Satrasia 01 Reunion

22.14


Sepuluh tahun sudah kami tak bertatap muka. Sepuluh tahun sudah kami tak saling bercanda seperti jaman kuliah dahulu. Sehingga ketika tercetus usul reuni maka kami bersemangat sekali. Teman-teman yang di Bandung bersedia menjadi panitia, sementara yang di luar kota cukup hadir membawa diri dan keluarganya bagi yang sudah berkeluarga.

Sabtu 28 Mei 2016 subuh. saya merapatkan jaket menuju mushola. Dingin dan masih mengantuk. Kereta menuju Bandung yang telah saya kantongi tiketnya akan berangkat pukul lima pagi ini. Usai sholat shubuh dan membeli air mineral, saya dan Kang Opik berlari menuju kereta api yang akan segera berangkat.

Perjalanan selama tiga jam berlalu tanpa kami sadari karena keasikan berbagi cerita. Padahal kami sama-sama di Jakarta, namun hampir lima tahun sudah kami tak bertemu. Langit sedikit mendung saat kami melangkah keluar stasiun Hall Bandung.

Kami berjalan menyusuri bangunan-bangunan kuno menuju kebon karet, rencananya kami akan mampir sarapan lontong kari yang terkenal itu. Lontong kari berada di sebuah gang kecil, memiliki dua bangunan kecil yang menempel ke dinding jalan. Satu porsi lontong kari dihargai sebesar dua puluh ribu rupiah. Rasanya biasa, seperti lontong opor, bahkan menurut saya masih lebih enak lontong kari di gang bapak Eni, samping kos Popo Iskandar nan harum menggoda perut-perut mahasiswa UPI yang lapar.


lontong kari Kebon Karet
 Perut kami kenyang terisi, kemudian kami berjalan lagi menyusuri jalan Kebon Kawung menuju jalan Braga. Persis di pertigaan jalan Braga ternyata terdapat toko buku kuno, kami mampir dan menemukan buku-buku sastra di dalamnya.



Kemudian kami menyusuri sepanjang jalan Braga hingga sampai di Chez Bon tempat kami bermalam. Sebuah penginapan dormitory ala Singapore. Saya dan Kang Opik berada di dormitory yang terpisah. Setelah menyimpan tas di locker, kami keluar sambil membawa yang penting-penting saja. Tujuan kami kali ini menyusuri jalan Braga, Asia Afrika, Alun-alun dan belanja sambil mengenang belanja-belanja di eks area Kings Shopping Centre.






Kang Opik membeli kacamata hitam dan saya membeli kado. Sudah menjadi peraturan panitia bahwa kami harus bawa kado sebesar dua puluh lima ribu rupiah dan membawa kacamata hitam. USai belanja, kami menyusuri jalan Dewi Sartika untuk naik angkot legendaris, angkot hijau kecintaan para mahasiswa UPI, angkot Kalapa-Ledeng. Dengan noraknya kami pun berfoto-foto di dalam angkot tersebut.


Saat angkot merapat di gerbang kampus UPI bagian atas, Bank BNI kami pun turun. Sedikit berjalan kaki menikmati perubahan kampus yang begitu pesan. Semuanya menjadi begitu metropolis, kesan sederhana kampus UPI yang dulu akrab bagi kami seolah hilang.

Teriakan kangen bersahutan saat kami memasuki gedung GSPI tempat reuni kami. saat itu pukul dua siang, belum banyak teman-teman yang datang apalagi yang dari luar kota. Mala, Mumu, Dimas dan Widya yang menjadi panitia segera memberikan kami seragam reuni. Setelah berganti, kami berfoto di depan backdrop yang sudah dipasang di halaman depan.


Duh, tak sabar menunggu yang lain datang, kangen tak terkira. Rindu yang tersulur sulur memandikan hati dengan kenangan. Syahdu wangi Bumi Siliwangi, Utara Bandung Raya seolah terdengar dari balik kemerisik dedaunan. Aku rindu

BERSAMBUNG

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images