Inilah Kisahku Seminggu di Malaysia, 1

23.01


Kisah 1

25 Desember 2015


Akhirnya tiba saatnya kami bertiga berangkat setelah 6 bulan lalu membeli tiket promo Jakarta-Kuala Lumpur PP. Setelah beberapa kali diskusi dan ketemuan, Saya, Miss Maryati dan Dinda pun siap traveling seminggu di Malaysia dengan 3 kota utama yaitu Kuala Lumpur, Malaka dan Penang.

siap-siap
Jadwal penerbangan kami malam jam 9 nanti dan diperkirakan akan sampai di KLIA 2 pukul 23.55.  Jam 4 sore kami bertiga sudah berkumpul di PGC untuk naik bus Agra menuju Bandara Soekarno Hatta. Di PGC, kami membeli makanan untuk makan malam serta minuman dan kudapan, maklum jika di Bandara harga untuk jenis makanan yang sama harganya bisa 3 sampai 5 kali lipat.

ransel saya dan Dinda

Sampai di terminal 2F masih pukul 5 lebih. Kami berfoto-foto dulu sebelum masuk ke check in counter. Setelah urusan toilet beres, kami siap masuk. Kami menjadi orang pertama yang mengantri di counter Lion Air menuju Kuala Lumpur. Tak berapa lama, antrian cukup panjang sudah mengular di belakang kami.

wefie sebelum check in

Karena ingin santai, semua tas kami masukkan bagasi sebab kami punya jatah 20 KG. boarding pass sudah di tangan, kemudian kami siap berjalan menuju loket imigrasi. Saya menyiapkan uang 150 ribu rupiah di tangan. Biaya bandara bagi yang bepergian ke luar negeri, meski fasilitas Bandara pun tak pernah lebih baik dengan pemasukan sebesar itu.

Kagetnya saya, ternyata di loket imigrasi kami hanya menyerahkan paspor untuk dicap saja. Pungutan sebesar 150 ribu rupiah itu sudah tidak ada, padahal bulan April lalu saya masih membayar pajak bandara nan mahal tersebut. Ah rezeki anak shaleha pikir saya.

Kami bertiga duduk dan makan di gate E sambil menunggu boarding. Tunggu punya tunggu, 45 menit menjelang jadwal terbang masih belum nampak kesibukan kru di gate seperti yang tertera pada lembar boarding pass saya. Tak sabar saya pun bertanya pada petugas, nihil, tak ada jawaban memuaskan. Bahkan cleaning service  malah memberikan statement yang bikin mencelos “biasa mbak, Lion Air mah suka begitu. Sering ga jelas berangkat dari mana.”

Wakwaaw kami bertiga blingsatan dibuatnya. Selain kami bertiga ada 2 orang lagi yang bernasib seperti kami, menunggu tanpa kepastian. Tepat 30 menit menjelang jadwal penerbangan, dari pengeras suara terdengar pengumuman bahwa Lion Air check in  di gate B. suara pengumuman tersebut sayup-sayup perlahan dan tidak diulangi, bayangkan bila kami tidak mendengarkan, bisa tertinggal.

Selanjutnya bisa ditebak, kami bertiga berlarian panik menuju gate B yang cukup jauh. Di gate B saya melihat beberapa orang yang tadi mengantri di belakang kami sewaktu di counter check in sedang santai memasuki metal detector. Laahh berarti boarding pass mereka tercetak di gate yang benar.

Antrian di gate B cukup panjang. Kami mengantri dengan sabar, terselip dintara rombongan yang akan pergi umrah. Saat akan masuk, kami ditahan oleh petugas Angkasapura yang rupawan, duile cakep banget. Bahkan dengan karismanya yang bikin saya meleleh, dia pun bertanya “mau ngopi dulu?” sambil menunjuk ke arah kafe JJ Royal yang memang terletak di samping tempat kami berdiri.


Seperti biasa, katro saya suka kumat kalau ketemu orang ganteng yang bikin meleleh. Saya jadi salah tingkah dan malah ngajak dia foto, untung orangnya mau. Akhirnya singkat kata, singkat cerita kami sudah memasuki pesawat yang akan membawa kami menuju Kuala Lumpur. Pahitnya pula, tidak ada permintaan maaf dari kru Lion Air tentang kesalahan informasi gate pemberangkatan. Padahal saya sudah menunjukkan boarding pass saya yang beda informasi gate nya. Yah inilah yang namanya dipoyok dilebok, udah tahu Lion Air kaga beres masih aja dibeli tiketnya karena harganya memang paling murah. Mau bagaimana lagi? Namanya aja budget traveler alias backpacker.
 
Perjalanan di udara terhitung cukup lancar hingga kami mendarat mulus di bandara KLIA 2 tepat tengah malam. Selesai urusan imigrasi, kami yang memang berniat bermalam di bandara hingga pagi nanti mencari spot idaman, yaitu tempat yang dekat dengan kamar mandi yang terletak diantara minimarket

Sayangnya mushola di dalam area kamar mandi tersebut sudah penuh, sehingga kami terpaksa harus cuek geletakan di pinggiran tembok di dekat colokan listrik. Dengan pedenya kami menggelar kain bali serta tidur-tiduran beralaskan ubin hingga pukul pagi mulai menjelang.





You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images