Kuliner Merdeka di Gang Gloria

23.25


Gang Gloria adalah sebuah gang kecil di kawasan Glodok. Dinamakan demikian karena dahulunya gang tersebut dekat dengan supermarket Gloraia. Kuliner di kawasan gang Gloria sangat terkenal, sudah lama sekali saya dan Erika ingin mengunjunginya. Kesempatan itu pun tiba jua.

Setelah upacara tujuh belas Agustus di sekolah, Saya, Erika, Fausta dan suaminya wisata kuliner di Gang Gloria. Suasana sepi sekali ketika kami tiba di kawasan Glodok, maklum saat itu libur nasional. Tujuan kami pertama dan yang utama adalah menikmati kopi di warung kopi Tak Kie yang bersejarah. Beruntung saat masuk, masih tersedia tempat duduk.



Es kopi susu menjadi pesanan utama kami berempat. Sebagai muslim, makan di Gang Gloria ini harus tanya-tanya dulu karena memang ada beberapa yang menghidangkan makanan non halal. Jika teman-teman saya makan nasi campur, maka saya memesan Locupan ayam. Locupan adalah mie yang bentuknya seperti cendol. Pangsit dan bakso gorengnya ada yang berbahan ayam atau daging babi, jadi harus tanya dulu pada penjualnya. Cakwe dan siomay yang dijual di gang ini pun tak kalah lezatnya.Kami menikmati makanan khas Gang Gloria yang terkenal dengan rasa senang.





Dengan perut kenyang, kami keluar dari Gang Gloria dan menyeberang menyusuri jalan kecil yang berupa pasar. Barang yang dijajakan di pasar itu tak kalah dari yang ada di supermarket. Aneka sayuran dan buah-buahan segar dengan kualitas baik, belum lagi aneka daging yang lengkap sekali. Makanan laut dari ikan sampai teripang pun ada. Langkah kami terhenti di sebuah klenteng.

Klenteng yang berdiri megah ini masih menyisakan sisa-sisa terbakar di beberapa sisinya. Sekilas saya jadi ingat petualangan saya mengunjungi klenteng-klenteng di Semarang. Fausta berdoa di Klenteng ini, sementara saya dan Erika berfoto-foto.






Dari Klenteng kami kembali ke jalan raya kawasan Glodok menuju Pantjoran Tea House. Dalam bayangan saya, Pantjoran tea house menjual aneka jenis teh karena saya memang sedang kangen teh bunga mawar perancis yang saya beli di Malaka, kalaupun ada di sini ya di AEON kan jauh banget. Namun akhirnya saya harus kecewa karena di Pantjoran Tea house tidak menyediakan teh yang saya mau, tapi poci teh barley yang kami minum bersama cukup enak dan harum juga.

Perjalanan kuliner kami hari itu berakhir di kota tua. Bangi Kopitiam yang mampu meredam panas di sekitar Museum fatahillah menjadi pilihan ngopi-ngopi senja hari. Ketika menjelang maghrib, kami pun pulang ke rumah masing-masing. Saya naik kereta dari Stasiun Kota, dan lumayan cepat sampai. Memang transportasi Jakarta kini lebih nyaman, aman dan jauh berkurang kemacetannya.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images