Dari Semar Gugat Hingga ke Hutan Mangrove

23.24


Semar Gugat

Pentas Teater Koma memang selalu ditunggu-tunggu oleh penggemarnya termasuk saya. Selasa 8 Maret 2016, jam empat sore hari saya sudah berada di kawasan Cikini, menunggu Henny pulang kantor dan kita akan berangkat menuju Gedung Kesenian Jakarta menyaksikan pementasan Semar Gugat.


Sambil menunggu pintu teater dibuka, seperti biasa kami berfoto-foto dan makan terlebih dahulu. Pentas teater koma paling standar berdurasi dua jam bahkan lebih, namun tak pernah membosankan. Menurut saya teater Koma adalah teater terbaik di Indonesia yang pementasannya selalu didukung artistik dan musik yang luar biasa.








Lakon yang berkisah tentang negeri pewayangan ini ditampilkan dengan sangat apik oleh para aktor yang saling bertukar peran. Srikandi yang cantik diperankan oleh Rangga Riantiarno sementara Arjuna yang gagah diperankan oleh aktor senior teater Koma yaitu Daisy Lantang.

Berikut sinopsis lakon Semar Gugat yang saya kutip dari sebuah website.

Setelah 21 tahun berlalu, Teater Koma mementaskan kembali naskah Semar Gugat di Gedung Kesenian Jakarta. Seperti biasa, Teater Koma selalu memanjakan penonton dengan kostumnya yang berwarna-warni. Namun, ada yang berbeda dibanding pementasan tahun lalu. 

Pada pementasan Semar Gugat, setting panggung yang digunakan benar-benar memukau penonton. Misalnya saja, saat Batara Guru dan Narada datang dari langit, terdapat kereta dorong dengan hiasan awan yang membuat kedua orang tersebut seolah muncul dari langit. Gerbang Khayangan yang bentuknya seperti pohon palem, bersinar dengan lampu-lampu. Backdrop yang digunakan di atas pentas pun tidak cuma satu, tapi bermacam-macam disesuaikan dengan adegannya.

Belum lagi kostum para pemain yang megah. Tengok saja kostum Permoni yang membuat Cornelia Agatha tampak seperti "Ratu Setan" sungguhan. Lalu kostum Arjuna menjadikan Daisy Lantang terlihat begitu gagah. Kostum-kostum lainnya pun terlihat sesuai dengan peran masing-masing pemain di atas pentas.

Seperti biasa, lelucon-lelucon segar terselip dalam dialog para pelaku. Namun Teater Koma tak lupa dengan kritik-kritik sosial yang menjadi ciri khas mereka. Jadilah penonton asyik tertawa, sekaligus bertepuk tangan dengan kekritisan penampilan Teater Koma tersebut.

sumber: http://citizen6.liputan6.com/read/2450993/pentaskan-kembali-semar-gugat-teater-koma-sukses-pukau-penonton


posisi kami menonton pertunjukan


Pementasan terbagi menjadi dua babak dan diselingi istirahat selama lima belas menit. Semua penonton menikmati pementasan. Tertawa terpingkal-pingkal. Akting Cornelia Agatha sebagai ratu setan juga begitu memukau. Favorit saya adalah tokoh Gatot Kaca yang ditampilkan dengan rambut bercat biru.

Saat pementasan berakhir seperti biasa ada seremoni curtain call, penghormatan penonton, dimana para penonton hampir semuanya memberikan standing applause. Kami pun lekas bergerak ke panggung untuk bisa berfoto dengan para aktor.


Jeng Ayu Srikandi

Kangmas Arjuna

Raden Gatot Kaca
Keluarga Punakawan

Mirage merah Henny yang mengangkut kami bertiga baru bergerak keluar Gedung Kesenian Jakarta pukul setengah satu malam. Kebetulan esok libur tanggal merah jadi kami memang berencana menginap di sebuah penginapan.

Sampai di penginapan kami langsung tidur kelelahan. Kami baru terbangun esok paginya karena perut lapar. Tanpa mandi, kami segera menuju ruang makan yang menyediakan  sarapan pagi ala buffet.

Setelah kenyang, kami kembali ke kamar untuk mandi dan siap-siap check out. Selanjutnya kami pergi menuju hutan mangrove di Pantai Indah Kapuk. Nana dan Henny cukup tergiur dengan cerita saya yang pernah ngadem di hutan bakau itu.

Hutan Mangrove

Jalan tol cukup lancar sehingga kami bisa sampai di kawasan PIK dalam waktu kurang dari tiga puluh menit. Sebelum masuk kawasan wanawisata kami sempat makan siang dulu di sebuah restoran steak yang bernama steak gunting. Dinamakan seperti itu karena memang cara makan hidangannya dengan menggunakan gunting. Restoran Steak gunting itu menyediakan tempat duduk yang sangat nyaman berupa sofa besar plus bantal, sepertinya orang yang kekenyangan makan dapat langsung tertidur.


steak, gunting dan garpu

kress .. kress .. kress

Perut kenyang tak mengurangi kegesitan saya dan Henny menyusuri jalan setapak di hutan mangrove yang saat itu dipenuhi pengunjung dari pintu masuk sampai dengan pemberhentian pertama yaitu masjid apung yang ada di sebelah kiri tak jauh dari gerbang.

Angin semilir membuat masjid yang diominasi ornamen kayu menjadi sejuk. Kami lanjut berjalan memutari jalur jalan setapak dan pastinya berfoto di beberapa spot yang bagus. satu jam sudah kami berjalan mengelilingi kawasan hutan mangrove, awan mendung pun mulai hadir menghiasi langit menuju senja.





Prewed. Bukan saya tapi tuh yang di belakang

Kaki sudah senut-senut pun tak mampu lagi berkompromi hingga akhirnya kami menyudahi kunjungan kami hutan mangrove. Karena rumah masih jauh dan khawatir macet, kami mencari kedai bakso terdekat (sebenarnya ini alasan saja sih). Berdasarkan petunjuk google ternyata ada bakso solo samrat yang tak jauh dari hutan mangrove ini. Segera saja mirage Henny digas menuju lokasi bakso itu.

Hari ini kami tutup dengan makan bakso samrat yang enak sekali, terutama kuahnya itu … hhmm, sambil melihat-lihat foto selama berada di hutan mangrove barusan. Intinya di Jakarta cukup banyak tempat wisata yang bagus, murah dan instagramable. Opsi liburan yang menarik dan saya rasa cukup mendidik yang bisa ditemui tanpa harus bersusah payah ke luar kota ataupun ke luar negeri.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images