Inilah Kisahku Seminggu di Malaysia, 7 Penutup

21.43


Kisah 7

31 Desember 2015

penjual nasi lemak di samping hotel.
“Waaah nasi uduk!” pekik sahabat saya Dinda. 
Kami terpana menyaksikan adanya penjual nasi uduk di samping hotel kami. Dengan sukacita kami memilih aneka gorengan dan juga nasi uduk. Terdengar norak, tapi memang kenyataannya kami sudah lelah makan makanan berbumbu kari. Kami rindu makanan Indonesia. Salah satunya sarapan nasi uduk.


Kami makan nasi uduk di kamar sambil membuat secangkir kopi untuk dinikmati beramai-ramai. Namun harapan tinggal harapan, pasalnya nasi uduk atau dikenal sebagai nasi lemak ala Malaysia ini rasanya jauh beda dibandingkan nasi uduk yang biasa di Indonesia. Sambalnya memang merah merona tapi rasanya tak ada. Kurang bumbu. Hambar.


bus ini mengantar kami ke Genting
Kami menandaskan sarapan dan segera berjalan menuju stasiun untuk naik kereta ke KL Sentral. Hari ini kami akan ke Genting Highlands. Tempat perjudian yang konon katanya seperti Las Vegas di Amerika. Perjalanan menuju Genting dari KL Sentral menghabiskan waktu kurang lebih tiga puluh menit.


barisan kereta gantung


di dalam kereta gantuung
Saat menapakkan kaki di bangunan utama sky train Genting, udara dingin dan kabut menyergap. Kami pun berbaris di antrian untuk naik kereta gantung menuju pusat hiburan Genting Highland. Dua sahabat saya menjerit takut saat kereta gantung lepas landas dan berjalan di ketinggian membelah perbukitan. Perjalan berdurasi sepuluh menit di dalam kereta gantung itu cukup mendebarkan. Sesekali kereta gantung kami menembus kabut dan seperti seolah-olah terjun membentur perbukitan.


perbukitan yang dilintasi




Sesampainya kami di Genting First World, di panggung utama sedang ada pertunjukan tarian dan nyanyian dengan nuansa Christmas. Kami berkeliling toko-toko tapi sayangnya lagi-lagi tidak diskon. Vinci, Padini pun tidak diskon sama sekali. Begitu kami masuk gerai Cotton On, di toko inilah kami bisa belanja sebab hanya toko ini yang menjual sendal model T dengan harga 6 RM, sekitar 20 ribu rupiah saja sementara di Jakarta, sendal sejenis itu dijual seharga seratus ribu rupiah.




Tak lama belanja, kami pun berjalan ke arah antrian bus yang akan membawa kami mengelilingi resor Genting ini. Karena resor ini masih dalam tahap renovasi maka tak banyak yang dapat kami kunjungi ataupun saksikan. Kami naik bus hingga Chin Swee Caves Temple.








Cuaca cerah di kuil Chin Swee, matahari bersinar walau sesekali kabut mampir dan menepi membawa hawa dingin. Di Kuil ini terkenal dengan perjalanan Journey to Enlightenment. Jalan setapak kecil menaiki perbukitan yang setiap beberapa meter terdapat relief dan patung perjalanan menuju alam kubur. Setiap patung menggambarkan siksaan yang cukup mengerikan. Karena tak tahan, sampai tempat ketiga saya sudah minta turun. Bukan karena tak sanggup menaiki jalan setapak dan bukitnya namun karena tak tahan melihat patung perempuan yang dicekik rantai di leher dengan lidah menjulur panjang. Ahh pokoknya mengerikan.


suka banget sama candidnya Dinda ini


Saat kembali ke perhentian bus tempat kami turun tadi ternyata antrian sudah cukup panjang. Kali ini cuaca sudah mulai kurang bersahabat. Area kuil dikepung kabut, tak ada pilihan lain selain segera naik ke bus dan kembali ke Genting First World. Sebelum kembali menuju antrian kereta gantung, saya sempatkan mampir ke Starbucks Genting. Saya sempat berebut Thumbler lucu khas Genting dengan seorang bule. Karena hanya tersisa satu saja, bule itu pun kalah sigap dengan saya.

