Semarang Wo Ai Ni ... San

22.49


Jalan Pandanaran – Toko Oen – Lawang Sewu – Simpang Lima

Sambil menunggu waktu check out kami jalan-jalan sekitaran Tjiang Residence, niat ingin membeli lumpia gang Lombok yang cuma nyebrang jembatan dari Tjiang ehh malah ga buka. Kami akhirnya mencoba es campur di dekat Klenteng Tay Kek Sie yang katanya sering diliput stasiun tv. Es campurnya biasa aja, tempatnya juga kurang begitu nyaman.



kecewa ... lumpia gang lombok tutup

es campur yang sering masuk TV tapi rasanya biasa aja
Jalan-jalan pun kami lanjutkan sampai nemu misoa kari, pisang plenet dan toko mainan jadul semua kami hampiri dan pastinya foto-foto. Jam 12, kami pun keluar dari Tjiang naik taksi yang berupa mobil Avanza. Supirnya cukup baik, kami diantar membeli oleh-oleh di Jalan Pandanaran. Barang-barang kami titip di supir taksi, agak gambling memang tapi Alhamdulillah supirnya bisa dipercaya.


kue lekker


misoa yang anyep, ga ada panasnya hehehhe

mainan jadul di toko mainan jadul

Di Pandanaran kami membeli bandeng duri lunak di beberapa toko, kue-kue dan keripik-keripik. Setelah membeli oleh-oleh, kami jalan lagi mencari penginapan buat duduk2 sambil menunggu kereta kembali ke Jakarta nanti jam 1 malam. Kami cari yang dekat stasiun supaya nanti malam tinggal jalan kaki. Dan dapatlah kami, kamar single untuk rebahan dan menyimpan tas serta barang-barang.

Setelah istirahat sebentar, kami lanjut jalan-jalan ke Toko Oen. Toko klasik ini menjual makanan klasik ala Belanda dan es krim. Selain tata ruang, ornamen pelayannya juga tampil ala jaman Belanda. Kami pun memesan bitter balen dan snack lainnya juga memesan Tjharlotte ice crem wuihh rasanyaaa ga usah ditanya, pokoknya enak banget.


Tjharlotte Royal dan teman-temannya

pelayannya pun berdandan jaman Belanda

classic ambience

pintu masuk toko Oen

Dari Toko Oen kami lanjut ke Lawang Sewu. Gedung yang pernah dijadikan kantor jawatan kereta api semasa Belanda dulu ini memang dikenal angker. Namun ketika kami sampai di sana kesan angker itu sudah tak ada. Dari tiket masuk elektronik yang canggih hingga para guide yang ramah dan berpakaian ala sinyo Belanda menjadi daya pikat tersendiri.


tiket pakai mesin tapping

guide dengan baju sinyo sedang memfoto turis

Seperti biasa kami berfoto di semua sudut-sudut menarik di Lawang Sewu. Bau cat kayu dan cat tembok meruap karena sebagian dari Lawang Sewu memang sedang direnovasi. Puas berkeliling gedung klasik ini kami pun melangkah keluar. Ternyata pemkot Semarang menyediakan mobil gratis untuk para turis berkeliling lokasi wisata di Semarang.





Tak buang waktu, kami pun naik mobil gratis tersebut menuju jalan Pandanaran lagi. Kami masih berburu beberapa makanan khas Semarang dan juga titipan teman. Di Pandanaran kami membeli di satu toko saja yaitu Bandeng Juwana karena oleh-olehnya cukup lengkap. Tadi sore toko ini penuh sekali, namun sore ini tidak begitu penuh. Kami membeli beberapa variasi bandeng, lumpia, wingko, getuk goreng dan lainnya. Ampuun plastik oleh-oleh jadi berat sekali.


bersama kru mobil gratisan

suasana di mobil gratis, serasa milik pribadi
Seusai membeli oleh-oleh, kami berjalan kaki menuju Simpang Lima. Sempat mampir-mampir di beberapa toko termasuk Gramedia yang kebetulan sedang diskon. Duduk-duduk sambil melepas lelah lumayan lah. Akhirnya kami lanjut lagi berjalan dan tibalah di kawasan tenda-tenda kuliner yang mengelilingi Simpang Lima.

