Sing - Malay D Tour Episode 3

21.06


Malaysia Here We Come

Bus KKKL membelah malam dengan kecepatan yang super duper, mungkin karena capek seharian kami tetap bisa tertidur pulas meski terguncang-guncang. Perjalanan makin berlanjut sampai akhirnya kami semua dibangunkan karena telah tiba di perbatasan. Dengan mata ngantuk, kami semua turun dari bus untuk lapor ke bagian imigrasi.


Supir bus malam membangunkan kami dengan nada suara tinggi layaknya panitia ospek lalu dia merepet bilang 

“paspor … paspor” maksudnya agar kami membawa paspor untuk dicap keluar dari negara Singapora.

Dengan setengah ngantuk saya tanya sang supir
 “How about our bags?” 
eh dia bales bentak saya 
“ I said paspor only” 
lah saya dibentak-bentak mana mau, lalu dengan sengit saya jawab 
“I’m just asking” 
tadinya mau dipanjangin tapi males lah. Akhirnya antrilah kami untuk cap-cap paspor dan keluar dari loket menuju bus kami. Untungnya bus KKKL yang merah menyala cuma satu jadi kami tak tertukar.

Perjalanan lanjut lagi sampai kurang lebih 15 menit kemudian kami dibangunkan lagi untuk masuk gedung imigrasi Malaysia. Kami pun antri di loket, dan mulailah saya melihat satu persatu orang-orang digiring menuju kantor, ada apa ini pikir saya. Anehnya yang digiring itu rata-rata orang Asia, sementara bule-bule bisa lenggang kangkung keluar dari loket imigrasi. Kebetulan Ari lebih dulu masuk loket dan saya lihat ia juga dibawa petugas menuju kantor, saya makin bingung ada apa. Kemudian tiba giliran saya, saya pun digiring menuju kantor. Saya mencoba menghapus bayang-bayang seram yang sering saya tonton di Natgeo acara Locked up abroad. Ga lucu aja gitu kalau tertahan di sini.

Di depan kantor kepala imigressen, sudah berbaris panjang turis-turis Asia. Di depan saya sekumpulan orang-orang philipina nampak santai sambil meremas paspor mereka. Sekali lagi Ari masuk duluan ke kantor, saya agak cemas mengingat Ari kan berhijab, kadang orang Malaysia itu suka mengira orang Indonesia ke negaranya itu mau cari kerja. Untungnya ketika turun, Ari bawa tas ranselnya, saya memang sudah menyiapkan copy dokumen yang sama untuk Ari dan saya lipat di folder khusus untuk dia dan saya jadi masing-masing pegang satu. Ibu kepala imigressen pun melihat dokumen Ari, seperti  tiket pulang, paspor dan sebagainya. Kemudian ia pun dimatriks, discan sidik jari serta retina mata, bener-bener kaya di film James Bond. Giliran saya pun simple ga ditanya langsung matriks. Mendebarkan memang, karena ada beberapa orang yang tidak boleh masuk Malaysia termasuk pemuda India yang saya tanya waktu di Stasiun MRT Tampines. Untungnya saya dan gerombolan cowo-cowo Cililitan lulus sensor semua hingga akhirnya kami bisa tidur lagi di bus dan melanjutkan perjalanan menuju Puduraya Kuala Lumpur.

Hari masih gelap, jam stengah 5 bus kami sudah merapat di jalan Puduraya. Kami pun diturunkan, kali ini saya ga cuma berdua Ari tapi bertambah 5 cowok Cililitan. Waktu saya turun, mereka pun sibuk nanya 
“mba disini ya mba?” 
saya nyengir-nyengir aja dalam hati saya jadi mikir anak angon saya nambah lagi nih.

