Inilah Kisahku Seminggu di Malaysia, 5

22.27


Kisah 5

29 Desember 2015

Jam 8 pagi kami sudah berada di jalan menuju terminal Jetty. Di tengah perjalanan dari Lebuh Queen menuju terminal, sesekali kami berfoto setiap melihat mural yang sesuai dengan peta.


Hari ini kami akan tamasya ke Bukit Bendera, salah satu ikon pariwisata Pulau Penang. Dengan membayar 1,2 RM bus Rapid Penang 204 membawa kami melintasi udara pagi menuju Bukit Bendera.

di dalam bus
Perjalanan yang kami tempuh menuju Bukit Bendera berkelok-kelok tapi semua tetap menyenangkan. Setibanya kami di gerbang masuk Bukit Bendera disambut dengan musik beat yang menggelegar. Antrian di loket tiket sudah mengular. Dengan membayar 30 RM kami dapat masuk ke kawasan Bukit Bendera dengan naik trem yang akan mendaki ketinggian dengan kemiringan nyaris 90 derajat.





Setelah masuk di gerbang awal, kami masih harus mengantri lagi untuk bisa naik trem biru nan canggih itu. Jalur rel trem bisa dibilang cukup horor, dimana trem akan menaiki rel yang sangat tinggi dan tegak lurus. Namun begitu kami tiba di stasiun tujuan trem yaitu puncak Bukit Bendera, semua ketakutan sewaktu naik trem tadi mendadak sirna.

Kalau ada istilah breathtaking scenery inilah dia pemandangan perbukitan yang begitu memukau. Segala sesuatu yang ada di Puncak Bukit Bendera begitu elok dan menyejukkan, mata juga paru-paru. Ahh lagi-lagi saya terpesona dan iri pada cara mereka mengembangkan wisatanya. Saya rasa di Indonesia banyak perbukitan secantik ini namun belum dikembangkan apalagi dipromosikan.







Tentu saja kami tak menyia-nyiakan waktu untuk berfoto-foto di tempat ini. Usai berfoto kami jalan menelusuri jalur keluar area stasiun trem dan tibalah di kantin. Aroma makanan yang harum menggelitik perut kami yang memang belum diisi. Pilihan makanannya cukup banyak. Aneka makanan tak semenggoda tampilan buah-buahan potong di tiap kios. Kami pun mencari duduk dan memesan makanan. Tak ada yang sesedap sarapan pagi di Bukit Bendera. Makan pagi berteman kesiur angin dan gemerisik dedaunan.


menggoda kaan?



Usai makan, kami naik satu lantai di atas bangunan kantin ini ada semacam teras terbuka yang terdapat tulisan LOVE kemudian kita bisa menempelkan (menguncikan) gembok-gembok cinta di pagar teralisnya. Pemandangan layaknya di Namsan Tower Korea Selatan. Gembok-gembok berwarna pink berbentuk hati beraneka ukuran dijual di sana dengan harga yang fantastis. Gembok termurah dibandrol 35 RM atau setara 70 ribu rupiah. Saya menyaksikan beberapa pasangan menguncikan gembok hati itu dengan tatapan penuh cinta seraya tak lupa menuliskan nama mereka. uuhh so sweet pokoknya. Kami bertiga yang memang jojoba cukup puas berfoto dengan tulisan LOVE dan beberapa gembok. Sayang lah uang buat beli gembok, mending buat makan mengingat kami backpacker masih akan berada di Malaysia sampai 3 hari ke depan.




Di lantai bawah kantin ada sebuah museum yang koleksinya berupa burung hantu yang dinamakan OWL Museum. Saya menemani Dinda masuk. Agak mengecewakan karena isinya yang tak seberapa.  Karena judulnya 3D museum saya pikir semuanya berupa 3D ternyata hanya beberapa, sisanya adalah boneka dan aneka pajangan berbentuk burung hantu.