Lapar, haus dan lelah akibat jalan kaki yang cukup jauh, membuat kami tak sabar ingin segera menikmati kuliner khas Semarang seperti tahu gimbal dan teman-temannya. Selesai kulineran kami masih keliling lihat-lihat toko-toko oleh-oleh sekitaran Simpang Lima, akhirnya karena kecapean kami duduk-duduk di lapangan rumput sementara itu seorang pengamen yang tampilannya ala ambon manise mengiringi acara duduk-duduk kami, lumayan lah suaranya bagus.






Jam 9 malam, kami kembali ke hotel untuk berkemas-kemas dan keluar nanti tengah malam. Pukul 12 malam kami keluar dari hotel dan berjalan kaki ke dalam stasiun Poncol. Jalan kaki bertiga dengan banyak tas di tengah keremangan malam cukup bikin nyali menciut.

Duduk-duduk santai di bangku-bangku Stasiun dan lucunya saya bertemu dengan teman-teman saya dulu di Sekolah Victory Plus. 30 menit menjelang kedatangan kereta, kami pun masuk ke dalam peron untuk pemeriksaaan karcis

And Disaster Happened …..

Ternyata karcis yang saya pesan untuk jam 1 malam itu jatuhnya harusnya dini hari kemarin. Salah perhitungan karena jam 1 malam artinya sudah berganti hari. Akhirnya saya panik. Lari ke loket dengan harapan masih ada tiket kereta walaupun duduk terpisah, dan sayangnya kami tidak beruntung.

Dengan bantuan petugas loket, kami ditawarkan untuk ngeteng naik kereta. Dan belilah kami tiket menuju Tegal. Dengan terseok-seok, kereta yang membawa kami ke Tegal berangkat jam 3 pagi, perjalanan ditempuh kurang lebih 2 jam.

Sampai Tegal, saya langsung menuju loket karena kami harus segera menuju Cirebon. Sebenernya nyaris tergoda carter angkot dari Tegal ke Cirebon karena di Stasiun Semarang kami diberi info kalau kereta Tegal-Cirebon nyaris tak ada kursi tersisa, tapi saya usahakan ke loket dulu. Untungnya di Loket masih tersedia tiket dan kereta berangkat tepat 5 menit lagi. Selamatlah kami menuju Cirebon.

Keluar dari Stasiun Prujakan Cirebon, kami sudah lelah sekali. Matahari mulai tinggi. Kami sarapan dulu di warung yang menjual menu nasi lengko. Sambil makan kami cerita pengalaman kami ke bapak penjual nasi, dan ia pun menawarkan bantuan untuk mencarikan penginapan di sekitar Stasiun Utama Cirebon, ia juga membantu menyewakan angkot. Alhamdulillah benar-benar bantuan tak terduga.

Oleh supir angkot, kami diantar ke penginapan yang letaknya persis di depan Stasiun.  Harga sewa kamarnya pun hanya 100 ribu. Kami pun bisa rebahan sebentar, mandi dan istirahat. Kemudian saya keluar menuju Stasiun untuk membeli tiket Cirebon ekspress perjalanan jam 3 sore dan rencananya sampai Jakarta jam 6. Beruntung, tiket masih tersedia banyak. Lega rasanya hati saya.

Akhirnya kami pun keliling area stasiun, makan nasi jamblang dan mencoba empal gentong. 45 menit sebelum jadwal berangkat kereta, kami sudah masuk peron dan duduk-duduk manis di Starbuck sampai akhirnya kereta yang akan membawa kami kembali ke Jakarta tiba. Betul-betul pengalaman luar biasa trip kali ini.


ngopi sebelum balik ke Jakarta, seperti biasa jagoan saya Asian Dolce latte

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images