Trio Kode Jogyess 1

20.38


Seringnya kami bertiga punya rencana ingin bepergian kesana kemari namun jarang terwujud akibat kesibukan masing-masing. Sampai akhirnya diputuskan liburan Idul Adha 2015, kami akan pergi ke Yogya. Kami berencana berlibur selama 3 hari 2 malam di kota Gudeg.


Juk Gijak Gijuk …

Tanggal 24 September 2015, kami berkumpul di ruang tunggu Stasiun Pasar Senen sebelum akhirnya harus berbaris memasuki peron stasiun. Jam 10 malam kereta bertolak dari Stasiun Pasar Senen menuju Yogyakarta. 

suasana ruang tunggu yang penuh
siap berangkat
tiketnya kakak
di dalam kereta
Sepanjang perjalanan saya tidur walau terbangun berkali-kali. Kami tiba di stasiun Lempuyangan Yogyakarta tepat saat matahari terbit. Sinar keemasan menyapu mata kami yang masih rapat alias susah dibuka.

masih ngantuk

Stasiun Lempuyangan

Setelah selesai urusan toilet dan foto-foto di Lempuyangan, kami keluar area stasiun untuk mencari tempat mandi. Dari beberapa situs internet dan blog saya membaca ada beberapa tempat pemandian yang nyaman disewakan di seberang stasiun Lempuyangan. Benar saja, ketika kami keluar dan menyebrang dari Stasiun lempuyangan, ada banyak sekali tempat pemandian. Tentu saja kami cari yang bersih dan murah meriah. Dengan modal lima ribu rupiah kami yang pada mulanya berpenampilan lusuh, kucel dan ngantuk karena perjalanan 8 jam di kereta kemudian menjelma jadi gadis-gadis cantik nan harum.

Tepat saat kami selesai bersih-bersih, jemputan kami datang. Liburan kali ini bisa dibilang gaya princess namun pengeluaran rakyat jelata. Heni yang memang aktif di klub Red Car Community menghubungi anggota sesama klub di Jogja dan berbuntut kami dipinjami mobil plus supir dengan gratis tis tis, siapa yang ga seneng hehhehe.

Yaris merah milik mba Lia, ketua Red Car Community Jogja membawa kami membelah jalan kota Yogya ke arah Gunung Kidul. Tema hari ini memang kami mau jadi anak pantai. Sang supir nampak menguasai medan dan lihai sekali selasap selusup. Enaknya traveling disupiri orang Jogja yang bukan driver wisata adalah kami diajak mengunjungi tempat wisata dan tempat makan yang bukan destinasi populer namun tidak kalah maknyusnya.

Perjalanan menuju area pantai-pantai Gunung Kidul menghabiskan waktu hampir 1 jam. Kami pun sempat mampir di sebuah rumah untuk sarapan. Saya menyebutnya rumah karena beneran rumah, karena sepintas lalu enggak akan ada yang menyangka kalau rumah ini menjual menu ayam goreng bacem yang luar biasa enak. Tempat makan di rumah ini menghadap sebuah jendela yang pemandangannya pesawahan ditambah beberapa kandang burung yang digantungkan di dekatnya menambah suasana makin berasa.

Menu makanannya jangan ditanya deh, sederhana namun uenaaak tenan. Ketika kami duduk, Simbah pemilik rumah yang sudah berumur namun tetap cekatan mulai menghidangkan aneka makanan yang homy banget. Baceman ayam, goreng tempe tahu, nasi yang ditanak bukan pakai rice cooker plus sambal rawit bawang putih khas Gunung Kidul. Kesemuanya itu ditutup dengan es teh manis gula batu. Ya ampun, saya yang pada saat itu masih awal-awal diet dan baru turun 7 Kg an langsung makan dengan lahap. Memang program diet saya berhenti kalau travelling. Rugi dong jalan-jalan kalau diet ehhehehe.

baceman ayam yang maknyus

saking enaknya sampe merem merem

Tour The Beaches
Yaris merah membawa kami ke kawasan pantai-pantai. Ada sebuah gerbang masuk besar, kami membayar tiket masuk yang entah bagaimana ceritanya sang supir bisa membuat petugas memberi diskon. Kami hanya membayar tiket masuk 1 orang dan bea masuk mobil. Hehehhee lumayan irit.

Pantai Indrayanti & Pantai Kukup
Pantai yang kami sambangi pertama kali adalah pantai Indrayanti atau pantai Pulang Sawal. Cuaca panas menyapa kami. Sebagai pertahanan (ceilahh) kami langsung pakai sunblock bawaan Nana dan masing-masing mengeluarkan kacamata hitam. Saat itu kondisi pantai sedang agak surut, banyak rumput laut menggenang seolah seperti tumpukan sampah.

Kami berjalan menyusuri pantai ke arah tebing batu karang. Meski pantai ini tak begitu bersih, pantai ini tergolong fotogenic, kami jadi cakep difoto di sana.





