa yang ingin kalian dengar hari ini?” tanya Ibu guru seraya berjalan ke arah meja dan meletakkan buku serta gelas air minumnya.

“Ini bu, Elvira baru saja patah hati, kami mau mendengar cerita yang sedih bu. Cerita tentang kasih yang tak sampai seperti cerita Ibu tentang Siti Nurbaya begitu bu.” Jawab seorang murid yang bernama Andini.

“Benar itu Elvira? Andini dan yang lain? Baiklah Ibu akan bercerita tentang kisah sedih bahkan lebih menyedihkan dari sekedar kasih tak sampai.”

Seketika itu, para siswa langsung terdiam, mereka sigap mendengarkan. Ibu guru memang memiliki kemampuan bercerita yang luar biasa. Bagai tersihir, seluruh telinga akan menyimak kata perkata dengan baik. Mulut terkunci, tubuh bagai tak bergerak, hanya ingin mendengar. Mendengar saja.

*  *  *  *  *  *

Orang-orang tersayang adalah mereka yang berposisi paling hebat dan tepat untuk memberi rasa nyeri yang terdalam. Mereka punya kekuatan lewat tingkah polah serta tutur kata yang mampu meremukkan hati hingga jadi serpihan.

Dibesarkan dalam keluarga yang penuh kehangatan dan keakraban membuatku  nyaman dipeluk rasa percaya. Kekompakan seluruh anggota keluarga adalah kunci paling utama. Sebenarnya ada satu hal yang tak sempurna. Ada batu kecil yang tak kasat mata, tapi ia ada. Ia nenekku, namanya Padma yang berarti teratai, kami memanggilnya Eyang Putri. Hubunganku dengan Eyang adalah hubungan yang mati rasa. Ia tak menganggapku ada, demikian pula sebaliknya.

Dalam ingatanku, sejak kecil tak sekalipun kuingat Eyang mencintaiku atau menyayangiku atau apapun itu layaknya cerita-cerita ideal yang hanya ada dalam buku teks Bahasa Indonesia untuk anak Sekolah Dasar. Eyang Kakung, sudah lama berpulang, jauh sebelum aku dilahirkan sebagai cucu pertamanya. Eyang Putri lah yang tampil ke depan sebagai ujung tombak keluarga besar Atmahardja. Eyang yang membesarkan sendiri lima orang anaknya, sampai mereka mentas menjadi orang-orang yang terpandang dalam pekerjaannya, tapi tidak dengan ibuku.

Ibuku menikah muda dengan ayah, selepas ia menamatkan SMA. Impian Eyang untuk melihat Ibu melenggak lenggok dalam seragam pegawai kantoran pun kandas sudah, padahal Ibu adalah anak sulung Eyang, harapan terbesar Eyang terletak di pundaknya. Tapi Ibu lebih memilih untuk menemani Ayah yang baru saja diangkat menjadi pegawai Negeri, untuk ditempatkan di kota kecil, Indramayu. Eyang tak mampu menolak, tak juga mampu menghalangi.

Hampir lima tahun Ayah bekerja di Indramayu, tak sekalipun Eyang datang menemui kami, menengok aku, cucunya yang pertama. Kami hanya bertemu tiap Idul Fitri dan Idul Adha, setahun dua kali saja, tidak lebih.

Di usiaku yang kelima, karena kinerja Ayah yang begitu baik, Ayah pun ditarik kembali ke kantor pusat di Jakarta. Kami pun menetap di rumah besar khas Belanda yang memang milik keluarga besar Atmahardja, rumah peninggalan Eyang Kakung. Rumah itu begitu kokoh dan besar, hingga menampung beberapa keluarga kecil di dalamnya. Keluarga pamanku, keluarga tanteku dan keluargaku tentu saja. Ada delapan orang dewasa dan lima anak kecil yang menetap di dalam rumah besar yang terletak di kawasan Kebayoran itu.