Akhirnya kami bertujuh berjalan dalam gelap, ini gerombolan cowo-cowo adalah cowo nekad yang slebor, mereka main jalan aja tanpa tujuan mau kemana. Sementara saya dan Ari kan jelas mau ke KL Sentral, mandi dan menyimpan tas di locker kemudian jalan-jalan keliling Kuala Lumpur. Setelah akhirnya mereka malas nanya dan jadi ngandelin saya, kita pun berhasil mendarat di Petaling, dan duduk manis di warung makan. Ini anak-anak muda makannya pada banyak bener sementara saya cuma beli makanan ringan aja, ada makanan enak yang rasanya kaya cilok tapi bentuknya kotak.
makanannya Cililitan Boys, saya cuma numpang poto


makanan ga tau namanya, rasa cilok bentuk kotak

Awalnya anak-anak muda ini mau ke hotelnya di Bukit Bintang terus mau ke Genting, tapi karena pastinya belum bisa check in mereka akhirnya ikut saya ke KL Sentral. Selesai makan, kami pun jalan menuju stasiun MRT Pasar Seni. Matahari mulai terbit dan menyapa langkah-langkah kaki kami menuju stasiun MRT. Setelah membeli tiket, tak sampai 10 menit kami sudah tiba di KL Sentral. Langsung saya menuju area mandi dan menitipkan tas di loker yang letaknya di ujung.

Enaknya bertemu dengan rombongan ini kami jadi bisa titip barang-barang selama kami mandi. Dan setelah selesai bersih-bersih, semua barang masuk loker kecuali barang-barang penting macam dompet, paspor kami pun lanjut jalan-jalan. Saya dan Ari akan ke Batu caves sementara rombongan Cililitan Boys akan pergi ke Genting, jadi kami berpisah.
dipadatkan biar masuk semua ke dalam loker

criiing, koin dimasukkan dan terkuncilah

Kami naik MRT menuju Batu Caves, sama seperti Singapore, MRT Malaysia ini juga nyaman dan murah. Batu caves adalah salah satu icon wisata Kuala Lumpur, terdapat sebuah patung Dewi Durga yang tinggi sekali dan terbuat dari emas.




Saat kami keluar dari stasiun MRT cuacanya ekstra cerah alias panas. Seperti biasa, saya adalah turis yang hobi jajan buah, dan sepertinya penjual mangga tau kelemahan saya, tanpa ba bi bu langsung saya beli sebungkus mangga dingin di depan pintu masuk Batu Caves.

Sesi pemotretan pun dimulai, Ari dan saya memang sudah menyiapkan kaos yang samaan untuk ngetrip kali ini. Kami masuk ke dalam gua yang dipenuhi relief Ramayana, kemudian ke kuil yang didominasi warna toska kemudian lanjut berfoto di depan patung dewi Durga. Disana ada gua yang memiliki 1000 anak tangga, saya malas naik ke sana apalagi badan sudah cape semua.







Selesai foto-foto, kami neduh sebentar untuk minum es kelapa muda, duh segarnya di tengah terik matahari … ehhh ternyata kami malah ketemu lagi dengan rombongan Cililitan Boys yang katanya mau ke Genting. Kata mereka bus ke Genting berangkat nanti siang, jadi sambil nunggu bus mereka main dulu ke Btu caves. Setelah selesai makan es kelapa mereka pamitan lagi sementara saya dan Ari terus terusan ngadem dan liat-liat sekeliling baru kembali ke KL Sentral.

Salah satu tempat makan favorit saya di KL Sentral adalah Food court nya. Di sana terdapat penjual nasi Briyani yang rasanya lumayan. Saya pun mengajak Ari makan di sana. Sedang asik memilih nasi, kami dikejutkan dengan rombongan Cililitan Boys yang baru saja selesai makan di sana. Ya elaah dia lagi dia lagi kata saya.

Selesai makan kami jalan cari penginapan sekitar KL sentral, karena memang saat itu belum booked hotel. Beruntung kami dapat MY Hotel yang gedung baru, dengan harga lumayan murah. Istirahat, ngecharge hp plus sholat di kamar baru kami jalan lagi. Perjalan kali ini tujuannya ke Pasar Seni dan Petaling.



