Jubilians goes to Malang-Jogja, 3

22.52


Saat azan subuh berkumandang, bus yang kami tumpangi telah memasuki desa wanawisata Goa Pindul. Udara pagi dingin menyapa kami yang kelelahan. Memasuki salah satu penyedia jasa river tubing yang telah menyediakan santap pagi bagi rombongan kami.



Menu sarapannya luar biasa enak. Nasi merah dengan gudeg pedas dan semacam karedok tak ketinggalan pula ikan asin serta kerupuk. Seusai makan, kami pun berganti baju serta mengenakan vest. Sebelum perjalanan menuju sungai kami pun berpose dulu.






Di tengah-tengah perjalanan menuju sungai, kami harus memilih ban yang akan kami naiki untuk melakukan river tubing alias duduk-duduk santai di ban sambil menelusuri sungai dan gua.


Tertatih-tatih kami berjalan menuruni jalan setapak menuju mulut sungai. Tibalah saat kami harus nyemplung ke dalam sungai yang airnya keruh sambil duduk-duduk manis di atas ban. Kami semua harus saling bergandengan tangan agar laju ban yang kami tumpangi tetap searah.

Sinar matahari terbit menyapa menerobos ke dalam gua yang sedang kami susuri. Perjalanan susur gua kali ini memang berbeda dari pengalaman caving jaman saya SMA. Kami juga beberapa kali membentuk formasi supaya tampak keren difoto. Lalu foto-foto di ceruk gua juga kami lakukan.

Saat penelusuran gua berakhir, di pintu keluar saya melihat rombongan lain yang bersiap turu, jumlahnya puluhan. Wiih bisa kaya cendol di dalam gua. Untung saja kami masuk lebih dulu tadi. Kami pun menyudahi river tubbing dan bersiap kembali ke camp.

wefie di atas mobil pick up


Rombongan kami diangkut dengan mobil pick up menuju camp semula. Setelah mengembalikan semua peralatan, kami lanjut ke kamar mandi yang disewakan penduduk sekitar. Selesai mandi dan bersih-bersih, kami duduk ramai-ramai di warung. Memang mie rebus adalah pilihan paling yahud untuk menghangatkan tubuh yang kedinginan dan kelelahan sehabis menelusuri sungai. Setelah semua kumpul, kami berfoto dan bersiap meninggalkan Wanawisata Goa Pindul.



Bus berjalan menuruni perbukitan Gunung Kidul menuju kota Yogyakarta. Kami mampir di area yang sedang happening bernama Bukit Bintang untuk makan siang di sana. Pemandangannya bagus, apalagi kalau malam. Menu makanan biasa saja, untungnya tidak terlalu manis. Cukup oke lah.



Pukul 2 siang kami memasuki kawasan Yogyakarta sebelum menuju tempat menginap, kami mampir-mampir dulu di toko Dagadu. Produk kaos Dagadu yang udah tenar banget dari tahun 90an (jaman saya SMP) bisa didapati di sini. Ya tentu saja dengan desain terbaru. Kami beli tas backpack lipat juga beli kaos. Saya beli kaos yang temanya kopi2an seperti biasa hehehhe. Selesai belanja di Dagadu baru bus kami meluncur ke arah penginapan.

Penginapan kami berupa sebuah rumah besar dengan beberapa kamar besar. Saya sekamar berempat dengan Ani, Eri dan Nia. Rumah itu bagus walaupun sudah cukup tua. Sampai di kamar, saya membongkar dan merapikan koper serta mencuci dan menjemur baju yang tadi digunakan river tubbing.

Malamnya kami makan malam di angkringan Yogyakarta yang tenar. Seperti biasa, saya suka membeli sate-satean juga jahe susu. Suasana malam Yogyakarta memang semarak persis dalam deskripsi lagunya Kla Project. Seusai makan, kami kembali ke penginapan dan beristirahat.

nasi kuciing

with ibu Ida, Director of Jubilee School

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images