Untuk pertama kalinya aku dapat berinteraksi dengan sepupu-sepupuku, dan aku melihat keluarga besar Ibu. Ibu yang ceria, Ayah yang humoris begitu bersinar di dalam keluarga besar membuatku bangga dalam diam dan memperhatikan. Namun entah mengapa Eyang tak pernah suka berlama-lama berada dalam lingkar tawa dimana Ayah dan Ibuku berada. Beda halnya jika Om Mukti adik Ibu datang dari Bandung, Tante Ira yang sering muncul tiap akhir pekan atau adik-adik Ibu yang lain, Eyang suka sekali ngobrol-ngobrol bahkan tertawa terbahak-bahak bersama mereka.

Pertikaianku yang pertama dan Eyang muncul saat aku berusia sepuluh tahun. Saat itu Tante Ira yang tinggal di Halim menitipkan uang arisan untuk Eyang kepadaku. Tanpa kuhitung lagi, uang itu kuserahkan pada Eyang. Sore harinya Eyang marah besar, ia menuduhku mencuri, karena uang tante Ira selisih dua puluh ribu dari jumlah yang seharusnya. Ibu yang merasa malu, langsung menyeretku menjauh dari Eyang dan memukuli aku dengan sapu tanpa ampun. Aku menangis, sakitnya tak seberapa memang, tapi hatiku luar biasa sakit. Aku tak bersalah, tak punya kesempatan membela diri dan aku dihukum. Saat aku meringkuk menangis, Eyang pun lewat sambil tersenyum, kupikir ia berniat menghibur.

“Gak usah nangis, kalau pencuri memang harus dihukum. Oh iya uangnya sudah Eyang hitung lagi ternyata pas, yang dua puluh itu jatuh di tempat tidur.” Eyang pun berlalu sesudah bicara begitu dan meninggalkan tanda tanya dalam hatiku.

Setelah kejadian itu, Ayah dan Ibu memutuskan untuk pindah rumah ke daerah Jatibening. Aku pun semakin jarang bertemu dengan Eyang, keluarga kami hanya berkunjung sebulan sekali ke rumah besar milik Eyang. Walau tak berkata ketus, sikap Eyang yang dingin padaku membuatku merasa kikuk dan ganjil, jadi kunjungan kami ke sana hanya sekedar basa basi atas nama kekeluargaan.

Memasuki usia remaja, aku yang mulai kenal cinta pun datang ke rumah Eyang bersama dengan kekasihku waktu itu. Anne sepupuku merayakan ulang tahunnya yang ketujuh belas di rumah Eyang. Di rumah ala Belanda itu diselenggarakan pesta kebun yang meriah, terasa menyenangkan sampai akhirnya kulihat Eyang menghampiriku.

“Ngapain kamu kesini bawa-bawa pacar? ntar kebablasan lagi, hamil lagi. Ini tuh acara ulang tahun ya bukan acara pacar-pacaran.” katanya keras-keras sambil menunjuk wajahku. Aku terkejut dan malu luar biasa, bagaimana mungkin Eyang berbicara seperti itu di depan banyak orang, di acara ulang tahun Anne. Sambil menahan tangis, kulihat Mitha anak Tante Ira digandeng oleh Bobby pacarnya, Arya anak Om Mukti datang jauh-jauh dari Bandung bersama Lala pacarnya. Dan tamu spesial Anne di ulang tahunnya adalah Ardian kekasihnya semenjak SMP, lalu apa yang salah denganku? Mengapa Eyang begitu membenciku? Mengapa ….?

Setamat SMA aku pun melanjutkan studi di Bandung, seluruh keluarga mengantarku ke Bandung dan melepasku dengan ucapan-ucapan selamat dan penyemangat. Eyang? Beliau diam saja, menata makanan masakannya yang kami jadikan bekal. Ia tak mengucapkan kata-kata apapun padaku.

Di tahun ketiga aku kuliah, orang tuaku memutuskan untuk tinggal lagi di rumah Eyang. Ibu ingin di dekat Eyang yang memang sudah mulai tidak sehat. Liburan kuliah pun menjadi ajang uji mental. Aku harus pulang tiap libur ke rumahku yang rumah Eyang juga. Betul saja, kali ini Eyang tak ragu berkata ketus padaku.

