Kisah Halte Biru Tentang Pengagum Rahasia

23.01


Kisah Halte Biru Tentang Pengagum Rahasia

Sebuah halte biru berada di depan Rumah Sakit Pemerintah. Halte biru sangat senang bercerita, khususnya pada angkutan-angkutan kota yang menepi mencari penumpang atau pada gerobak-gerobak kecil yang menepi berlindung dari hujan. Awalnya halte biru itu begitu mentereng, namun semenjak Gubernur diganti, halte itu tak diperhatikan lagi. Kondisinya memprihatinkan, atap bolong, kursi hilang juga cat yang tak lagi diketahui warna aslinya akibat tertimbun tulisan usil anak-anak.


Kabar terakhir halte itu akan digusur. Dengan sedih ia mengucap selamat tinggal pada kawan-kawannya Kopaja, Metro Mini, Mikrolet dan Bajaj. Ia juga berpamitan pada gerobak gorengan, gerobak bubur ayam dan gerobak rokok.

Pagi ini, Halte biru telah berhadapan dengan sebuah Bulldozer kuning dan besar. Ia tahu ini adalah hari terakhirnya. Tanpa gentar, Halte biru malah mengajak berbicara. Ternyata Bulldozer adalah pendengar yang baik. Halte biru pun bercerita sebuah kisah tentang pengagum rahasia.

*  *  *  *  *

            Sudah hampir satu minggu ini aku memperhatikannya. Seorang gadis manis berambut panjang yang duduk menunggu di sebuah halte bus setiap pagi pukul 6. Sayangnya arah kami berseberangan, hingga sulit bagiku untuk mendekat apalagi mengenalnya.
            Ia begitu menarik untuk dipandang, gerak-geriknya mencuri perhatian walau sekejap, namun mataku tak dapat berkedip menatapnya. Terkadang diam-diam aku mengambil gambarnya lewat kamera ponselku. Hasilnya kadang kurang begitu bagus karena diambil dari kejauhan dan sembunyi-sembunyi. Di malam hari kutatap foto-foto itu sambil tersenyum-senyum sendiri dan mulai mempertanyakan kewarasanku. Aku tak bisa terus begini, aku harus berbuat sesuatu.
            Pagi itu aku berangkat lebih awal, aku harus mengambil jalan memutar untuk melewati halte tempat gadis itu biasa duduk. Aneh, gadis itu belum tiba di tempat. Aku memutuskan menunggu sebentar. Keputusan yang tepat, tak berapa lama gadis pujaanku terlihat. Aku pun cepat-cepat duduk di salah satu kursi halte, seperti yang kuduga sebelumnya gadis itu duduk tepat di sebelahku. Tak dapat kukendalikan debar jantungku yang makin cepat. Kukerahkan seluruh keberanianku.
            Belum sempat satu huruf pun terlontar dari mulutku, gadis itu sudah bangkit dari duduknya dan berjalan ke sebuah bus berukuran sedang kemudian menaikinya. Bus itu melewatiku yang hanya bisa memarahi diri sendiri. Sekilas kulihat gadis itu duduk di kursi dekat jendela. Sekilas kurasa kami saling menatap, ah tapi mungkin hanya perasaanku saja. Dengan gontai aku berjalan menuju motor yang kuparkirkan tidak jauh dari halte.
             Hari ini sudah dua minggu atau tepatnya empat belas hari aku mengenalnya, ralat maksudku memperhatikannya. Belum juga kutahu siapa namanya, yang kutahu hanyalah bus yang ia naiki bertuliskan “Sekolah Citra”. Mungkin ia bekerja di sekolah itu sebagai guru atau bagian lainnya, sungguh aku begitu ingin tahu. Aku pun sudah mengetahui lokasi Sekolah Citra itu, hasil dari googling tentu saja. Sepertinya tidak terlalu jauh dari kantorku. Anganku pun mengembara jauh. Kujemput ia dari kantornya, kemudian kami akan berjalan-jalan menikmati pantai Ancol. Khayalan ini harus jadi nyata, itu tekadku.
            Hari ke lima belas usahaku mengenalnya. Aku sudah duduk di Halte tempat ia biasa menunggu. Telah kusiapkan rencana untuk menyapanya, mungkin aku akan bertanya jam berapa sekarang, atau mungkin aku akan pura-pura tersesat dan menanyakan arah.
            Sejuta rencana di dalam kepalaku untuk menegurnya mendadak sirna begitu ia hadir di hadapanku. Ia duduk di sebelah kiriku, dan segera mengeluarkan ponselnya. Semua strategi yang kubuat untuk dapat berkenalan mendadak buyar. Dan aku terlambat, bus itu sudah tiba di halte. Dengan perih yang tak dapat kujelaskan kulihat ia beranjak dan melenggang ke arah bus. Aku gagal lagi
            Kupacu Pulsar biru milikku dengan perasaan tak menentu. Aku tak semangat bekerja, hanya melamun yang kulakukan dibalik cubicle. Aku pernah punya banyak teman dekat perempuan sebelumnya, namun tak pernah dibuat tak berkutik seperti ini oleh perempuan yang belum kukenal sama sekali. Inikah perihnya jatuh cinta diam-diam. Sedih dan senang dinikmati sendirian, hanya sendirian.

*  *  *  *  *

“Lalu apa yang terjadi pada mereka?” tanya Bulldozer tertarik hingga lupa tugasnya untuk menghilangkan Halte biru.

Halte biru tak menjawab, ia hanya mengerling ke arah sepasang suami istri. Yang wanita seperti sedang hamil besar. Mereka berdua  berjalan saling menatap bahagia memasuki pintu Rumah Sakit di belakang Halte biru setelah memarkirkan motor pulsar biru milik sang suami. Bulldozer pun ikut tersenyum melihat ke arah yang ditunjukkan Halte Biru

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images