Inilah Kisahku Seminggu di Malaysia, 4

23.18


Kisah 4

28 Desember 2015

Udara dingin, aroma khas laut juga semburat matahari terbit menemani perjalanan kami menyeberangi lautan menuju pulau Penang. Akhirnya kapal ferri pun merapat di terminal Jeti. Kami bertiga berjalan keluar menuju area penyeberangan. 

Matahari belumlah terlihat di ufuk timur. Terminal Jetty pun masih gelap dan sepi, hanya ada beberapa bus yang terparkir. Warung-warung penjaja makanan pun belum semuanya buka. Kami terpaksa duduk di depan kamar mandi yang masih terkunci rapat.



Tak berapa lama kemudian, para petugas terminal Jetty pun berdatangan. Kami boleh menumpang sholat subuh juga beristirahat di Mushola milik petugas. Pukul 7 pagi kami keluar Mushola, langit pun telah terang. Kamar mandi juga sudah dibuka, dan ternyata ada tempat untuk mandi, tak hanya toilet. Girang benar kami dibuatnya, maklum kemarin kami tak mandi seharian.

segarnya yang sudah mandi .. eh saya kemana ya?

Setelah mandi, rapi jali dan cantik kami pun menyeberang menuju medan selera untuk sarapan pagi. Seporsi mie kuah, martabak dan teh tarik mengisi perut kami bertiga pagi itu. Medan selera (Food Court Malaysia) ini dikelilingi bangunan kuno, yang menarik perhatian kami adalah tempat penyewaan sepeda. Lucu sepertinya bersepeda mengitari bangunan-bangunan klasik, serasa di Eropa.





Dari hasil duduk-duduk lama di terminal Jetty, kami melihat ada bus percuma (gratisan) yang disediakan untuk berkeliling kota. Tentu ini kegiatan yang menarik, sambil menunggu waktu check in hotel. Maka, begitu sarapan rampung kami segera masuk terminal Jetty lagi dan naik bus percuma menuju area Komtar. Kami naik bus percuma dari terminal Jetty hingga kembali lagi.

Pukul 8.30 kami berjalan meninggalkan terminal menuju hotel kami di Lebuh Queen. Sepanjang perjalanan saya sudah melihat beberapa mural art, baik yang dilukis di dinding ataupun berupa besi tempa yang dibentuk sedemikian rupa, sungguh seni yang luar biasa.

Berjalan sambil memanggul ransel amat melelahkan, apalagi jalan-jalan di Penang ini luas dan besar tak seperti di Malacca yang jalannya kecil-kecil. Sesampainya di hotel Queen, kami boleh menitipkan barang-barang kami di petugas resepsionis. Kami pun lanjut jalan-jalan dengan bermodalkan peta Penang. Kami siap berburu mural.






Menyusuri jalan-jalan di Penang membuat saya tersenyum, karena nama jalannya sangat Melayu namun diikuti dengan nama kebarat-baratan. Contoh Lebuh Steward, Lebuh King, Lebuh Kimberley, Lebuh Queen, Lebuh Armenian dan sebagainya. 

Kami berjalan kaki menyusur jalan Masjid Kapitan Keling. Sepanjang jalan, kami berfoto-foto, tepat di ujung jalan Masjid Kapitan Keling terdapat sebuah gereja klasik berwarna putih, tak menyiakan waktu kami pun berfoto di sana. Persis di samping gereja adalah Penang State Museum and Art Galery atau dikenal Muzium Negeri Penang. Kami pun masuk ke dalamnya dan menikmati sejarah Penang lewat diorama dan benda-benda yang dipamerkan.

di halaman Gereja St George


Keluar dari Museum, kami berjalan lagi. Tujuan kami selanjutnya adalah Fort Cornwallis. Kami bertiga berjalan melalui Lebuh Light di bawah naungan awan dan cuaca yang cukup bersahabat. Bangunan klasik mendominasi jalan menuju Fort Cornwallis. Kami melewati lapangan luas yang berhiaskan gantungan yang dibuat dari kertas origami membentuk balon udara.


Akhirnya sampailah kami di area Fort Cornwallis, karena biaya masuk cukup mahal, akhirnya kami hanya berfoto di luar saja. Area bermain anak di depan Fort Cornwallis cukup luas dan menyenangkan serta gratis.

Matahari kian meninggi, membuat kami bergegas meninggalkan area Fort Cornwallis dan menyeberang menuju halte bus untuuk naik bus percuma menuju kawasan Komtar, pusat perbelanjaan.

Jalan-jalan di Penang menjadi begitu hemat karena adanya bus percuma. Bus pun tiba lalu mengantarkan kami menuju Komtar. Di sana saya membeli thumbler Starbucks titipan teman-teman saya. Setiap saya travelling, teman-teman saya hobi menitip beli thumbler starbucks. Nitip ya, bukan minta dibelikan. Wah bisa bahaya kalau minta dibelikan. Kami pun makan siang di Komtar. Ada foodcourt di lantau atas yang tempatnya cukup nyaman dengan harganya murah.

Seusai perut kenyang, kami pun pulang menuju hotel. Naik bus percuma ini kita harus mengerti tempat pemberhentiannya sebab kalau tidak, halte selanjutnya cukup jauh. Kali ini kami memilih untuk turun di terminal Jetty hitung-hitung jalan-jalan lagi. Dari terminal kami jalan kaki menuju Lebuh Queen. Sesampainya di hotel, kami sudah boleh check in.

Kamar yang kami sewa cukup besar untuk bertiga dengan tarif yang lumayan murah. Kami pun beristirahat meluruskan kaki hingga tanpa sadar kami tertidur.

Kami keluar dari area hotel pukul 6 sore. Di sana pukul 6 masih terang. Kami berencana main ke kawasan pasar tradisional yang tadi siang kami lihat sangat ramai dan panjang antriannya. Kali ini kami naik bus percuma dari halte Bank Negara.

Setelah turun dari bus percuma, ternyata kawasan pasar tradisional Chowrasta tidak ramai di senja menuju malam hari. Dan antrian yang tadi siang begitu panjang ternyata adalah antrian para pembeli cendol yang terkenal di pasar Chowrasta. Kami hanya mampir di toko oleh-oleh seperti biasa memborong gantungan kunci, memo kecil dan sejenisnya. Juga mampir ke toko manisan jeruk yang terkenal di Chowrasta.

Dari pasar Chowrasta, kami naik bus percuma menuju Komtar. Sebab satu-satunya bus yang kami tahu jurusannya hanyalah yang dari Komtar menuju Jetty. Di Komtar, kami menemukan toko Mustika Ratu yang cukup besar, ternyata kosmetik kita laku di Negeri Jiran. Bus yang kami tunggu pun tiba di menit ke 15 kami menunggu.

Kami menutup malam pertama kami di Penang dengan menikmati nasi kandar yang terkenal itu. Makannya pun tak jauh, persis di depan hotel Queen tempat kami menginap banyak sekali tenda-tenda yang menjajakan nasi kandar.

Malam ini kami tidur setelah kekenyangan makan nasi kandar dan ketika jam tepat menunjukkan pukul 11 malam. Esok kami punya rencana yang sungguh tak sabar untuk dijalani.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images