Museum 3D Owl


berasa Harry Potter
Kami juga membeli kaus Penang seharga 25 RM. Bahannya senyaman kaus yang kami beli di Malaka, kalau di Indonesia kurang lebih seperti kaos-kaos distro. Bukit Bendera Penang ini memiliki banyak gardu pandang sekaligus tempat beristirahat para pendaki. Pemandangan dari tiap gardu pandang begitu memikat. Selain itu ada juga teropong besar yang bisa digunakan untuk melihat kota Penang.







Makin siang, hawa di Bukit Bendera makin terik. Saya pun jadi tertarik membeli es krim, lumayan lah sebagai penyegar penghilang panas. Tak terasa kami sudah kembali ke titik awal, stasiun trem tempat pertama kami turun tadi. Antrian pun mengular sama seperti tadi. Kami berbaris dan menunggu giliran masuk trem untuk kembali ke bawah. Kali ini saya bisa mendapat posisi di dekat kaca depan trem sehingga laju trem menuruni perbukitan dapat terlihat jelas. Mendebarkan melihat trem ini turun menukik layaknya naik roller coaster.

Dari pintu keluar wisata Bukit Bendera, bus menuju terminal Jetty sudah terparkir manis. Layaknya putri-putri yang sudah ditunggu kereta kuda dan saisnya kami bertiga naik rapid penang seanggun mungkin hehehehe. Tujuan kami selanjutnya adalah ngopi cantik di lebuh Armenian, kemarin saya lihat Coffeeshop cantik terletak persis di seberang halte bus kampung kolam.

Coffeeshop itu bernama Armenian Café. Di depan kafe cantik itu terparkir sebuah mobil van  hijau yang ditutupi rumput sintetis. Kafe itu juga sedianya dijadikan tempat berlatih yoga. Tapi kali ini saya tidak ngopi, karen tagline kafe ini adalah The Best Ice Cream in Penang. Kali ini saya pesan teh-teh buah dan es krim untuk kami bertiga. Pemilik kafe ini adalah orang asing yang menikah dengan orang Penang, ia tahu betul meracik teh buah yang dapat meluncur segar di tenggorokan kami.






Dari Kafe Armenian kami berjalan ke ujung jalan menuju jalan Masjid Kapitan Keling. Tepat di pertigaan jalan ini ada sebuah kafe Italia yang memang sudah saya perhatikan dari kemarin karena pajangan tungku pizza di depan area kafenya. Kami bertiga masuk dan terpana melihat dekorasi kafe yang bernuansa 70-80an. Wheat Connection Bakery, nama kafe ini, menjual aneka pizza dan roti-roti khas Italia. Kami memesan sup jamur dengan garlic bread, Calzone Pizza dan Dilmah tea set.




Ketika makanan datang, kami senang luar biasa. Soal rasa, benar-benar Italiano punya. Teh nya juga harum dan hangat ditambah lagi tea set itu disajikan menggunakan teko keramik cantik ala shabby chic dilengkapi tiga cangkir cantik. Saya pun mengisi buku tamu milik kafe tersebut. Boleh dong sekali-sekali meninggalkan jejak.









Keluar dari Wheat Connection Bakery kami berjalan menuju masjid Kapitan Keling menunaikan sholat. Masjid klasik ini tetap bersih dan megah di jalan utama kota ini. Kami beristirahat cukup lama di dalamnya. Rencana kami adalah berburu mural sesuai panduan peta sambil menuju arah pulang ke hotel kami di Lebuh Queen. Saya lihat cukup banyak mural yang ada di area seberang masjid Kapitan Keling ini.

