Inilah Kisahku Seminggu di Malaysia, 3

22.59


Kisah 3

 27 Desember 2015

Udara pagi Malaka yang bersih membuat kami berniat mengelilingi kawasan merah yang dilindungi Unesco ini. Kami menelesuri jalan Lorong Hang Jebat hingga ujung kemudian melewati jembatan. Pemandangan menakjubkan membuat kami berdecak kagum. Di depan bangunan Madonna, ada tempat parkir serupa lapangan yang dipenuhi puluhan burung merpati.


Kami berfoto di dinding merah yang bertuliskan Unesco. Juga berfoto di depan bangunan gereja klasik. Malaka benar-benar membuat kami menjadi fotogenic. Kami menyusuri bangunan café di sepanjang sungai Malaka. Sampai habis kata-kata saya untuk menyampaikan rasa terpesona pada kota kecil ini.










Puas berjalan-jalan dan berfoto kami kembali ke Voyage. Beberapa warung makan di sekitar Voyage sudah buka. Kami masuk ke dalam sebuah toko antik yang letaknya persis di samping Voyage. Toko itu memang menjual barang-barang antik dan juga menu sarapan. Seporsi laksa dan juga kopi O mengisi perut kami.






Jam 9 kami sudah berkemas meninggalkan Voyage dan berjalan menuju Stadhuys. Sambil menunggu bus yang akan membawa kami ke Malaka sentral, kami berfoto-foto dulu di area Stadhuys yang cantik itu. Tak beberapa lama datanglah bus panorama Malaka. Rupanya bus yang kami naiki tak langsung menuju Malaka Sentral, kami dibawa berkeliling. Lumayan menghabiskan waktu.




Jam 11.30 kami sudah berada di Malaka Sentral. Bus Trans Nasional yang akan membawa kami ke Bandar Tasik Selatan terminal bus akan berangkat pukul 12 nanti. Semua tiket yang bisa dibeli online memang sudah saya siapkan jauh-jauh hari. Kali ini kami naik bus tingkat yang nyaman menuju Kuala Lumpur yang akan menghabiskan waktu 2 jam. Sepanjang jalan kami tertidur pulas.




Terminal bus Bandar Tasik Selatan luar biasa luas dan modern, tampilan dan pelayanannya pun sudah serupa airport. Keluar dari terminal kami menuju kereta commuter Line menuju KL Sentral. Rencananya kami akan menghabiskan sore hingga malam ini di seputaran Kuala Lumpur karena nanti jam 10 malam kami akan bertolak ke pulau Penang.

Sesampainya di KL sentral kami langsung menuju tempat penyewaan locker. Tas kami yang besar-besar ternyata tak muat di dalam satu locker. Satu tas yang tersisa adalah duffle bag loreng saya. Karena ringan, saya cuek aja menjinjingnya. Setelah urusan locker beres, kami naik ke atas menuju loket kereta . karena kesalahan saya, saya memesan kereta dari Butterworth menuju Kuala Lumpur telat satu hari dari jadwal seharusnya. Untung saja proses penukaran tiket berhasil meskipun harus downgrade setidaknya tiket tidak hangus.

persis di seberang loket kereta ternyata ada sebuah los yang menjual jasa penitipan tas. Tas loreng pun kami titip dengan biaya 3 RM.

Setelah urusan kereta dan locker pun selesai kami menuju medan selera. Makanan favorit saya di sini adalah nasi briyani yang berteman ayam goreng bertaburan daun jeruk. Setelah perut kenyang kami pun pergi menuju Batu Caves.




 Seperti biasa, kami bertiga pun berfoto-foto di patung-patung yang ada sebelum menuju patung dewi Durga besar yang keemasan. Puas berfoto, kami pun siap kembali ke KL sentral lagi. Menuju jalan keluar saya melihat toko yang berjualan snack meruku yang dibuat di tempat. Keripik meruku ini bentuknya seperti akar kelapa namun rasanya kari india. Di toko itu, saya melihat marukunya benar-benar masih hangat. Adonannya dicetak dan digoreng langsung di atas wajan. Beli lah saya 3 RM.






Sesampainya kami di KL Sentral, kami keliling-keliling mall dulu. Hujan teramat deras di luar. Akhirnya setelah capek jalan-jalan dan menemukan satu lagi tempat locker penitipan tas yang berlokasi di mushola di dalam mall, kami memutuskan untuk ke bilik mandi. Karena nanti malam kami akan ke Penang dan rasanya badan juga sudah lengket seharian di jalan.

hujan deras mengguyur
Tak dinyana, di depan bilik mandi tergantung tulisan sedang rehat. Tunggu punya tunggu sampai hampir waktu operasional berakhir petugas tak kunjung keluar. Dan akhirnya 5 menit sebelum pukul 9 keluarlah si ibu petugas sambil menggendong anaknya. Ia nampak bersiap pulang dengan membawa tas dan helm di tangan. Ia bilang bersedia menunggu 5 menit untuk kami mandi. Tapi kami batalkan, di luar hujan lagipula sudah larut malam kami takut si ibu susah pulang, dia juga membawa bayinya.


Jadilah malam itu kami bertolak ke terminal bus bersepadu tanpa mandi. Terminal bus ini sudah seperti airport saja, baik tempat maupun sistemnya. Pertama kami menuju loket pencetakan tiket asli yang ditukar dengan voucher pembelian online. Selanjutnya kami menuju ruang tunggu di bagian bawah. Di depan eskalator ada petugas yang memeriksa tiket dan juga paspor kami.

Ruang tunggu sangat luas. Beberapa stand penjual makanan tersedia. Di setiap sudut terdapat layar-layar besar yang menginformasikan jadwal bus dan juga lokasi gate pemberangkatan. Bus kami telat hampir 30 menit. Memang saat itu musim libur dan macet dimana-mana. Begitu bus diumumkan datang dan parkir di gate yang telah ditentukan, calon penumpang berbaris rapi di depan gate. Semua tertib dan teratur, ga ada yang potong barisan.




Bus pun berjalan perlahan meninggalkan Kuala Lumpur menuju pulau Penang. Saya pun terlelap sepanjang perjalanan. Dini hari kami dibangunkan karena telah sampai di Butterworth dimana kami akan menyeberang menggunakan kapal ferry. Dengan langkah terkantuk-kantuk kami berjalan menyusuri lorong demi lorong juga anak tangga menuju loket penyeberangan Ferry.


mohon maaf ...

loket kapal ferry

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images