Cuaca semakin dingin, jarak pandang tak lagi luas. Kami segera naik kereta gantung kembali ke Genting Grand. Sambil naik kereta gantung, saya menikmati kopi yang tadi dibeli. Kopi saya pun cepat menjadi dingin karena kereta gantung yang kami naiki pun tak mampu menghalau dinginnya kabut yang menyergap.


kopi berteman kabut

kopi yang cepat dingin
Di Genting Grand pun lagi-lagi kami beruntung, karena tak perlu lama menunggu bus yang akan membawa kami ke KL Sentral Kuala Lumpur. Perjalanan pulang kami berteman rinai gerimis seolah Genting tak rela kami tinggalkan.

Malam ini di penghujung tahun 2015, saya bertiga sahabat merayakannya di luar negeri dengan cara yang tak biasa. Kami menikmati malam pergantian tahun di antara riuh rendahnya sholawat memuja kebesaran Allah yang berkumandang di Masjid Jamek dan juga rinai hujan.









Allahuma Shobiyaan Nafiaan. Semoga hujan di malam tahun baru ini membawa berkah dan menjawab segala doa kami.

Tak ada petasan ataupun kembang api yang menyala di lapangan Masjid Jamek, hanya aktifitas relijius yang kental dan mengharu biru ke hati. Kami pun segera kembali ke hotel karena esok kami akan pulang

Penutup
1 Januari 2016

Hari ini kami akan kembali ke Indonesia, penerbangan nanti siang pukul dua belas. Usai sarapan dan check out kami segera naik MRT menuju KL Sentral kemudian lanjut naik bus yang tersedia saat itu menuju bandara KLIA 2.



ketika tas beranak pinak di situ saya merasa bingung
Di Bandara KLIA 2 ini terdapat sebuah supermarket yang buah-buahnya sedang diskon besar-besaran. Setelah urusan bagasi beres, kami bertiga langsung memborong pisang, jeruk sunkist dan lemon.

Saat kami harus masuk ke pintu perlepasan anta bangsa, saya sempat tertawa melihat buah-buahan itu masuk scanner karena terlihat bulat-bulat menggelinding. Untungnya petugas Imigressen Malaysia sedang bersahabat dan tidak banyak bertanya mengapa saya membeli banyak buah.


tas-tas kami yang menggendut

water tap di ruang tunggu

Pemberangkatan berlaku sesuai jadwal. Ketika pesawat mengudara, buah-buahan yang kami beli tadi pun kami makan, lumayan mengganjal perut daripada membeli makanan di pesawat yang mahal luar biasa.


off we go
Pesawat mendarat mulus di Soekarno Hatta pukul satu siang. Bagasi pun tak menunggu lama segera muncul di conveyor belt. Kami tak langsung menuju area Bus Damri. Tahu apa yang kami lakukan? Kami makan bakso dulu sebelum pulang. Hasil googling di bandara ini terdapat gerai bakso Afung. Kami yang sudah kangen berat dengan makanan Indonesia sampai rela berjalan putar-putar mencari gerai bakso tersebut. Dan ketika kami menemukannya rasanya gembira luar biasa. Berlebihan memang, tapi itulah yang kami rasakan. Sepertinya kami tak cocok tinggal di luar negeri, lidah kami tak mampu beradaptasi dengan makanan hambar tak kaya bumbu seperti makanan Indonesia.


Jadi sejauh apapun kaki melangkah, tetap saja saya cinta Indonesia dengan segala keunikan dan keanehannya. Tetap saja Indonesia yang paling bagus, paling cantik dan paling indah. 

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images