Sing-Malay The Tour Episode 1

10.19


Ari, sahabat saya panas hatinya gara-gara bapaknya yang habis ikutan tur ke 3 negara (Malaysia, Singapore, Thailand) bilang begini “Orang yang belum pernah ke Singapore itu primitif” hahahhaah langsung dia ngajak saya ke luar negeri. Dan mulailah kami hunting libur long weekend dan pilihan jatuh ke awal Mei 2015 yang bertepatan dengan libur Hari Buruh.


Seperti biasa, urusan tiket dan itinerary menjadi tanggung jawab saya, mengingat ini pertama kalinya dia keluar negeri. Dia pernah sih, tapi umrah sama rombongan dan keluarga, jadi keluyuran sama temen ya baru kali ini. Dan kami memilih pergi sekaligus Singapore serta Malaysia. Ngetrip kali ini namanya ngetrip singkat, jelas, padat supaya tidak primitif hahahhaa.

Kamis, 30 April 2015
Kami berangkat menuju terminal 2 Bandara Soekarno Hatta dari kantor masing-masing, jadi hari itu kami ngantor sambil bawa tas gede, saya aja bawa carierl. Yup, demi ngebolang kali ini saya sengaja beli carierl yang mengingatkan jaman muda dulu, jaman naik gunung. Kebetulan pas lagi jalan-jalan di Blok M, counter Eiger yang besar itu lagi diskon lumayan lah.


packed

Jam 3 sore bus Damri membawa saya dari Kemayoran (ada terminal DAMRI loh di kemayoran, dari sekolah saya cuma naik bajaj) menuju Soekarno Hatta terminal 2, tepat jam 4 saya dan Ari sampai sana. Setelah duduk, sholat dan selfie2an kami pun masuk ke dalam.





Lion memang raja delay, kali ini pun pesawat yang dijadwalkan akan memberangkatkan kami jam 6 delay. Sebagai kompensasi, kami menerima sekotak snack berisi roti keras, dan air mineral. Untungnya delay kali ini berperikemanusiaan, hanya 30 menit. Tepat pukul 6.20 kami sudah masuk pesawat dan 15 menit sesudahnya kami pun mengangkasa meninggalkan Jakarta.


leets Flyyyy .. 



Pesawat mendarat di Changi International Airport pukul 11 malam waktu setempat. Kacaunya saya agak terlena, bukannya cepat menuju imigrasi malah asik selfie2an, ngisi air di water tap dan tindakan-tindakan yang sebenernya masuk kategori norak sih ya. Ga apa-apalah sekali-sekali norak, kan aslinya kita berkelas (entah kelas berapa).

water tap yang bikin kita mendadak dangdut eh mendadak norak

Begitu eskalator yang saya naiki mengantarkan ke loket imigrasi, saya kaget. Antrian luar biasa panjang di tiap loketnya, deg-degan takut ga keburu dapat MRT menuju pusat kota. Saya sudah booked hotel di Geylang Area.
sempet selfie di antrian imigrasi

Selesai urusan imigrasi, kami lari-lari menuju loket MRT. Kebetulan kartu EZ Link saya masih ada, dan memang masih ada isinya. Untuk Ari saya juga sudah pinjam kartu EZ Link punya teman. Tap, saya pun berhasil masuk tapi sayangnya kartu EZ Link yang dipegang Ari ga berhasil lulus sensorik. Saya menyarankan Ari untuk beli single ticket, dan karena dia bingung akhirnya saya tapping keluar lagi.

Antrian single trip card cukup panjang. Pasrah, kami ikut antrian sampai tiba giliran 1 orang di depan kami sepertinya turis dari Tiongkok. Berkali-kali ia memasukan uangnya tapi ditolak mesin kartu. Setelah saya lihat, ternyata uang yang ia masukan nominalnya tidak sesuai, makanya ditolak. Saya berusaha menjelaskan ke anaknya karena sepertinya dia bisa bahasa inggris, namun tetap si ibu gagal paham. Terpaksa saya menggunakan bahasa Tarzan untuk menjelaskan ke si ibu bahwa uangnya terlalu besar sehingga tidak diterima mesin. Untungnya si ibu ini ga rese seperti turis kebanyakan, ia pun mundur dari antrian dan mencari tukaran uang. Saya bergegas membeli 2 tiket single trip. Begitu tiket didapat, kami langsung lari ke loket mengejar kereta menuju stasiun Tanah Merah.

Dari Tanah Merah kami transit, ganti kereta purple line menuju stasiun Aljunied. Saya sering baca review plus minus tentang kawasan Geylang yang dikenal sebagai red district Singapore. Tapi bayang-bayang seram itu pun musnah begitu kami melangkahkan kaki keluar dari stasiun Aljunied.

Saat itu sudah tengah malam, kami berjalan kaki karena kartu EZ Link kami yang mendadak eror itu tak bisa digunakan untuk naik bus. Dari google maps, hotel kami ini bisa ditempuh dengan jalan kaki kurang lebih 10 menit. Suasana cukup ramai, terang benderang dan tidak ada aktivitas yang menjurus “seram” selayaknya kawasan yang dicap red district.

Ternyata oh ternyata, jarak tempuh menuju lorong 20 itu cuma sebentar ga sampe 5 menit malahan. Setelah jalan lurus dan di perempatan, kami belok kanan maka tibalah kami di lorong 20, lorong pertama.  Jalan kaki sedikit menuju hotel 81, kemudian Check in dan kami keluyuran kuliner malam.




pilih-pilih duren

Beberapa toko dan rumah makan masih buka dan terang benderang. Ari, sibuk memilih durian yang sebenarnya harganya cukup mahal, tapi dia suka. Kami pun makan malam nasi briyani dan Prata di Prata Planet. Kami makan agak cepat karena ya walau bagaimanapun agak seram juga sih melihat banyak laki-laki dari etnis tertentu di Negara asing pula. Setelah kenyang kami kembali ke hotel dan istirahat.





You Might Also Like

1 comments

  1. Haai, nyit-nyit, seru yaa traveling, dulu pun pas ke spore pasti ke malaysia, sekalian jalan, hehehehe..lumayan lebih irit

    BalasHapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images