Perjalanan berburu mural dimulai dari Lebuh Ah Quee, bolak balik masuk lorong-lorong di tiap lebuh. Setiap nemu mural senangnya bukan main. Di beberapa mural memang dipenuhi banyak orang yang berebut berfoto. Saking malasnya antri saya foto saja orang-orang yang berebut berfoto itu. Lucunya kumpulan orang-orang yang berburu foto ini pun dimanfaatkan oleh para penjual souvenir. Hasilnya, kami bertiga jadi membeli totebag Penang dan notes-notes kecil. Sepanjang lorong-lorong pun dipenuhi kafe-kafe kecil yang lucu ataupun jajaran toko oleh-oleh. Lagi-lagi saya salut dengan kota Penang ini, mereka mampu mengoptimalkan gambar-gambar Mural menjadi cara berwisata yang menantang dan menyenangkan, apalagi bebrapa lokasi mural itu termasuk nyempil hingga susah dicari bahkan ada beberapa yang terletak di pekarangan rumah orang.






Berburu mural di tiap Lebuh akhirnya membawa kami ke Lebuh Queen. Kami masuk hotel untuk istirahat juga mandi sore karena senja nanti kami akan main ke pantai di dekat Fort Cornwallis.

Senja menjelang saat kami berjalan menyusur Lebuh Queen hingga ujung jalan kami belok kanan dan masuk ke Lebuh King lalu berjalan terus hingga jalan besar Lebuh Light dimana Fort Cornwallis terletak di seberangnya kemudian jika berjalan lurus maka kami akan tiba di pantai.

sejauh mata memandang, pantainya sepi
Yang mengejutkan ternyata pantainya sangat sepi dan gelap. Apa karena ini bukan weekend maka pantai seperti tak berpenghuni. Angin pantai yang dingin, suasana yang mulai menyeramkan karena luar biasa sepi membuat kami tak betah berlama-lama main di pantai. Lenyap sudah bayangan makan seafood di pinggir pantai Fort Cornwallis. Kami menyempatkan mampir di medan selera yang penuh sekali tadi siang. Ada sebuah makanan yang tadi siang begitu penuh dan panjang antriannya, sayangnya saya lupa nama makanannya dan sudah googling namun belum berhasil menemukan namanya. Komposisi makanan itu seperti ketoprak ataupun kupat tahu di Indonesia karena berisi potongan lontong, tahu, kol, tauge, irisan telur dan disiram bumbu kari. Rasanya? Menurut kami sih aneh hehehe entah mengapa tadi siang antrian makanan ini begitu panjang.





Medan Selera pun sudah mulai ditutup. Orang-orang sudah menutup stall masing-masing dan merapikan kursi. Tak ada pilihan lain bagi kami selain kembali ke hotel, sementara jam baru menunjukkan pukul tujuh lebih. Kami pun menyeberang dan mampir di 711 Lebuh Light yang lagi-lagi sepi. Padahal Sevel (711) ini punya interior cantik yang klasik, kalau di Indonesia pasti sudah banyak anak nongkrong yang duduk-duduk minum slushie di sini. Kami beli beberapa camilan, roti dan kopi untuk perjalanan esok hari menuju Kuala Lumpur. Kami akan kembali ke ibukota Malaysia dengan naik kereta yang durasi perjalanannya mencapai lima jam, tentu harus sedia banyak amunisi.

Dengan langkah gamang kami menyusuri Lebuh King menuju Lebuh Queen. Malam terakhir di Penang ini agak kurang sesuai harapan. Sebelum sampai di hotel kami mampir di rumah makan Melayu India. Kami makan roti-roti prata dengan aneka kuah, dari kaldu ikan sampai kari ayam yang mereka sebut ayam ross. Kirain ayam ross itu apa taunya ayam diberi bumbu kari berwarna merah, kaya mawar kali ya maksudnya. Perut kenyang kami kembali ke hotel dan berkemas. Esok pagi-pagi sekali kami harus berangkat menuju penyeberangan Ferry. Dimana kami harus kanjut lagi naik kereta. Kami tak boleh ketinggalan kapal ferry karena kereta sudah menanti.





#30DaysWritingChallenge
#30DWCday5

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images