Catatan Pendek Tentang Rindu yang Usang

21.03


Catatan Pendek Tentang Rindu yang Usang

Kuperhatikan judul buku kumpulan puisi yang dipajang di toko buku terbesar di Bandung ini. Entah mengapa aku merasa kenal betul dengan foto yang menjadi sampul buku tersebut. Kulihat nama penulisnya, hanya tertulis NT. Bergegas aku melangkah ke kasir dan membayar buku tersebut untuk menuntaskan rasa penasaran.


“Selamat  Mas, Anda mendapat diskon sepuluh persen untuk pembelian buku Catatan Pendek Tentang Rindu yang Usang. Mas juga berhak mendapat undangan talkshow bedah buku ini.” Ucap petugas kasir dengan ramah.

“Kapan acara bedah bukunya?” tanyaku.

“Sedang berlangsung, Mas. Kurang lebih tiga puluh menit lalu. Acaranya di lantai tiga.” jawab si petugas.

“Baiklah. Terima kasih ya. Saya langsung ke lantai tiga kalau begitu” Jawabku seraya mengambil plastik berisi buku yang kubeli.

Di dalam lift, aku membuka segel plastik buku kumpulan puisi itu. Belum pernah aku membeli buku puisi sebelumnya. Puisi selalu mengingatkanku pada sosok itu. Seuntai hati yang telah kusakiti.

Sampul buku puisi itu berupa gambar siluet dua orang, sedang bergandengan tangan berlatarkan danau di tengah pegunungan. Mengingatkanku pada masa-masa gemar hunting foto, dan menghabiskan tabunganku untuk membeli kamera lengkap dengan tripod.

Sampul buku itu mengingatkan aku padanya. Ia yang selalu menasehatiku untuk tidak boros. Ia yang selalu mengingatkanku untuk rajin kuliah. Ia yang selalu sabar menemani, menunggu bahkan terkadang menjadi model foto-fotok amatirku. Ia yang cerdas dan selalu selangkah dariku. Ia yang tak pernah kudengarkan. Ia yang hatinya terluka karena sikapku.

Saat langkah memasuki ruangan aula, tenggorokanku tercekat. Sosok penulis yang duduk di depan dan sedang berbicara begitu kukenal. Penampilannya tak berubah dari terakhir aku melihatnya. Delapan tahun lalu, sebelum ia … yah kutinggalkan tanpa sebab pun tanpa kabar. Jarak Bandung-Jakarta rupanya mampu menyembunyikanku, hingga akhirnya kini ia hadir lagi di hadapan.

Sambil mendengarkan pembicara, kubuka buku puisi itu dan tertegun memandang halaman pertama. Sebuah puisi tertulis dan menohok hatiku. Kalbuku luruh seketika. Ia yang kusakiti, tetap bertahan delapan tahun menanti.


Acara bedah buku pun usai, pengunjung berjalan keluar meninggalkan aula yang kian sepi. Kukumpulkan kekuatan kaki di tengah pilunya hati akibat penyesalan tiada terperi. Sesalku bertambah parah saat kubaca puisi-puisi dalam buku itu. Kuayun langkah keluar dari aula dan berjalan menjauh. Kudengar langkah tergesa tepat di belakangku.

“Hendri …”  tegurnya.

Suara itu begitu akrab di telinga meski sudah lama tak terdengar. Aku tak punya keberanian untuk memutar tubuh dan berhadapan dengannya. Lalu kudengar ia berkata-kata lagi. Suaranya jelas terdengar.

“Catatan pendek tentang rindu yang usang. Tak henti aku menulis. Rangkaian, untaian kata. Jika kata tak juga sampai padamu. Maka mungkin hanya doa yang mampu. Engkau yang memilih berlalu. Sendiri di jagad inspirasi yang kian pasi. Apakah kita masih kita? Penantian sewindu masih tanpa solusi. Kekasih, rindu ini kian usang. Namun ia ada dan bernyawa.”

Ya Tuhan, ia membacakan puisi itu. Puisi yang aku tahu persis ditulisnya untukku. Aku tak punya pilihan, harus kuhadapi meski ciut. Aku berbalik dan menatapnya, matanya terlihat berkaca-kaca. Ia berhenti membacakan puisinya.

“Maaf foto kamu aku pakai tanpa izin. Aku ingin karyaku ini berhias foto kamu. Satu-satunya kenangan tentangmu yang aku punya. Maaf kalau kamu tidak berkenan.” Suaranya terdengar bergetar.

Tak satupun suara mampu keluar, lidahku kelu. Aku melangkah ke arahnya, kupeluk ia erat. Rindu-rindu yang usang namun ada dan bernyawa pun tumpah ruah dari dalam hatiku. Hanya untuknya, untuk dia Nataya Tresna, sang penyair. Sejak dahulu kekasihku memang hanya dia, dia saja.

Seperti biasa ia selalu memahamiku. Ia tak berkata-kata lagi, hanya balas memelukku, kurasakan air mata mengalir di pipinya. Ia terluka karenaku, dan aku akan mengembalikan masa-masa indah yang seharusnya ia miliki. Aku selalu merasa menjadi manusia bodoh dan tak berguna. Namun sore ini, disaksikan pelangi yang terlihat dari jendela-jendala lorong gedung aku bersumpah untuk membahagiakan Nataya selamanya. 

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images