Dua Sisi Hujan

23.09


Sejak membaca "Pada sebuah Kapal" karya sastrawan besar Ibu Nh. Dini semasa remaja dulu, saya selalu jatuh cinta pada cerita dua sisi. bagaimana sebuah peristiwa dipotret dua sisi dari mata para pelakunya. Tentu kesamaan peristiwa tak sesama batin yang mengalaminya.

Di hari keempat program #30Dayswritingchallenge yang sedang saya ikuti saya menulis kembali cerpen lama saya yang dahulunya berjudul "Hujan". 


Dua Sisi Hujan


Bandung pertengahan Agustus, hujan terus mengguyur tanpa henti. Aku berjalan perlahan, bersijingkat dan melompat tiap ada genangan di setapak jalan Cipaku.  Kumasuki sebuah rumah kost sederhana. Bangunan dua lantai yang didominasi warna hijau dengan 6 kamar di tiap lantainya. Aku akan tinggal menetap di rumah kos ini.

Suasana sepi, memang sedang musim libur, belum semua mahasiswa kembali dari kampung halamannya. Kulihat ada 1 kamar yang nampak terang, kamar terdekat dari pintu gerbang. Aku terburu-buru melangkah dan terjatuh di depan kamar terang itu. Kulihat di pintu kamarnya tergantung papan kecil dengan tulisan Tannia’s Room the Coziest Place Ever. Aku harus segera bangun sebelum pemilik kamar itu keluar. Dan benar saja, pintu kamar itu pun terbuka.

“Hay … baru ya?” tanyanya sambil mengulurkan tangan hendak membantuku. Wajahnya nampak menahan tawa melihat posisiku yang duduk terjatuh.

“Ah iya, baru sampai nih.” Aku berusaha bangun dan menepuk-nepuk celanaku yang basah dan berjalan menuju kamarku.
           
“Hay penghuni baru, kalau kamu mau membuat minuman hangat aku ada nih, kamu pasti kedinginan karena kehujanan kan?” dengan jenaka ia mengacungkan termos air dari dalam kamarnya.
           
Malam itu kami menghabiskan waktu dengan ngobrol dan ngopi sampai dini hari. Ini pertama bagiku dapat melewatkan waktu begitu lama dengan orang yang baru kukenal. Aku, Teguh si Introvert sepertinya telah berhasil keluar dari tempurung karena perempuan satu ini. 
Perempuan yang baru kukenal 12 jam lalu.


*  *  *  *  *
Hujan deras mengguyur Bandung, tepat ketika aku berhasil menemukan kunci kamarku setelah hampir lima menit merogoh-rogoh tas. Rumah kost ini begitu sepi, memang yang lain masih di kampung halaman masing-masing menghabiskan libur hingga Agustus berakhir. Sepanjang perjalanan dari Jakarta sampai Bandung, aku melamun berteman mendung. Tadinya aku akan berlama-lama di rumah, juga menghabiskan liburanku dengan Hardy, kakak kelasku di ekskul Pecinta Alam saat SMA. Namun kenyataan tak sesuai rencana.

Hujan deras seolah paham suasana hatiku yang terluka. Tadi malam Hardy menemuiku, aku kira ia akan mengajakku backpacker seperti yang biasa kami lakukan setiap aku berlibur. Namun kedatangan Hardy membawa berita mengejutkan bahwa bulan depan ia akan menikah. Aku terpana, tersentak. Selama ini ia menganggapku apa? Ia yang selalu menyebutku soulmate. Ah mungkin selama ini aku hanya merasa? I thought that I’m special, but nothing in reality.

Hampir saja aku menangis lagi, namun kudengar bunyi benda berat jatuh tepat di depan kamarku. Segera kubuka pintu kamar dan kudapati seorang laki-laki dengan posisi duduk terjatuh, wajahnya meringis menahan sakit nampak begitu lucu di mataku. Ia beringsut bangun, aku pun mengulurkan tangan utuk membantunya. Ia bangkit sambil menepis-nepiskan celananya yang basah akibat jatuh persis di bawah genangan air hujan.
           