Di Pasar seni kami beli oleh-oleh snack khas Malaysia macam oat Naraya yang tersedia macam-macam rasa dan dijadikan dalam satu kemasan, beli kerupuk ikan, coklat dan sebagainya. Selesai dari pasar Seni kami berjalan menuju Petaling. Sebelum sampai Petaling ada gedung dengan Billboard yang menarik perhatian, Billboard AVON. Dulu saya dan Ari pernah jualan AVON dan suka sekali pake kosmetik juga bodycare AVON sebelum akhirnya brand itu ga jualan lagi di Indonesia. Ternyata di Malaysia AVON masih Berjaya, kami pun masuk dan melihat-lihat. Kami juga beli eau de toilette sweet honesty yang dulu sangat kami senang. Eh saya masih inget loh seri AVON yang wangina enak-enak kaya Imari, Lahana, Topaza, Butterfly, Sunrise duuh dulu jaman SMP dari jualan AVON saya bisa beli kaset juga majalah remaja macam Aneka, Gadis, Kawanku gitu-gitulah … aahhh jadi nostalgia.

Di Petaling banyak kami jumpai penjual kaos, dan snapback sayangnya harga yang mereka tawarkan agak tinggi ditambah lagi kualitas bahannya juga ga begitu bagus membuat kami mikir seribu kali untuk beli. Akhirnya di Petaling kami ga beli apa-apa selain minuman air mata kucing yang entah kenapa dinamakan demikian, untung bukan air mata buaya. Kamipun kembali lagi ke KL Sentral untuk mengambil barang di Loker kemudian kembali ke MY Hotel untuk mandi dan istirahat karena rencananya habis maghrib kami akan ke Petronas.





Waktu Maghrib di Malaysia itu mendekati pukul 7 malam, setelah selesai sholat kami pun jalan lagi ke KL Sentral. Kali ini kami mau naik bus “percuma” keliling-keliling KL. Setelah hampir 10 menit menunggu bus ungu gratisan alias “percuma” pun tiba. Niat semula mau turun di masjid Jamek eh malah ditutup jalurnya karena sedang renovasi. Supir yang ramah dan baik hati malah mengajak kami berkeliling sampai terminal terakhir yang letaknya agak lumayan dari Petronas, jadi aja kami misuh-misuh kudu nyari transportasi lain menuju Petronas. Dapatlah kami Monorail yang jalannya agak jauh.






Di Petronas, Ari bertemu dengan saudaranya terus kami foto-foto sebentar di sana, maklum rasanya ga afdol ke Kuala Lumpur kalau ga foto dengan Petronas sama halnya dengan Merlion di Singapore. Dari Petronas kami naik taksi ke Bukit Bintang, kata Raka (saudaranya Ari) ada factory outlet yang murah di Fahrenheit, kami penasaran karena dulu pertama kali saya ke Malaysia, Bodyshop yang di Fahrenheit pun murah dan diskonnya sampai 80% pada saat itu.

Sayangnya Factory oulet yang mau kami kunjungi akan segera tutup, akhirnya kami masuk gerai VINCI dan astaga … semua koleksi baik sepatu ataupun aksesoris sedang diskon 50% semua perempuan jadi nampak gahar berebut sepatu. Saya jadi lemas melihat antriannya walau ada sepatu yang saya taksir, udah ah ga jadi mendingan duduk minum jus deh, ga tahan lihat antrian di kasir.

Hari makin malam. Kami segera kembali ke KL Sentral. Di tengah perjalanan menuju hotel, saya mampir dulu untuk beli air mineral dan tiba-tiba saja saya dengar Ari nangis keras. Ternyata baru saja  ditelpon keluarganya bahwa neneknya meninggal. Kami berjalan terseok-seok sambil Ari menangis tersedu-sedu menuju hotel. Saya biarkan dia nangis sendiri karena saya juga bingung mau bagaimana, sementara jadwal tiket pulang kami besok siang jam 12.

Akhirnya malam itu saya browsing penerbangan paling pagi supaya Ari bisa sampai Jakarta sekitar waktu dzuhur agar bisa ikut pemakaman Umi, neneknya. Untungnya dapat Lion yang jam 7 pagi, kami pun numpang ngeprint di front office My hotel yang baik dan penolong. Awalnya Ari berani berangkat sendiri mengingat saya akan pulang dengan pesawat jam 12 sesuai tiket awal, ga ada budget untuk beli tiket baru yang pagi. Karena ga tega akhirnya saya putuskan untuk ke Bandara pagi hari bareng dengan dia.