“Setiap kamu di sini, uang Eyang selalu hilang. Memang pencuri susah ya, gak bisa hilang kelakuannya” demikian ketusnya ucapan Eyang padaku yang sedang duduk menonton televisi. Aku masih diam, demi Ayah Ibuku aku masih diam. Namun diamku ini rupanya berbahaya. Seumpama lava yang terus menerus menggelegak di dalam rongga perut bumi dan menunggu untuk diletuskan, itulah rasa sakit dan sedih yang terus ada di dalam hatiku meronta minta dikeluarkan.

Waktu pun berlalu tahun berganti, aku menamatkan studiku di Bandung dan kembali ke Jakarta. Dunia kerja pun telah kumasuki dengan mandiri, tanpa bantuan saudara ataupun kenalan keluargaku. Eyang pun masih bersikap acuh tak acuh, padahal aku berusaha menyapanya setiap pagi aku berangkat bekerja, beliau hanya menjawab pendek dan seperlunya. Dan waktu pun berlalu kembali, tanpa terasa sudah dua tahun aku bekerja. Aku berubah menjadi pribadi yang makin dewasa, namun hubunganku dengan Eyang tak juga berubah, masih di titik yang sama. Tak berubah hampir tiga puluh tahun lamanya.

Penghujung November tahun 2014, kondisi Eyang makin menurun, beliau sering keluar masuk Rumah Sakit semenjak 6 bulan lalu. Diabetes yang beliau derita makin menguasai tubuhnya dan merongrong kesehatannya. Dokter menyatakan bahwa kaki kiri Eyang harus diamputasi. Kaki Eyang yang sewaktu muda begitu menawan, betis bunting padi, betis seorang penari yang membuat banyak pria jatuh hati. Tentu saja aku tahu cerita itu dari sepupu-sepupuku, mana pernah Eyang bercerita masa mudanya kepadaku.

Sewaktu akan dioperasi amputasi, Eyang memanggil seluruh anggota keluarga dan berbicara satu persatu dengan kami. Saat giliranku tiba, aku begitu berdebar. Kami tak pernah berbicara lama, maka hari itu akan menjadi sejarah. Dengan langkah cemas, aku masuk ke ruang dimana Eyang dirawat dan mengambil kursi untuk duduk.

Eyang menatapku dengan lama kemudian menghembuskan nafas panjang. Detik demi detik berlalu terasa berat. Bagai terpidana menanti vonis dari hakim, aku berdebar menunggu kalimat macam apa yang akan Eyang ucapkan padaku.

“Mungkin kamu selama ini benci sama Eyang. Tidak apa-apa Eyang paham, selama ini juga Eyang ga pernah baik-baik sama kamu. Entah kenapa Eyang selalu merasa bahwa kehadiran kamu lah yang membuat harapan Eyang pada Ibumu lenyap. Perasaan kecewa yang ga pernah bisa hilang. Sekarang coba Eyang mau dengar pendapat kamu.”

Aku terkejut, wanita paruh baya di hadapanku ini ternyata menganggapku sebagai rintangan kesuksesan anaknya. Aku yang tak ia harapkan kehadirannya. Kini ia menantangku, ia memintaku berbicara dan saat itu aku sudah tak tahan lagi. Lava panas yang lama menggelegak di dalam dadaku keluar tak beraturan, rasa amarah yang tumpah ruah tak tertahankan.

“Eyang Pengecut ..!” jeritku tak terkendali, amarah menguasaiku.

“Eyang, apa salah saya? Sebegitu bencikah Eyang pada saya? Apakah saya merampas impian Eyang pada Ibu? Itu bukan keinginan saya Eyang, kalau bisa saya juga tidak mau dilahirkan, saya juga tidak mau jadi bagian keluarga Atmahardja yang selalu Eyang bangga-banggakan. Saya benci Eyang, saya benci ….!!” Jerit tangisku berhamburan, aku pun keluar sambil membanting pintu.

