Culinary Touring in Cirebon

21.57

Akibat cerita saya makan empal dan main-main di Cirebon membuat kawan-kawan saya tertarik untuk touring culinary di Cirebon. Dua minggu dari perjalanan mereguk kopi, jadilah kami empat wanita bertubuh jauh dari langsing berangkat ke Cirebon dengan Xenia hitam milik Tami.



Kami kumpul di area Cikini, karena Henny masih masuk kerja di hari sabtu sampai jam tiga. Sambil menunggu Henny, saya pun ngopi-ngopi di Bakoel Kofie. Tepat jam tiga Henny keluar dari kantornya. Perjalanan menuju Cirebon dimulai dengan Egin sebagai driver dan Henny sebagai co-driver sementara saya dan Tami duduk manis di belakang.


Namanya saja perempuan piknik, bawannya banyak. Sepanjang jalan kami lalui dengan makan asinan. Berkali-kali kami menjerit di jalur jalan tol Cipali bukan karena Egin terlalu ngebut, tapi karena khawatir kuah asinan tumpah.



Para peserta Touring Kuliner

lengangnya tol Cipali

perjalanan berteman awan hitam

derasya hujan, abaikan jari tangan yang ginuk ginuk itu

Perjalanan kami berteman hujan dan petir di beberapa ruas area. Hujan masih saja mengguyur saat kami keluar dari tol Cirebon. Perhentian yang pertama adalah empal gentong haji Apud. Benar-benar pilihan yang tepat, menyantap empal gentong dan sate di tengah hujan yang makin deras mengguyur.





Saat kami keluar dari rumah makan empal gentong Haji Apud, hujan telah mereda. Perjalanan berlanjut menuju Cirebon kota. Hotel Priyangan yang berlokasi di tengah kota, terletak persis di seberang Yogya Supermarket akan menjadi tempat menginap malam ini. Setelah urusan check in selesai, turing kuliner pun kami mulai dari mie koclok khas Cirebon. Dari Mie Ongklok lanjut makan nasi jamblang ibu Fitri yang terletak di seberang Grage Mall. Sebenarnya rasanya biasa saja tapi keramaian pengunjungnya luar biasa.


Mie ongklok
Nasi Jamblang Bu Pitri


Sebelum kembali menuju hotel, kami masih sempat ngopi di gerobak kaki lima dan mampir ke sebuah restoran yang terkenal dengan lobsternya yang enak dan murah. Sayangnya kami semua terlalu kekenyangan dan hp pun lowbat semua sehingga tak sempat mendokumentasikan makanan-makanan yang kami pesan. Perut kekenyangan membuat kami tidur lebih lelap.

Keesokan paginya, kami memulai hari dengan mengunjungi sega Lengko yang terletak di dekat Telkom Cirebon. Begitu paginya kami datang hingga ketika kami sampai di tempat, pemilik warung Sega Lengko Mang Barno masih merapikan dan menata bahan-bahan racikan sega lengko. Yang spesial dari sega lengko ini adalah kecapnya. Kecap home industry begini memang tidak ada duanya.


no make up, even not take a bath yet hehehe

rahasianya ada di kecap

Dari sega lengko kami menyambangi bubur sop ayam kampung M. Kapi di daerah jalan Tentara Pelajar. Kali ini kami memesan 1 porsi saja untuk dimakan berempat. Hujan turun deras ketika kami masuk ke PGC susai makan bbur sop. Ternyata di Cirebon ada juga PGC seperti di dekat rumah saya. Dari simping, kerupuk hingga botol sirup Jeniper kami beli sebagi oleh-oleh untuk orang rumah. Puas memborong oleh-oleh kami pun kembali ke hotel untuk check out.

semangkuk bubur sop

Tak afdol rasanya jika berkunjung ke Cirebon namun tak makan tahu gejrot, maka dari bubur sop kami lanjut ke area Pasar Kanoman. Pasar Kanoman sangat penuh hari itu, untung kami dapat tempat parkir meski harus sedikit berjalan. Sebelum makan tahu gejrot, saya ajak mereka menuju Keraton Kanoman untuk foto-foto dan yang terjadi kami tergoda membeli ikan asin dan ikan asap yang memang banyak dipajang sepanjang jalan menuju Keraton.





Usai berfoto cantik di Keraton dan berasa ala putri Keraton kami pun lanjut makan tahu gejrot yang pedas di tengah hawa panas. Setelah membungkus tahu gejrot perjalanan berlanjut menuju masjid merah dan Keraton Kasepuhan, namun kali ini kami cuma ngadem, tidak masuk ke dalam.





Turing kuliner kali ini memang dahsyat dan tak henti makan sebab dari Keraton Kasepuhan, kami menuju nasi jamblang Bu Nur yang terkenal enak seantero Cirebon. Saat kami tiba di lokasi warung Bu Nur, antrian luar biasa panjang. Susah payah kami mendapat tempat duduk. Di warung bu Nur ini memang lauk yang disediakan lengkap sekali. Ada blakutak (cumi hitam) dan tumis kedelai hitam, tak ketinggalan sate kentang dan sambal iris khas nasi jamblang. Perut kami kekenyangan luar biasa, saya harus merelakan diet yang gagal total.



tumis kedelai hitam

wefie sembari mengantri

tumis blakutak





sebelum pulang ke Jakarta, kami mampir lagi di Empal Krucuk. Kali ini kami tak sanggup makan lagi, hanya dibungkus untuk oleh-oleh orang rumah. Lalu kami juga sempat berkunjung ke sentra batik Trusmi. Meski harga yang ditawarkan cenderung murah, bahkan murah sekali untuk satu set kain kebaya atasan dan bawahan yang dujual seharga sembilan puluh ribu rupiah saja, entah mengapa saya tak tertarik membeli. Mungkin karena kekenyangan, maka saya hanya duduk-duduk di tiap toko batik.


bungkus-bungkus di empal krucuk


Senja hari, Xenia hitam Tami telah melenggang mulus di jalan tol Cipali. Matahari tenggelam di sepinya jalan tol Cipali sangat indah, saya pun mengabadikannya dengan kamera ponsel saya. Perjalanan pulang cukup lancar, kemacetan hanya terjadi di jalur tol Cikampek, itupun hanya di ruas pertemuan dengan jalan tol Cipularang.









Sampai rumah saya segera menghangatkan empal krucuk, semua orang rumah suka dan doyan sekali. Ya memang keluarga saya ini lidahnya Indonesia sekali. Tak sabar ingin turing kuliner lagi ke kota kecil lainnya. Sukabumi mungkin?

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images