Sing-Malay D Tour Episode 2

16.44


Jumat 1 Mei 2015
Keliling Singapore … Yihaaaa …

Setelah selesai rapi-rapi, tepat jam 8 kami check out dari hotel 81. Belum banyak toko yang buka di sepanjang jalan menuju stasiun Aljunied. Ada 1 toko di persimpangan Aljunied Road yang menjual barang-barang loreng seharga 2 SGD, kira-kira 20 ribuan lah. Saya pun membeli 1 topi.


selfie before we leave


topi loreng murah, abaikan perut saya yang nongol hahhaha


Tujuan pertama kami kali ini adalah maskot Singapore, patung Merlion. Naik MRT purple line turun di Dhoby Gaut dan transit ganti MRT red line turun di Raffles place. Dari Raffles kami jalan kaki menikmati udara pagi sambil menikmati jernihnya aliran sungai.

Seperti biasa, acara foto-foto dimulai. Berbekal tripod saya yang kaki-kakinya mulai tidak seimbang, kami pun berpose bermacam-macam gaya. Setelah melewati Fullerton, kami menyebrang menuju Boat House. Mampir sebentar, ngadem di starbucks. Cuaca mulai panas menyengat. Selain mampir ngopi, tujuan ke starbucks sebenarnya membeli thumbler titipan. Setiap saya jalan-jalan teman-teman yang hobinya koleksi aneka thumbler starbucks pasti nitip.







Karena hari makin siang, kami pun lanjut jalan menuju patung Merlion. Yup ratusan turis sedang asik berfoto di sana. Maklum saja, ga afdol rasanya ke Singapore tanpa foto-foto di Merlion. Selesai foto, kami lanjut jalan lagi, kali ini menuju Anson Road, mau melihat makam wali islam di Singapore.






Kami jalan kembali menuju stasiun raffles place dan naik MRT green line dan turun di Tanjong Pagar. Menurut peta, jalan kaki menuju Haji Muhammad Saleh Mosque agak lumayan. Suasana Singapore yang megapolitan tak nampak di kawasan Anson Road ini, sepi yang kami jumpai di sini. Baru saya sadari bahwa hari buruh adalah libur internasional yang artinya di Singapore pun sedang libur. Menjelang sampai masjid, lagi-lagi kami baru sadar bahwa hari ini adalah hari jumat, dan di masjid akan segera diadakan sholat jumat. Kami tak bisa mendekati kawasan masjid jadi cuma cukup puas main burung-burung di pelatarannya … seperti salah satu scene home alone dimana banyak burung merpati beterbangan.


kaya film Home Alone
Kami tak mungkin menunggu sampai sholat jumat selesai, karena masih banyak tempat yang ingin kami kunjungi di Singapore ini, belum lagi nanti malam kami akan bertolak menuju Malaysia. Akhirnya kami naik bus menuju Orchard Road. Ini pertama kalinya saya naik bus di Singapore, biasanya saya naik MRT terus karena mudah dan cepat. Pemandangan Singapore sebagai megapolitan terpampang nyata dari balik jendela bus yang kami tumpangi.

Setibanya kami di halte Orchard Road, kami langsung foto-foto bersama patung warna-warni di depan Ion Mall. Namun es krim 1 SGD tak lagi terlihat di pelataran Ion Mall, nyesel tadi ga beli di pinggiran sungai dekat Raffles Place.





kalau dulu, saya harus jalan kaki dan cari tempat menyebrang menuju Lucky Plaza, kini sudah ada jalan tembus dari Ion Mall menuju Lucky Plaza. Jalan tembus itu juga dijadikan pusat belanja, salah satunya ada gerai sepatu Ruby. Sayangnya saya bukan penggila belanja, kalau saya jalan ke luar negeri saya lebih suka liat hal yang aneh, gedung yang antik, bangunan tua atau museum, belanja memang tapi seperlunya aja.


penhubung Ion Mall dan Lucky Plaza

Di Lucky Plaza, kami membeli beberapa oleh-oleh semisal gantungan kunci, tas lipat, dompet-dompet kecil khas Singapore. Sementara Ari sibuk milih, saya duduk aja geletakan di lantai. Selesai belanja kami lanjut perjalanan, kali ini menuju Little India

Dari Orchard road kami naik MRT red line sampai stasiun Dhoby Gaut kemudian lanjut purple line menuju Little India. Keluar dari Stasiun, saya kaget dengan perubahan Little India dari terakhir saya datang 2 tahun lalu. Kawasannya lebih ramai dan bersih. Kami jalan kakai menuju Mustafa, pusat belanja paling murah. Setelah menitip tas ransel saya yang gede, kami melenggang masuk ke dalam pusat perbelanjaan yang dikenal murah seantero Singapore.

Tujuan saya ke Mustafa adalah beli tripod karena tripod yang lama kaki-kakinya sudah mulai goyang dan sering jatuh jadi kamera saya baret-baret di beberapa tempat. Sayang tripod seharga 10 SGD sudah ga ada, sebagai gantinya saya beli tripod yang agak bagus sedikit seharga 20 SGD. Karena carierl saya agak padet, terpaksa tripod lama ditinggalkan di Mustafa, sedih sih tapi apa daya. Selesai belanja, kami masuk ke masjid di seberang jalan, sholat sekaligus mengistirahatkan kaki yang udah pegal.

