Filosofi Seblak

21.51


Mengutip Wikipedia tentang definisi seblak, seblak adalah adalah makanan Indonesia yang bercita rasa gurih dan pedas, yang terbuat dari kerupuk basah yang dimasak dengan sayuran dan sumber protein seperti telur, ayam, boga bahari atau olahan daging sapi, dimasak dengan bumbu tertentu. Seblak adalah makanan khas Bandung, Jawa Barat.


Entah siapa yang pertama memulai masakan seblak ini yang jelas makanan ini diklaim menjadi kuliner khas Bandung. Bahkan walikota Bandung yang ganteng pak Ridwan Kamil pernah memposting vlog aktivitasnya di rumah memasak seblak ditemani sang istri yang biasa disebut si Cinta (aaah jadi iri). Sepanjang ingatan saya semasa kuliah dulu seblak adalah kerupuk goreng, biasanya yang motif bunga-bunga ditaburi bubuk cabai yang luar biasa pedas.

Pertama kali saya makan seblak di Kemayoran. Sungguh saya dibuat bingung dengan porsi seblak yang disajikan. Tumisan kerupuk mentah yang menjadi lembek ditemani potongan bakso, sosis, makaroni, orak arik telur serta suwiran ayam. Rasa pedas dan aroma kencur juga cukup kuat di kuah seblak.




seblak dekat PGC


Selanjutnya saya membeli seblak tak jauh dari Pusat Grosir Cililitan, samping BPTN. Rasanya lebih enak dari yang di Kemayoran, kali ini ditambah dengan ceker. Enak sekali. Iseng-iseng saya pun berbelanja bahan-bahan membuat seblak dan memasaknya di rumah. Tanggapan keluarga bagus, jadi saya agak sering membuatnya. Berikut resep seblak ala saya.


Bahan-bahan:


-       kerupuk bawang 250 gram, dicuci bersih dan ditiriskan
-       6 buah cabai rawit merah
-       2 siung bawang putih
-       6 siung bawang merah
-       1 sdt garam
-       penyedap rasa, lada bubuk
-       2 sdm minyak goreng
-       1 buah tomat
-       1 butir telur
-       1 buah kencur
-       6 butir bakso, iris tipis
-       Ayam goreng suwir secukupnya
-       3 potong ceker rebus
-       2 gelas air

Cara Membuat:
1.    Rebus kerupuk yang sudah dicuci hingga air mendidih, angkat dan tiriskan
2.    Haluskan cabai, bawang merah, bawang putih, tomat, kencur dan garam
3.    Tumis bumbu halus sampai harum
4.    Masukan telur dan aduk hingga menjadi orak arik, tambahkan garam dan penyedap rasa dan lada bubuk sesuai selera
5.    Tambahkan irisan bakso, ayam suwir dan ceker rebus. Aduk hingga merata kemudian tambahkan air, diamkan hingga mendidih.


6.    Terakhir masukkan kerupuk rebus dan aduk-aduk hingga tidak ada yang menempel dan air sedikit berkurang.


7.    Angkat dan sajikan



Mengapa tulisan ini berjudul Filosofi Seblak? Kini saatnya saya menjelaskan. Jika penuli kenamaan Dewi “Dee” Lestari punya karya berjudul Filosofi Kopi, tulisan saya yang bukan siapa-siapa ini berjudul filosofi seblak setelah saya menemukan beberapa moral value setelah mengonsumsinya.

Seblak adalah hasil kreativitas yang mungkin kehadirannya bisa disejajarkan dengn horfun milik restoran Chinesse Food atau mungkin bisa mirip dengan pasta. Dari seblak juga saya belajar peribahasa “Tak ada rotan akar pun jadi.” Tiada pasta, kerupuk pun bisa dan mampu tampil menjadi makanan yang mahal. Harga bahan baku yang tak mahal juga rasa yang akrab adalah keunggulan seblak selanjutnya membuat saya jadi berpikir bahwa buatan Indonesia pasti jauh lebih baik.

Demikianlah filosofi dan moral value dari panganan yang bernama seblak. Sejatinya kita dapat memetik hikmah ataupun juga pembelajaran dari hal-hal kecil yang ada di sekitar kita yang terkadang luput dari mata. Buka mata, buka telinga, buka hati dan berempati menjadi pembelajar sejati.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images