Jam 5 pagi, kami sudah check out dari My hotel demi mengejar kereta ungu KLIA Ekspress jadwal paling pagi, kebetulan kemarin kami memang sudah membeli tiketnya. Stasiun KL Sentral masih gelap dan tutup, terpaksa kami memilih jalur basement yang memutar dan dipenuhi bus ke Bandara KLIA 1 ataupun 2. Tak lama menunggu kereta ungu pun tiba, kami memilih kursi paling nyaman dan tertidur hingga kereta sampai membawa kami menuju KLIA 2.

Ini pertama kalinya saya masuk Bandara KLIA 2, kebetulan bandara ini juga belum lama diresmikan karena perjalanan ke Malaysia sebelumnya saya mendarat dan pulang dari LCCT. Bandaranya bagus, bersih dipenuhi banyak gerai makanan ataupun oleh-oleh. Kami langsung bergerak ke counter check in yang memang tersedia untuk Air Asia dan Lion Air saja sisanya maskapai lokal Malaysia. Akhirnya di perlepasan antar bangsa saya berpisah dengan Ari.

Saya pun segera mencari lokasi duduk yang tenang dan dengan fasilitas wifi yang lumayan kencang. Tapi per 1 jam harus pindah wifi. Sudah bosan duduk saya keliling grocery store beli gembok untuk carierl  yang rencananya mau saya masukan bagasi. Di depan grocery store saya melihat gerai Vinci, saya masuk dan ternyata diskon 50% seperti di Bukit Bintang pun berlaku di gerai tersebut. Kalap lah saya, hari masih pagi saya pun pengunjung pertama di gerai tersebut. Akhirnya saya beli 1 sepatu dan 2 sendal buat saya, 1 sepatu buat mama. Alhamdulillah rezeki anak sholeh.


paket nasi lemak yang lemak nian

30 menit menjelang dibukanya counter check in, saya makan di KFC. Salah satu menu KFC Malaysia yang unik adalah nasi lemak, ini ga ada di Indonesia, sama kaya egg Tart di KFC Thailand. 1 paket nasi lemak yang berisi nasi lemak (nasi uduk) ayam goreng, telur ceplok dan sambal teri harganya tak sampai 10 RM berarti ga sampai 30 ribu (saat
 itu kurs nya 1 RM = 3600 rupiah) sebagai pelengkap saya memesan teh tarik. KFC Malaysia juga punya 3 jenis saus, 1 lagi saya lupa namanya apa, kalau di Indonesia kan hanya saus sambal dan saus tomat. Saya makan dengan lahap dan masih sedikit ngantuk.

Selesai makan, saya langsung ke counter check in dan melenggang kangkung hanya dengan tas selempang. Jarak dari pintu perlepasan antar bangsa ke terminal keberangkatan saya cukup jauh, ada untungnya tas disimpan di Bagasi. Sekali lagi saya terpana dengan kemegahan, kebersihan tiap gate di KLIA 2. Fasilitas toilet juga bersih bahkan disediakan water tap untuk refill botol. Kali ini saya tak melihat rombongan Cililitan Boys, padahal saya pikir kita akan pulang bareng.

Akhirnya panggilan menuju pesawat pun diumumkan, cek dan ricek saya pun masuk pesawat. Ternyata tiket yang saya pegang ini adalah tiket Malindo Air (sekelas dengan batik air) di bagian depan pesawat adalah kursi bisnis class dengan sofa kulit yang nyaman. Saya tetep di ekonomi, tapi ada tv dan kursi yang lebih nyaman sedikit dibandingkan pesawat Lion biasa. Ahh nyesel ga bawa earphone jadi sepanjang penerbangan saya main game dan nonton tv bisu akibat ga bawa earphone.

Pesawat mendarat sempurna di Bandara Soekarno Hatta tepat waktu, urusan bagasi serta imigrasi juga beres, saya langsung jalan menuju terminal bus Agra dengan tujuan PGC, waktu itu tiketnya hanya 30 ribu. Bus berangkat menuju PGC dan saya pun terlelap sampai tujuan. Pengalaman luar biasa melintasi 2 negara dalam waktu singkat.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images