Hampir setengah jam kita istirahat di Masjid, lalu lanjut jalan lagi kali ini tujuannya adalah Sentosa Island. Kami naik MRT purple line menuju Stasiun Harbour Front, stasiun terakhir. Kami berencana jalan kaki menuju Sentosa Island lewat jalur yang menggunakan travelator karena jalur ini paling irit dibandingkan naik kereta monorail. Lagipula dengan jalan kaki kami bisa lihat pemandangan dan beberapa stall jualan yang lucu-lucu.

Kami mengikuti petunjuk keluar area mall menuju travelator ke arah Sentosa Island, memang rezeki anak Sholehah, saat itu jalur jalan kaki sedang gratis, biasanya bayar 1 SGD. Kami pun kadang jalan lambat untuk foto-foto, mengisi air minum dan kadang lihat-lihat “pemandangan” bule-bule kece yang sedihnya rata-rata bawa gandengan hahahhaa.


rezeki anak sholehah

gerbang sentosa island




Sampailah kami di icon paling jawara di Sentosa Island yaitu bola Universal Studios. Ibarat kata ke Singapore itu ga afdol kalau ga foto di bola dunia itu. Kami sampai di icon bola itu pukul setengah 7, hari juga makin senja, sebentar lagi gelap. Demi menghemat tenaga, di sini Ari juga sudah terlihat lelah karena bawa 2 tas, tas gemblok plus tas tenteng tempat dia beli oleh-oleh di Lucky Plaza tadi sehingga kami memutuskan ga berlama-lama di lokasi Universal Studios. Selesai sesi foto-foto kami segera balik lagi untuk tujuan terakhir yaitu Chinatown.







Dari Stasiun Harbor Front sekali lagi kami naik MRT purple line menuju Chinatown. Keluar dari stasiun, kami langsung melihat aneka oleh-oleh khas Singapore. Kali ini lebih beragam dibanding di Lucky Plaza, untungnya harganya sama sehingga ga terlalu nyesek. Berjalan di Chinatown seperti berada di setting film Kungfu ala Jacky Chan atau Jet Lee. Sepanjang jalan berhiaskan kaligrafi huruf emas menyala dengan kertas atau kain merah sebagai alas, lampion-lampion merah pun bersinar cantik sepanjang jalan.



Tujuan kami ke Chinatown adalah makan malam dan sholat di salah satu masjid yang berlokasi tidak jauh dari area penjual oleh-oleh dan kuil. Betul saja, masjid tak sulit kami temukan. Kami mandi-mandi coboy ganti baju, sholat dan istirahat sebentar. Karena naga di perut sudah berontak, mengingat demi hemat seharian kami ga makan apapun kecuali biskuit-biskuit yang kami bawa dari Indonesia. Berjalanlah kami menuju Chinatown Food Market yang letaknya hanya terpisah dua gang dari masjid.



Setelah pilih kursi, lalu kami mulai pilih-pilih makanan. Ari memilih makan sate sebagai first dinner in Singapore sementara saya milih mi kuah seafood. Rasa makanannya biasa aja, inilah lidah orang Indonesia yang makanannya kaya akan bumbu, jadi masakan Negara lain cenderung ga ada rasa jadinya. Pengalaman backpacking saya selama berkunjung ke 3 negara sebelumnya cuma Thailand yang rasa masakannya lumayan mirip dengan bumbu khas Indonesia.




Selesai makan, kami harus segera jalan lagi menuju stasiun MRT Tampines untuk naik bus malam ke Malaysia. sebelum masuk ke Stasiun MRT Chinatown, kami masih sempat beli pernak pernik lucu yang akhirnya membuat kami terbirit-birit menuju stasiun karena takut ketinggalan kereta.

Waktu menunjukan 10 menit lagi bus malam menuju Malaysia berangkat, masalahnya semua transportasi di sini sangat tepat waktu, jadi kalau telat boleh jadi kami akan ditinggal dan gagal semua rencana yang sudah disusun.

Tepat disamping stasiun MRT Tampines adalah stasiun bus, tapi bus dalam kota saja. Waktu makin cepat, panik, saya tanya banyak orang banyak yang tidak tau dimana bus KKKL berada, bahkan sampai loket bus dalam kota pun tidak tahu. Akhirnya saya putuskan balik ke rute semula untuk mencari EXIT B. ada seorang pemuda India yang saya tanya exit B, Alhamdulillah ternyata dia tau dan dia memang akan naik bus yang sama.

Di selasar, duduklah sekumpulan anak-anak muda, lalu saya tanya mereka
“excuse me, are you guys waiting for a night bus to Malaysia”
salah satu dari mereka menjawab “yes  … yess” sambil manggut-manggut.
tiba-tiba saya lihat salah satu dari anak muda itu pake topi merah dengan logo ala topi SD yang disertakan tulisan-tulisan lucu, saya yakin seyakin-yakinnya kalau anak-anak muda ini juga backpacker dari Indonesia.
“Are you coming from Indonesia, guys?”
“yup, we are from Indonesia” lagi-lagi si kacamata yang menjawab, yang lain cuma manggut-manggut

Saya senyum lalu bilang “yaa sama doong, tau gitu dari tadi pake bahasa Indonesia aja” dan kami pun ikut duduk lesehan bareng mereka.

Ngobrol sambil sharing snacks dan terungkaplah kenyataan lucu bahwa gerombolan cowo-cowo ini ternyata rumahnya di Jakarta Timur, lebih tepatnya di Jengki yang cuma sepelemparan batu dari rumah saya, kami pun ngakak bersama. Lah masa iya lagi di Singapore ketemunya orang Cililitan juga.

Tak lama kemudian bus KKKL merah menyala pun tiba di depan kami yang akan membawa kami menuju Malaysia, kami pun segera naik dan duduk di kursi masing-masing.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images