Sambil menangis, aku berlari keluar tak kupedulikan suara-suara saudaraku memanggil namaku. Aku hanya ingat bahwa aku berlari menuju halaman parkir dan melarikan Toyota Starlet milikku dengan kecepatan tinggi. Malam itu Om Mukti mengabariku bahwa selepas insiden tadi, kondisi Eyang makin memburuk. Tekanan darah Eyang pun naik. Om Mukti tak menyalahkanku, ia malah memintaku bersabar dan berdoa untuk kesembuhan Eyang yang kujawab dengan setengah hati dan enggan. Dua hari kemudian Eyang dioperasi, akan tetapi operasi tidak berjalan sesuai harapan.

Selepas operasi amputasi, kondisi Eyang tak juga membaik. Kesadaran Eyang makin menurun. Di hari ketiga setelah operasi, entah keajaiban dari mana tiba-tiba kondisi Eyang pulih dan dapat keluar dari ruang ICU. Di kamar rawat biasa, Eyang meminta bertemu denganku. Aku malas, aku enggan, sepertinya sulit menjaga emosi jika Eyang berkata yang tidak enak lagi seperti kejadian seminggu lalu.

Aku memasuki koridor Rumah Sakit dengan berjalan perlahan. Sejujurnya aku tak mau bertemu Eyang namun Ibu, Om dan Tante juga saudaraku yang lain memaksa. Kuseret langkah memasuki kamar rawat Eyang. Kudapati Eyang tertidur, aku berjalan mendekat tanoa suara, tetapi rupanya Eyang tau aku datang dan ia pun terbangun.

“Eyang nunggu kamu. Eyang mau minta maaf sama kamu. Selama ini Eyang sayang sama kamu. Kamu cucu pertama Eyang yang paling pintar, tapi Eyang tidak pernah menunjukan sama kamu. Kamu mau memaafkan Eyang kan?” tanyanya dengan sinar mata meredup dan menggenggam tanganku. Aku terheran, terdiam tak menjawab. Lidahku kelu.

Tiba-tiba saja bagai suara tersedak, tubuh Eyang pun mengejang, nafasnya berat dan melemah. Aku menjerit memanggil saudara-saudaraku yang berada di luar kamar dan meminta dipanggilkan dokter.

Dokter pun datang dan bergegas memeriksa denyut nadi Eyang, yang kami dapati sebagai jawaban hanya wajah dokter yang melemah dan menggeleng. Inalillahi wa Innailaihi Rajiun. Detik itu juga pecahlah tangis keluargaku, Ibu dan adik-adiknya menangis histeris.

Aku terjatuh terduduk, aku menyesal. Eyang telah pergi tanpa mendengar jawabku. Jawaban bahwa aku pun menyayanginya dan ingin membuka awal yang baru. Hubungan yang menyenangkan antara cucu dengan neneknya. Eyang pergi membawa kasih sayangku yang penuh tanda tanya. Kasih sayang yang belum kusampaikan, kasih sayang yang tidak pernah dapat kusampaikan. Kasih sayang yang kini hanya dapat kutitip dalam doa.

*  *  *  *  *

Bel tanda pelajaran telah usai pun berbunyi. Siswa di kelas pun masih  menyeka tetes kecil di sudut matanya.

“Baiklah demikian kisah Ibu tentang kasih tak sampai. Ibu tahu kisah ini tak seperti yang kalian bayangkan, namun kalian perlu tahu bahwa kasih sayang atau kasih tak sampai tak hanya soal asmara” Ibu guru berkata sambil meninggalkan kelas.

Selepas mengajar, Ibu guru pun segera mengendarai mobilnya menuju kompleks pemakaman. Ibu guru terpekur khusyuk membaca doa di depan sebuah makam yang masih merah tanahnya, sebuah makam baru bertuliskan:

PADMA ATMAHARDJA
WAFAT 25 NOPEMBER 2014


Jakarta, 8 Pebruari 2015

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images