Inilah Kisahku Seminggu di Malaysia, 6

22.45


Kisah 6

30 Desember 2015

Pukul lima pagi kami sudah bersiap meninggalkan Penang dan segera check out. Kami berjalan menyusuri Lebuh Chulia terseok-seok memanggul ransel kami yang makin berat. Sepuluh menit berjalan kaki, kami tiba di terminal Jetty.
Menyusuri lorong menuju loket penyeberangan Ferry. Dan kami tertinggal penyeberangan pertama. Kami masih agak tenang karena menurut kalkulasi, kalau kami naik penyeberangan kedua yang akan tiba lima belas menit lagi, kami masih mampu mengejar kereta. Penyeberangan keluar Penang ini gratis karena sudah termasuk biaya masuk ke Penang yang sudah kami bayarkan dua hari lalu. Kami pun duduk santai menunggu tibanya kapal Ferry jadwal kedua.

Lima belas menit berlalu, kapal Ferry tak jua muncul. Kami mulai dilanda kepanikan, bagaimana kalau kami ketinggalan kereta? Lima menit kemudian, kapal mulai muncul dari jarak penglihatan yang cukup jauh, calon penumpang lain pun mulai resah. Untungnya tak lama kemudian kapal ferry telah merapat di dermaga, mungkin deru mesinnya dipercepat atau entah bagaimana. Tak membuang waktu kami pun langsung memasuki lambung kapal.

Merah matahari menyinari jembatan Pulau Penang serasa kontras dengan cerahnya langit. Subhanallah, lagi-lagi saya kehilangan kata-kata namun tak kehilangan ingatan untuk segera berfoto-foto mengabadikan kenangan ini. Saat Ferry merapat di dermaga Butterworth, kami pun berlari bak kesetanan karena takut ditinggal kereta.


matahari terbit



Puluhan anak tangga kami lalui hingga mengantarkan kami ke stasiun kereta. Untungnya masih tersisa waktu 10 menit sebelum kereta berangkat. Kami menukar e-ticket dengan tiket asli dan bersiap memasuki kereta yang memang sudah berada di stasiun. Saya duduk sendiri, sementara Miss Mar dengan Dinda.






Perlahan kereta melaju meninggalkan Butterworth. Walaupun dari luar kereta ini terlihat biasa saja, namun interior di dalamnya cukup rapi dan luar biasa dingin. Saya yang menggigil kedinginan mengeratkan jaket dan menutupi tubuh dengan kain bali.

Tanpa terasa perjalanan lima jam dengan kereta dari Butterworth menuju Kuala Lumpur telah kami lalui. Walaupun tadi sempat makan siang di gerbong restorasi namun entah mengapa rasa lapar tetap nyaring terdengar dari lambung kami. setibanya kami di Stasiun KL Sentral kami langsung memasuki gerai KFC yang memang tak jauh dari pintu keluar. Seperti biasa, paket nasi lemak ala KFC Malaysia menjadi menu kegemaran kami bertiga.


Usai makan, kami segera menuju LRT dengan tujuan Stasiun Masjid Jamek dimana kami akan segera masuk hotel Happy Holiday yang terletak di sampingnya. Kami tak sabar ingin segera beristirahat, merebahkan tubuh atau sekedar meluruskan kaki.

Kami bertiga langsung tergeletak begitu memasuki kamar hotel yang memang sudah booking jauh-jauh hari lewat website agoda. Setelah merapikan tas dan merasa cukup beristirahat, kami pun bersiap menuju Pasar Seni yang berdasarkan peta dapat ditempuh dengan jalan kaki selama sepuluh menit dari hotel.

Benar saja, perjalanan menuju Pasar Seni cukup mudah, kami hanya berjalan lurus melalui Leboh Ampang kemudian memasuki Medan Pasar dan sampailah kami di Pasar Seni. Seperti biasa, tiap saya ke Malaysia pasti membeli oat campur aneka rasa yang memang hanya dijual Pasar Seni. Dinda dan Miss Mar membeli cokelat dan aneka oleh-oleh lainnya.




Puas berbelanja aneka oleh-oleh, kami pun kembali ke hotel. Saat itu memang jam pulang kerja dan kami menyaksikan para eksekutif muda keluar dari gedung perkantoran. Semua nampak rupawan dan harum, apalah kami yang kucel ini.


mural di stasiun MRT Masjid Jamek
Malam harinya kami berkunjung ke kawasan terkenal di Kuala Lumpur yaitu Bukit Bintang. Tak ada mega diskon saat itu, jadi kami hanya bisa menatap sepatu Vinci dengan harga normal. Di Mall Fahrenheit terdapat sebuah factory outlet yang menjual baju dengan harga cukup murah. Letak tokonya persis satu lantai di bawah Vinci. Disana kami membeli kaus-kaus raglan seharag 50 RM untuk 3 kaus, lumayan untuk dijadikan oleh-oleh.


Selanjutnya dari Fahrenheit Mall kami berjalan lagi menuju Pavilion Mall. Mall megah di kawasan Bukit Bintang ini punya akses skywalk menuju KLCC yang terkenal dengan menara kembar Petronasnya. Jarak tempuh Pavilion Mall menuju KLCC cukup jauh, menghabiskan hampir setengah jam. Namun jarak tersebut tidak terlalu terasa karena pemandangan Kuala Lumpur malam hari terlihat sepanjang jalur skywalk.




si air mancur kembang sepatu

Setelah berjalan hamir tiga puluh menit lamanya, kami diserbu rasa lapar. segera saja kami naik ke food court. di Food Court ada bakso dan pecel ayam. horeee ... Bye bumbu kari. Tapi setelah dimakan, lagi-lagi kecewa karena rasanya masih jauh dibanding di Indonesia. usai makan, kami tuurn menuju area luar KLCC untuk menyaksikan air mancur menari. 
pecel terong dan bakso


Malam itu mata dan telinga kami dimanjakan oleh pertunjukan air mancur di pelataran KLCC. Dengan teknologi musik, tata lampu, seolah-olah air mancur bergerak meliuk mengikuti irama lagu. Pertunjukan air mancur menari berdurasi kurang lebih sepuluh menit itu terasa sangat menyenangkan. Ketika waktu makin berdentang, malam kian melarut kami pun harus segera kembali ke hotel dan beristirahat dan bersiap untuk petualangan selanjutnya esok pagi. 








You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images