Perjalanan Mereguk Kopi, Cangkir Pertama

21.06



Jakarta - Cirebon

Pukul 5.45 pagi saya sudah memasuki area stasiun Gambar. Masih ada waktu lima belas menit sebelum kereta Cirebon Express diberangkatkan. Saya mampir sejenak ke Starbucks yang terletak di sebelah kiri pintu masuk. Setelah kopi pesanan selesai dibuat, saya langsung lari menuju eskalator dan masuk ke gerbong kereta sesuai nomor kursi.


Saat pluit kereta dibunyikan, saya sempatkan mengunggah gambar tiket dan kopi saya ke facebook. Memang rezeki, tiba-tiba teman SMA saya menghubungi karena melihat foto tersebut dan dia yang memang pernah bekerja di Cirebon jadi mengurusi akomodasi di sana, saya tinggal tahu beres. Teman saya sudah mengirimkan kenalan untuk menjemput di stasiun Cirebon dan memberikan rute mana saja yang harus saya singgahi.



Sebenarnya Cirebon bukan tujuan utama saya. Saya akan mengunjungi sahabat semasa kuliah di Majalengka, hanya singgah sebentar sambil menunggu teman yang baru bisa menjemput sore nanti.

Perjalanan selama tiga jam akhirnya mengantarkan saya di stasiun utama kota Cirebon. Sempat berfoto sebentar kemudian saya keluar dan tak lama utusan teman saya datang menjemput.


Tujuan kami yang pertama adalah Empal Krucuk yang terkenal kelezatannya. Saya memesan empal asam dan seporsi sate sapi. Soal rasa? Ga perlu dijelaskan lagi yang jelas segar dan enak banget.




Dari Empal Krucuk perjalan dilanjutkan ke Keraton Kanoman. Keraton cantik ini tersembunyi di balik keramaian Pasar Kanoman. Menuju Keraton Kanoman haruslah melewati jajaran penjual ikan asin dan ikan asap yang menggugah selera.

Keraton Cantik ini sayangnya tak terawat, padahal dominasi warna putih dan toska sangat terlihat menarik. Dalam kompleks Keraton Kanoman juga ada Museum kecil yang memuat barang peninggalan raja serta kereta kuda paksi. Suasana teduh juga creepy membuat saya kurang betah berlama-lama ada di dalam museum. Kami pun segera keluar.

Pelataran Keraton yang cantik tapi tak terawat


kereta kerajaan 

Masih di area Pasar Kanoman, di depan toko oleh-oleh Sinta ada seorang penjual tahu gejrot yang lumayan tenar. Saya memesan seporsi tahu gejrot dan satu bungkus, (penjual ini sudah membuat dalam kemasan untuk sekira 10 porsi) saya membeli sebagai oleh-oleh untuk Desi.


Di tengah teriknya matahari Cirebon, perjalanan kami lanjutkan menuju Masjid Merah dan Keraton Kasepuhan. Yang lucu, karena si penjemput saya ini masih muda dan mungil ditambah saya yang membawa ransel besar, kami bisa masuk Keraton Kasepuhan dengan tiket mahasiswa yang seharga sepuluh ribu saja. Lho saya kan mahasiswa UPI Bandung, tapi sepuluh tahun lalu heheheh.

Masjid Merah Cirebon

yup, tiket pelajar hehehe


Keraton Kasepuhan





Keraton Kasepuhan kondisinya masih lebih baik dibandingkan Keraton Kanoman. Bangunan yang bahan utama pondasinya adalah batu bata merah ini terbilang cukup asri dan terawat meski lumut tumbuh di sana sini. Museum yang berada di kompleks Keraton Kasepuhan pun lebih luas dan terawat. Saya senang berlama-lama di Kasepuhan ini .

Terik matahari di Cirebon sudah menyengat, akhirnya trip keliling kota saya akhiri dan minta diantar ke Garage Mall dimana saya akan menunggu sahabat saya Desi di Baraja Coffee sekaligus juga janjian dengan teh Imas, senior saya di kampus dulu.


vanilla afogato
risoles yummy
mengingat jaman kuliah

Memasuki kedai Baraja Coffee membuat panas terik Cirebon menguap. Saya memesan Vanilla Afogatto. Rasanya luar biasa, one shot espresso dan manisnya es krim vanilla lumer di mulut. Ga salah memang Baraja Coffee ini dijagokan oleh coffeelovers Cirebon. Oh iya, sudah jadi kebiasaan saya untuk googling atau cari hashtag di instagram tempat ngopi enak di setiap kota yang akan saya sambangi.

Saat Desi dan Teh Imas datang, kami pun saling menuntaskan rindu dan mengenang-ngenang masa kuliah dahulu. Galau? Ya iyalah hehhee. Dari baraja, kami pun pindah nongkrong ke Sega jamblang Mang Dul. Perjumpaan saya dan Teh Imas pun diakhiri di nasi Jamblang Mang Dul karena saya dan Desi akan segera ke Majalengka sebelum hari semakin sore.

nasi jamblang

senior rasa teman hehehe

Perjalanan menuju Majalengka adalah perjalanan yang menguji kesabara, bagaimana tidak, bus yang kami naiki berkecepatan sekira 20 kilometer per jam karena menunggu penumpang. Akibatnya kami baru sampai di perempatan besar jalan Kadipaten ketika adzan maghrib berkumandang. Durasi Cirebon-Majalengka yang harusnya kurang dari satu jam jadi molor tak karuan.

Sampai di rumah Desi, saya bersih-bersih dan ganti baju. Pukul tujuh malam kami berjalan menuju tempat minum kopi di Majalengka yaitu kopi apik. Malam itu teman sekantor Desi yang ternyata sekampus dengan kami pun ikut hadir dan ngopi bersama. Kopi apik ini lumayan oke juga sajian kopinya. Lokasinya pun hommy karena di teras rumah. Jam sepuluh malam acara ngopi bersama kami rampungkan.




You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images