Puisi-Puisi dari Indramayu

21.13

Kunjungan nostalgia ke masa lalu ke kota kecil Indramayu memberi oleh-oleh catatan-catatan kecil di ponsel saya yang selanjutnya saya kembangkan menjadi puisi. kebetulan saat puisi itu jadi, saya mendapatkan informasi tentang adanya lomba puisi Tjimanoek Fest. Pucuk dicinta ulam pun tiba, saya kirimkan empat puisi tentang nostalgia saya di Indramayu.


Sayangnya karya-karya saya belum mampu masuk dalam antologi penyair terbaik, tapi tak mengapa karena saya melihat beberapa nama yang saya kenal semasa kuliah dulu, baik kakak ataupun adik tingkat. turut bangga akan pencapaian mereka. Berikut dua dari empat puisi yang saya kirimkan dan paling berkesan bagi saya.





Pamayahan - Sindangkerta 1988


Pohon kersen di depan rumah berbuah merah-merah
Yayuk-Yayuk muncul datang mengetuk pintu
Meminta izin memetiknya

Duduk di atas pundak Ayah sambil tertawa riang
Jemari kecilku susah payah menggapai buah jamblang
Jamblang telah terkumpul sekeranjang
Tepat ketika Bunda menjelang
Usai kursus menjahit di rumah Yuk Endang

Ayah mengajariku mencinta alam Indramayu
Mencari aneka jamur diantara rimbunnya pepohonan pisang
Atau pergi ke sungai menjaring ikan-ikan kecil
Yang terkadang berhadiah udang

Dengan Bunda pun sama menyenangkan
Pasar Bangkir menjadi tujuan utama setiap hari Jumat
Setelah belanja berakhir
Kujinjing martabak di depan toko obat
Hadiah kesabaranku tak merengek minta dibelikan baju

Tiap akhir pekan kami sempatkan waktu
Menonton film di bioskop Bangkir
Menghibur diri menghilangkan penat
Menyaksikan film yang lucu sambil bergelar tikar
Atau duduk di kursi terbuat dari semen dan batu
Berteman kacang rebus juga ubi kayu


Jika Bundaku tidak memasak
Maka warung Bi Casih menjelma Dewi penyelamat kelaparan
Ikan goreng berbalut bumbu
Santapan mewah pada saat itu

Rumbah semanggi, peyek udang, tutut hingga kepiting ketam
Rupanya terlalu banyak jika kusebut satu persatu
Lalu tempaan alam dalam keterbatasan dan kesederhanaan Indramayu
Bagian terindah dalam jalan kehidupanku

Indramayu, September 2016



Belajar Membaca

“B - A.”
“Ba”
“J - U”
“ Ju”
Dibaca?
Klambi ... Seru para petani
Lalu kudengar suara Ayahku menahan gelak tawa
“Lah kok klambi?” tanya beliau
Gambare klambi Pak guru” jawab lantang seorang ibu tani

Di sisi pintu aku berdiri mengulum senyum
Menyaksikan para petani belajar membaca
Kata ayah ia ingin memberantas buta aksara
Agar petani di Pamayahan dapat membaca buku
Bersama anak-anaknya
Cita-cita sederhana namun sungguh mulia rasanya
Setiap acara belajar membaca selesai
Maka rumahku dipenuhi aneka buah tangan
Ada mangga, pepaya, jambu, pisang bahkan beras juga ikan
Kata Bunda, ia jarang sekali membeli buah
Namun di rumahku aneka buah selalu tersedia

Pada hari minggu pagi berikutnya
Belasan orang petani sudah muncul di halaman rumah
Jumlah mereka semakin bertambah
Betapa bahagia Ayahku dibuatnya

Mereka menggotong papan tulis kecil
Untuk Ayah menulis aksara
Lalu seorang Pak tani membawakan kapur-kapur
Karena ia tahu bahwa persediaan kapur di rumah kami makin menipis
Akibat ulahku yang melukis di dapur dengan kapur

Lalu Ayahku menulis beberapa aksara
Sambil menggambar topi yang lucu
Para petani sigap duduk dan memperhatikan
Layaknya siswa sekolah dasar
Kudengar ayahku berseru
“Ayo bapak-bapak, ibu-ibu kita baca.”

“ T - O, To” seru para petani serentak
“P - I, Pi” kali ini suara mereka lantang
“Dibacanya ...?” seru Ayahku
Kemudian dengan kompaknya mereka berseru
Cotom .....
Tak tahan aku terpingkal-pingkal dibuatnya


Sama seperti minggu lalu, seorang pak Tani berdiri dan berseru
Lah kan gambare cotom Pak guru”
Ayahku mengernyitkan dahi seraya menggedikkan bahu
Lalu dengan lincah jemarinya menuliskan kembali aksara baru
Kali ini tak ada gambar pada papan tulis hitam
Pak Tani yang tadi berdiri kemudian bersuara
Ora ana gambare Pak Guru”

Jakarta, Oktober 2016


You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images