Ia berjalan menuju kamarnya yang hanya berbeda 1 kamar dariku. Ketika kutawarkan air hangat untuk membuat kopi ia hanya tersenyum. Tak sampai 10 meit, ia muncul di kamarku. Kami berbincang sambil menyeruput kopi bergelas-gelas hingga dini hari. Sungguh tak kusangka, kehadirannya sedikit menghibur luka. Sepertinya aku akan akrab dengannya.

*  *  *  *  *
Namanya Tannia, tapi ia lebih populer dipanggil Tance oleh teman-temannya. Perempuan asli Jakarta. Dia begitu ceria dengan humornya juga caranya tertawa terbahak-bahak. Ternyata kami kuliah di kampus yang sama, kami seangkatan namun beda jurusan.

Semenjak malam perkenalan, lewat obrolan dan gelas demi gelas kopi yang kami habiskan, kami jadi saling mengenal satu sama lain. Tanpa terasa persahabatan ini sudah berlangsung tiga tahun lamanya. Aku tahu betul apa yang Tannia suka dan apa yang tidak disukainya. Aku tahu rahasianya, tahu ia sedang suka siapa begitupun sebaliknya.

Namun akhir-akhir ini ada yang menggangu pikiranku. Sudah satu bulan terakhir ini aku mendekati Dilla, adik kelasku sewaktu SMP yang tidak sengaja bertemu di terminal Cicaheum. Pendekatanku pada Dilla awalnya lancar-lancar saja, sampai aku sendiri sering heran mengapa aku memanggilnya dengan nama Tance. Nama panggilan Tannia, teman kost, sahabatku. Dan baru kusadari bahwa selama ini aku selalu bercerita tentang Tannia pada Dilla. Semua selalu tentangnya, sampai akhirnya Dilla berkata dengan ketus

“Siapa sih Tannia itu? Kayanya Aa dekat banget sama dia. Kayanya dia spesial banget ya buat Aa.” Dilla menerorku dengan pertanyaan ketusnya.

Aku jadi bertanya dalam hati, apa karena terlalu dekat sehingga aku tak menyadari bahwa Tannia begitu istimewa. Apa karena dia akan segera lulus dan aku akan kehilangannya. Memang setelah kata-kata Dilla itu, tiba-tiba saja ada yang berbeda dari caraku memandang Tannia. Sungguh ia terlihat lebih menarik.

*  *  *  *  *

Namanya Teguh Priyatna, lelaki Sukabumi tulen. Setiap ia pulang kampung, aku selalu merengek minta dibawakan mochi. Akibatnya semua rasa mochi Sukabumi pernah kucoba, dari rasa keju yang enak hingga rasa jahe yang aneh. Ia kuliah di kampus yang sama denganku, kami seangkatan. Ia mengambil Teknik Informatika sementara aku Sastra Perancis. Kami dijuluki duo dynamic dari rumah kost Melati Antik.
           
Semenjak ia jatuh tepat di depan pintu kamarku tiga tahun lalu, persahabatan kami makin erat. Ia tahu semua rahasiaku begitu juga denganku yang tahu persis rahasianya. Namun sungguh aku merasa ada yang berbeda darinya, entah apa. Perbedaan itu dimulai saat ia menunjukkan bbm dari Dilla, adik kelas yang sedang didekatinya.
           
Dalam bbm itu Dilla seolah ingin tahu siapa aku, mengapa aku begitu dekat dengan Teguh. Teguh pun mengakui bahwa ia selalu bercerita tentang aku pada Dilla. Tak hanya Dilla, Teguh ternyata juga suka membanggakan aku pada setiap perempuan yang ia sukai. Dasar aneh, ya wajar kalau perempuan-perempuan itu jadi kesal karenanya.
           
Semenjak aku melihat bbm itu, aku pun merasa ada yang berubah. Ada yang berdesir hangat dalam darahku setiap Teguh menatap, saat ia bercanda memeluk dan mengusap rambutku. Jantung yang berdebar keras membuatku takut. Akhir-akhir Teguh nampak begitu rupawan di mataku.
           