Setelah selesai berfoto kami ke atas untuk cuci kaki dan melanjutkan perjalanan. Tak sampai 10 menit, supir pun memasuki area parkir sebuah pantai. Kali ini kami berhenti di pantai Kukup. Cuaca tengah hari makin panas, pantai ini cukup sepi, tak seramai panta Indrayanti. Kami pun duduk-duduk di Gazebo sempat beberapa kali berfoto, sebelum akhirnya lanjut perjalanan lagi.

Pantai Baron
Menurut beberapa informasi yang saya baca, Pantai Baron yang dikenal dengan menara Mercu Suar putih ini juga punya potensi kuliner yang Maknyus. Cuaca berubah menjadi teduh saat kami memasuki kawasan Pantai Baron. Kami pun berlarian menuju pantai. Karena cuaca teduh, kami pun senang foto-foto di sana. Di pasir pantai Baron, saya melihat beberapa tenda kemping didirikan. Rupanya turis asing berkemping. Ih pasti menyenangkan tidur berteman debur ombak.





Setelah senang main di pantai, saatnya kami mencoba makanan khas Pantai Baron. Kami memilih sendiri ikan, udang dan cumi-cumi yang nanti akan dimasak sesuai permintaan kami (tentu saja harus sesuai menu ya ga bisa asa nyuruh misalnya minta dibikin jadi sate ikan atau masakan aneh lainnya).

Sambil menunggu makanan datang dan cukup lama dan membuat Nana jadi protes karena rombongan yang datang setelah kami sudah menikmati makanannya. Untuk meredakan hati yang panas dan perut yang mulai lapar, kami membeli es kelapa utuh dengan batoknya. Ketika makanan datang, kami langsung menyerbu. Rasanya lumayan dan harganya murah, kami pun kembali tergolek kekenyangan persis seperti beberapa jam lalu di sebuah rumah di Gunung Kidul.




Dengan langkah gontai kekenyangan, kami kembali ke area parkir menuju pantai terakhir dan menikmati sunset di sana. Dan memang pilihan kami tidak salah.

Pantai Ngobaran
Sebagai tujuan terakhir, Pantai Ngobaran ini memang luar biasa. Kawasan Pantai Ngobaran ini dibuka dengan pemandangan tebing yang fantastis menurut saya. Beberapa patung dan stupa menghiasi area masuk pantai. Untuk menikmati debur ombak, kami harus menuruni puluhan anak tangga yang di kanan kirinya terdapat tebing ataupun bebatuan karang. Luar biasa, Subhanallah bagus sekali.
duo yang entar eling ntar enggak


tresno ... cinta
Ombak sore sedang kencang-kencangnya, kami beruntung bisa menikmati dan mengabadikannya. Jernih air dan bebatuan karang menjadi tempat bersembunyi hewan-hewan laut yang kecil. Mendekati waktu sunset kami segera naik ke atas karena air akan segera pasang. Pemandangan sunset dari tebing luar biasa bagus. sinar kemerahan matahari menelusup dari sela-sela patung dan stupa yang ada. Duh pokoknya beneran bagus. Kami kembali ke Jogja tepat ketika malam turun.





beautiful sunset
Night at Jayakarta
Hampir 1 jam dari Gunung Kidul, kami pun memasuki pelataran Hotel Jayakarta. Setelah urusan check in beres kami segera naik ke kamar kami di lantai 2. Kamarnya luas dengan King Bed yang muat menampung kami bertiga. Bongkar-bongkar koper dan kami bergantian ke kamar mandi.

Gempa
Ketika saya sedang di kamar mandi, tiba-tiba saja Nana mendobrak pintu kamar mandi dan berteriak pada saya.

“ayo cepat keluar, bawa yang penting-penting aja.”

Saya yang bingung tidak paham dengan apa yang sedang terjadi. Ketika kami berhamburan keluar, dan saya yang tak lupa sempat-sempatnya mengunci kamar, barulah penghuni kamar lain berlarian keluar. Ternyata baru saja terjadi gempa dengan kekuatan kecil, saya tidak merasa karena sedang di kamar mandi. Nana dan Heni yang melihat kasur di kamar bergerak diguncang kekuatan gempa.

Berdasarkan informasi yang saya baca di detik.com ternyata gempa terjadi dengan kekuatan 4,6 skala richter dengan pusat gempa ada di Wonosari, Gunung Kidul, di tempat yang baru saja kami datangi. Pikiran langsung ga enak, tapi mati-matian saya menenangkan diri dan menenangkan perut yang tiba-tiba mules luar biasa.

Setelah kondisi kembali tenang dan petugas hotel yang menenangkan beberapa ibu-ibu yang terlihat panik, kami kembali masuk kamar. Setelah mandi dan beres-beres, kami keluar hotel. Enaknya menginap di Jayakarta, seberangnya terdapat Carefour. Dengan bantuan petugas hotel kami diseberangkan menuju Carefour. Sebelum belanja kebutuhan kami selama di Jogja, kami sempatkan dulu untuk makan Gudeg Yu Djum yang berada di area parkir Carefour.

Selesai belanja kami kembali ke hotel, istirahat dan bersiap untuk petualangan esok.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images