Cerita dari Indramayu

22.46


Throwback Childhood Time

Masa kecil saya dihabiskan di sebuah kota kecil di Jawa Barat yaitu Indramayu. Saya tinggal di Indramayu hingga berusia lima tahun. Dari Pamayahan hingga Sindangkerta hingga akhirnya kembali ke Jakarta.


Ketika saya membaca buku Supernova Akar, tokoh Zarah yang diajak ke hutan oleh ayahnya hampir sama dengan kisah saya. Learning to the mother of nature kira-kira begitu. Ketika kecil, bapak mengajak saya memancing di sepanjang sungai Sindangkerta. Kadang udang-udang kecil ikut menyempil di dalam bubu ikan yang bapak pendam di sungai. Berburu tutu di sawah juga sama menyenangkan meski kadang saya terjerembab masuk ke dalam sawah. Dan yang paling seru adalah berburu jamur merang atau jamur rayap.

Bagaikan tentara yang mengendap-endap dan menyergap, saya dan bapak menemukan jamur. Entah bagaimana cara ibu saya memasak jamur itu, namun sup jamur dengan ikan hasil memancing yang digoreng bumbu kuning selalu jadi sajian istimewa di rumah mungil kami.

Pertengahan September 2016, Bapak punya ide untuk mengenang kembali masa-masa tinggal di Indramayu kebetulan sekaligus menghadiri undangan. Kami berangkat sabtu sore hari dari Jakarta. Kondisi perjalanan terhitung lancar. Saat memasuki tol Cipali, kami dilanda kebingungan harus keluar di mana karena lokasi Indramayu yang berada di tengah. Akhirnya kami keluar di Ciketing dan pilihan yang kurang tepat.

Kami terdampar selama hampir satu jam melewati hutan-hutan yang sepi setelah keluar tol dengan kondisi jalan yang rusak di sana-sini membuat kami seolah-olah sedang berolahraga offroad. Betapa leganya kami saat berhasil keluar di jalur Pantura dan lima belas menit kemudian sudah memasuki kawasan Celeng menuju Indramayu kota.

Malam itu kami menginap di D’ Nissa. Tak banyak penginapan yang available malam itu karena sedang digunakan oleh para atlet PON. Penginapan sederhana yang cukup bersih itu memiliki kafe kecil di teras depannya. Saya beserta kedua orang tua menikmati makan malam di kota Mangga dan menikmati alunan musik jazzy yang ditampilkan sebuah band di kafe itu, bahkan saya pun ikut menyumbangkan suara saya mengisi malam yang semakin dingin.


menyanyikan lagunya Payung teduh
Pagi harinya saya dan mama jalan-jalan sambil mencari sarapan. Indramayu sudah banyak berubah dan berbenah. Fasilitas yang modern terlihat menarik di tengah-tengah hiijaunya pesawahan. Ada satu yang tak berubah dan jangan sampai berubah, yaitu tempe khas Indramayu. Saya tidak tahu bagaimana perajin tempe di Indramayu mengolah kedelai-kedelainya hingga rasanya beda sekali dengan yang di Jakarta. Suasana pagi kami semakin lengkap dengan serabi dan goreng tempe yang berukuran besar, kedelai yang menyembul di sana-sini namun tetap gurih dan lezat.


tempe goreng yang enak


Pukul sembilan pagi, kami keluar dari penginapan dan memulai wisata ke masa lalu. Saat melewati jembatan bangkir, perlahan seperti ada sebuah film yang diputar di benak saya. Tujuan kami yang pertama adalah Sindangkerta.

dulu sewaktu kecil, saya dan keluarga tinggal di sebuah rumah dinas di kompleks SD Sindangkerta. Rumahnya tidak berubah bentuk hingga sekarang, pun sawah-sawah yang mengelilinginya. Di rumah itu ada sebuah jendela besar menghadap sawah, tempat bapak biasa meletakkan sebuah radio transistor. Setiap senja turun menuju maghrib dari radio transistor itu mengalun suara Ebiet G Ade yang khas

Kabut .. sengajakah engkau mewakili pikiranku?
Mendung .. benarkah pertanda akan segera turun hujan?

Begitu konsisten lagu tersebut mengalun setiap hari di waktu yang sama memberikan sebuah kompilasi pengalaman ajaib di mata anak usia empat sampai lima tahun. Usia saya waktu itu.  Sayangnya suasana pagi tak mampu membalikkan nostalgia lagu menjaring Matahari di Sindangkerta, jadi kami hanya mampu menjaring gambar lewat kamera.


rumah Sindangkerta





Tujuan selanjutnya adalah desa Pamayahan. Sepanjang ingatan saya, rumah saya di SD Pamayahan ini punya pohon kersen yang besar. Bapak sering memetikkan buah kersen untuk saya. Di bawah pohon kersen itu pula lah, saya melihat bapak mengajar para petani agar tak buta huruf. Iya Bapak saya seorang guru SD yang pada masa awal diangkat menjadi pegawai negeri sipil ditugaskan di Indramayu.

Saat mobil memasuki jalan kecil di Pamayahan, bebrapa orang masih mengenal bapak saya dan menyalaminya sambil memanggil pak guru. Ada beberapa yang memberikan bapak mangga Indramayu saat itu juga Saya terharu, saya kini juga berprofesi sebagai guru namun apakah saya mampu berbuat sesuatu yang berguna hingga dikenang orang lain.





Perjalanan nostalgia berpindah dari Pamayahan menuju pasar Jatibarang. Ketika kecil saya pernah dibelikan sebuah kursi yang lucu dan berwarna kuning. Kata orang tua saya pasar Jatibarang pun tak berubah dari akhir kali mereka mengunjunginya, tahun 1990. Kami meninggalkan Pasar Jatibarang menuju lokasi undangan dan menutup perjalanan nostalgia dengan banyak bersyukur atas apa yang kami sekeluarga terima, segala rezeki pemberian Allah.

perjalanan nostalgia ini pun saya tuangkan menjadi puisi untuk kemudian dikirimkan mengikuti sayembara menulis puisi Tjimanoek Fest yang diadakan pemerintah daerah Indramayu. Meski belum menjadi naskah yang terpilih, namun saya bahagia pernah menjadi warga Indramayu dan menulis tentang Indramayu.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images