Sahabat Tersayang

11.07


Cerpen ini ditulis untuk melengkapi tantangan menulis program 30 days writing challenge. 


Sahabat Tersayang

Aku berlari-lari kecil memasuki bangsal Rumah Sakit Husada. Di salah satu ruangan kulihat ia duduk tenang membaca buku. Aku menghampirinya perlahan agar ia tak terkejut. Kejutan bisa membahayakan kesehatan jantungnya.


“Rin, baru datang? Bagaimana di sekolah tadi?” tanyanya tersenyum.

Achy sahabatku punya senyum serupa malaikat. Ia begitu ringkih, kelainan jantung yang ia derita perlahan melemahkan tubuh namun tidak semangatnya. Tiap hari sepulang mengajar TK aku selalu menemuinya, menemaninya. Sudah hampir satu bulan ia dirawat secara intensif di Rumah Sakit ini. Kuceritakan tingkah polah murid-muridku padanya. Ia mendengarkan sambil tergelak.

“Rin, aku tadi nonton NatGeo tentang Penang. Malaysia. Bagus banget, apalagi George Town dan street art nya keren banget. Rin kamu kan Backpacker kapan-kapan kita kesana ya.”

“Iya, nanti kita kesana kan aku mulai libur minggu depan. Makanya kamu cepat sehat biar kita bisa jalan-jalan” sahutku merapikan selimutnya. Achy tak menyahut, ia tertidur beberapa detik setelah kurapikan selimutnya.

Perlahan kudengar suara isak tangis, begitu lirih memilukan. Kudatangi sumber suara, ternyata Tante Tia, mamanya Achy sedang menangis tersedu di depan pintu kamar.

Tante Tia menceritakan kabar menyedihkan. Tim ahli Rumah Sakit Husada menyampaikan bahwa mungkin Achy tak akan mampu berjuang lama lagi melawan penyakitnya. Kami akan kehilangan gadis manis dengan senyum malaikat itu. Aku dan tante Tia menangis berpelukan. Ini terlalu berat bagi Tante Tia yang belum lama ditinggal ayah Achy yang menjadi korban tabrak lari.

“Rin, kita harus mewujudkan keinginan Achy, apapun itu tante siap dan pasrah. Tadi tante dengar ia mau ke Penang. Temani dia Rin. Tante percaya Arin bisa menjaga Achy seperti selama ini.” Tante Tia menatapku memohon, aku mengangguk. Sejenak galau melanda, mampukah aku membawa Achy? Aku harus bisa demi mewujudkan keinginan sahabatku.

Dua puluh sembian Desember pukul sembilan malam, aku dan Achy telah tiba di Kuala Lumpur International Airport. Setelah proses imigrasi beres, kami segera naik bus malam menuju Butterworth. Kami akan naik kapal Ferry dari pelabuhan menyebrang menuju Penang.

Achy tak terlihat seperti orang sakit. Ia begitu bahagia bermain di pinggir pantai. Berfoto di beberapa bangunan tua sepanjang Georgetown. Menikmati teh di Lebuh Armenian sambil bercerita lelucon ataupun bersorak gembira setiap kami berhasil menemukan mural ataupun street art berdasarkan panduan Peta.

“Arin, terima kasih ya sudah membawa Achy ke Penang.” Ia memelukku tulus, diam-diam kusembunyikan air mata. Kami menyaksikan kembang api menghias langit malam di lapangan utama Penang.

Satu Januari dini hari, kami berdua berjalan menuju kapal Ferry menyebrang Penang menuju Kuala Lumpur. Malam ini kami akan kembali ke Jakarta. Semburat merah mentari terbit membentang di atas laut. Dua larik pelangi membusur menambah keindahannya.

“Pelanginya bagus sekali ya Rin. Ada dua, seperti kita, dua sahabat. Mungkin ini pelangi terakhir yang Achy lihat.”

“Ngomong apa sih. Lihat, ada burung-burung yang bagus, kamu fotoin tuh.” Jawabku sambil mengeratkan jaket Achy.

Sepuluh menit lagi kami akan mendarat di terminal tiga Bandara Soekarno Hatta. Achy gembira tak sabar ingin bertemu mamanya. Ia ingin bercerita tentang keindahan klasik Penang. Ia menggerakkan lehernya ke kanan kiri pertanda hatinya yang senang tak terkira. Aku bersyukur, ia baik-baik saja. Sejenak aku jadi ragu akan vonis dokter yang menyatakan bahwa Achy tak mampu bertahan lama lagi.

Achy berlari memeluk mamanya, aku hanya tersenyum membawakan tas milik Achy. Tante Tia memeluk Achy erat, air mataku menetes dibuatnya. Namun tak lama aku mendengar jerit tante Tia begitu aku tiba di sampingnya. Tante Tia menangis tersedu-sedu memeluk tubuh Achy yang lunglai dalam peluknya. Aku harus tetap tenang dan meminta tolong petugas bandara untuk memanggilkan petugas kesehatan.

Taman Pemakaman Umum Pondok Kelapa mulai sepi ditinggal para peziarah. Baru saja sahabatku dikebumikan. Selamat jalan sahabat tersayang, pelangiku kini telah pergi menghadap sang Pencipta. Kutaburkan bunga mawar kesukaanya kemudian berdoa dan berjalan menyusul Tante Tia yang tetap tegar melangkah. Sungguh ketegaran tante Tia mengajarkan makna cinta positif kepadaku.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images