Malam itu, Teguh sedang pulang ke Sukabumi. Seperti biasanya kami pun chatting lewat bbm. Lalu entah dorongan darimana tiba-tiba saja aku menulis
           
“Ada yang mau aku ceritain pas kamu pulang besok. Jangan bilang siapa-siapa ya” bbm itu terkirim sudah, padahal aku sendiri tidak tahu persis apa yang akan aku bicarakan dengannya. Atau mungkin ini akibat terhanyut saat ia berpamitan pergi kemarin, pertama kalinya Teguh mengecup keningku saat ia pamit hendak ke Sukabumi. Ia terlihat kikuk seusainya, aku pun demikian, tak tahu akan berbuat apa.

*  *  *  *  *
Apa yang mau Tannia bicarakan, begitu pikiranku saat membalas bbm terakhir darinya. Apa ia akan memarahiku karena kukecup keningnya saat berpamitan pulang. Semua terjadi begitu saja tanpa direncana. Saat aku berpamitan entah mengapa ia seolah menahanku pergi, dan kukecup keningnya untuk meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja. Aku sendiri terkejut pada kelakuanku, ia pun tampak kikuk. Sungguh kami berdua tidak memahami apa yang sedang terjadi.
           
Rasanya tak sabar untuk pulang ke Bandung secepatnya. Seusai sholat subuh, kupacu Kawasaki Ninjaku, perjalanan ini menghabiskan tiga jam. Aku akan sampai di Bandung tepat saat Tannia selesai kuliah pertama, kuliah Penelitian Sastra. Aku jadi geli sendiri, lucu rasanya karena aku lebih hapal jadwal kuliah Tannia dibandingkan jadwal kuliahku sendiri. Ingin rasanya kulipat-lipat jalan Sukabumi menuju Bandung agar lekas sampai.

*  *  *  *  *
Jantungku berdebar cepat saat Kawasaki Ninja hijau Teguh tiba di depanku, ia menjemputku di gedung perpustakaan. Sepertinya dari Sukabumi ia langsung menuju kampus tanpa beristirahat dulu di rumah kost. Segera aku naik ke boncengannya. Ia tahu kemana harus pergi tanpa bertanya dulu padaku.
*  *  *  *  *
Cihideung masih berkabut tipis pagi itu. Tannia memeluk pinggangku erat saat jalan semakin menanjak. Aku akan membawanya ke tempat yang paling ia sukai. Kami berdua di atas Kawasaki Ninja seolah membelah kabut. Jalan sepi berhiaskan bunga-bunga indah di kiri kanannya.

Sampailah kami di perkebunan teh Sukawana. Tannia sering mengajakku ke tempat ini, biasanya ia membawa keranjang bekal dan menggelar kain di padang rumput kemudian duduk menulis puisi dan aku makan bekal yang kami bawa. Kadang kami jalan-jalan di komplek Villa Istana Bunga dan berfoto-foto dengan aneka pose aneh dan ajaib di sana.

*  *  *  *  *
Ia memarkirkan motornya dan menggandengku berjalan di antara pepohonan pinus di puncak kebun teh Sukawana. Kupasrahkan tanganku dalam genggamannya.

“Jangan bilang apa-apa. Aku tahu kamu mau ngomong apa, kamu juga pasti tahu aku akan bilang apa” Teguh menatapku. Kami memang begitu mengenal sampai-sampai kata cinta pun tak perlu diucapkan. Aku hanya memeluknya, dan saat itu hujan pun turun. Hujan kebahagiaan.

Aku mencintanya tanpa ragu. Sahabatku kini menjelma jadi kekasih.


*  *  *  *  *
“Jangan bilang apa-apa. Aku tahu kamu mau ngomong apa, kamu juga pasti tahu aku akan bilang apa” kataku lugas menatap matanya. Ia menunduk, wajahnya memerah.  Kami begitu mengenal hingga kami tahu bahwa cinta bukanlah kata-kata lagi. Cinta adalah Tannia dan aku.

Rintik hujan membasahi dedaunan teh. Hujan kebahagiaan. Tannia memelukku erat, kuusap serpih kabut di rambut hitamnya. Aku mencintanya tanpa ragu, sahabatku kini menjadi separuh jiwa. Kekasihku.

Jakarta, 3 Februari 2017

            

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images